Menjejak Kaki di Benua Etam

Kalimantan merupakan salah satu terbesar di dunia dan di Indonesia. Dengan segala kekayaan alam dan budaya yang dimilikinya, menjadikan Kalimantan memiliki keunikan sendiri yang berbeda dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Hingga saat ini kekayaan alam dan budaya itu masih terus bertahan ditengah arus globalisasi dan serangan budaya barat yang menengadah di seantero dunia lewat dunia maya.

Kalimantan dengan segala rahasia didalamnya, telah menyimpan berbagai keindahan budaya dan kearifan lokal yang belum banyak tersentuh banyak orang. Dengan ribuan suku bangsa asli dan suku bangsa pendatang yang menetap di pulau ini, mengasimilasi dan mengakulturasi antar budayanya. Hasilnya, ada banyak kota-kota di Kalimantan yang memiliki budaya baru yang merupakan perpaduan suku-suku yang tinggal di kota itu.

Mari berbicara tentang hal lainnya. Keindahan alam Kalimantan juga tidak kalah dengan daerah Indonesia lainnya. Dengan naungan hutan hujan tropis yang mengelilingi pinggir dan tengah pulaunya, menjadikan Kalimantan kaya akan flora dan fauna didalamnya. Barangkali jika Anda pernah mendengar Anggrek Hitam? Beruang Madu? Ikan Pesut? Burung Enggang? Orang Utan? Beberapa spesies itu berasal dari tanah Kalimantan kebanyakan. Mereka ada dan hadir di tanah yang kerap disebut dengan istilah “Borneo” ini.

Menjejak Kaki di Benua Etam, adalah sebuah perjalanan untuk mengenal keindahan, kearifan, kekayaan Pulau Kalimantan, yang sering disebut oleh kaum dayak sebagai “Benua Etam”. Didalamnya tersirat sebuah makna tentang bagaimana menghargai sebuah perbedaan, bagaimana memahami toleransi, dan bagaimana mengartikan sebuah menjaga budaya. Dan yang terpenting pula, didalamnya juga tersimpan sebuah amanah Tuhan untuk berjalan dimuka bumi  untuk mengambil pelajaran dari alam sembari terus mengingat dan bertasbih pada-Nya.

Epilog ini saya tulis sebagai titik awal saya, untuk menguatkan diri merealisasikannya, agar saya bisa berkhidmat dilangit teduh kota minyak, mengunjungi eksotisme mahakam, berdamai dengan ketenangan sungai di pasar apung, dan merakyat bersama masyarakat dayak sampit. Empat kota Kalimantan ini akan direncanakan untuk dikunjungi pasca beberapa hari setelah lebaran 1431 H. Mudah-mudahan perjalanan menjejak kaki di Benua Etam ini berjalan sukses dan dinaungi oleh Tuhan semesta alam.

Dan satu lagi yang tak terlupa, perjalanan ini juga menjadi kesempatan saya untuk merenung dan memutuskan suatu hal. Bismillah…..

Ramadhan, 1431 H

Ryan Alfian Noor

3 thoughts on “Menjejak Kaki di Benua Etam

  1. wah, pas banget tadi googling “benua etam”, eh, ketemu blognya ka Ryan di list yang pertama. blognya keren ka😀 anyway, sebetulnya arti benua / bumi etam itu apa ya kak? kenapa Kalimantan disebut dengan benua / bumi etam?

    1. Hehe..Terima kasih..
      Banua Etam itu adalah bahasa kalimantan.

      kata “Benua” berasal kata yang berasal dari melayu banjar yang diartikan sebuah teritorial/kumpulan kampung saat kesultanan Banjar masih ada. Sejalan dengan waktu, akhirnya kata ini meluas keberbagai pelosok kalimantan dan menjadi bahasa bersama untuk mengistilahkan sebuah tempat yang besar.

      Nah kalau etam adalah makna dari kata “saya” yang berasal dari dayak kutai.

      Jadi “benua etam” itu istilah “khas” buat menyebut Kalimantan Timur deh, Vin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s