Transformasi Pengembangan Karakter Mahasiswa ITB (Bagian 1)

Jika menilik dari sejarahnya, ITB sering dielu-elukan menjadi kampus perjuangan. Dan hal ini, tentu tidak akan pernah lepas dari campur tangan stakeholders kampus yang ada di dalamnya, termasuk mahasiswa. Sebelum era reformasi, “mahasiswa” (termasuk mahasiswa ITB didalamnya) dikenal sebagai seorang muda yang memiliki andil nyata bagi masyarakat sekitarnya. Kita dapat menyorotinya dari gerak-gerik mereka yang langsung dirasakan kebermanfaatannya bagi masyarakat dan gerakan mereka yang mengatasnamakan rakyat untuk mengkritisi pemerintah. Dari kedekatan masyarakat dan peningkatan nalar kritis inilah yang memacu mahasiswa menjadi insan akademik yang utuh, disamping kegiatan kulikuler dan kokulikuler kampusnya. Semua hal ini didukung oleh proses kaderisasi kemahasiswaan yang baik sehingga juga dapat membentuk karakter mahasiswa yang baik.

Namun seiring berjalannya waktu -atau lebih tepatnya pasca reformasi- keguncangan dunia kemahasiswaan mulai terjadi. Dalam lingkup kemahasiswaan Indonesia secara umum, gerakan mahasiswa mulai kehilangan posisi kehilangan dominasinya dalam melakukan advokasi kebijakan publik, karena pers dan media massa mulai mengambil alih permainan. Pun demikian dengan orientasi gerakan mahasiswa. Kalau dulu gerakan mereka memiliki orientasi yang sangat jelas untuk menumbangkan rezim kepemimpinan Indonesia dizamannya, kini gerakan mahasiswa terkesan kelimpungan mencari momentum bersama untuk dijadikan acuan orientasi gerak. Akibatnya proses kaderisasi pun terkena imbasnya juga. Kegiatan kaderisasi yang semula ditujukan untuk pemenuhan orientasi gerakan mahasiswa bersama saat itu, kini telah berubah. Berbagai tantangan global, nasional, dan internal kampus yang semakin kompleks mengharuskan setiap gerakan mahasiswa untuk berbenah diri, termasuk ITB.

Di internal ITB pun mengalami berbagai macam  transformasi. ITB yang semula PTN berganti wujud menjadi BHMN. Kondisi yang paling nyata dari kenyataan ini adalah terbentuknya 8 fakultas dan 4 sekolah. Selain itu, mahasiswa baru ITB diterima sebagai mahasiswa fakultas/sekolah. Dua keadaan ini menyebabkan kaderisasi mahasiswa baru menjadi setengah-setengah, karena sudah berada di dalam fakultas, tetapi sebagian besar organisasi mahasiswa berada di tingkat program studi.

Diluar hal itu, tumbuh sebuah sisi positif lain, yaitu munculnya berbagai komunitas baru: Kelompok Keahlian di masing-masing fakultas yang berada langsung di bawah pimpinan dekan fakultas. Laboratorium-laboratorium dan studio-studio kini tidak lagi berada di bawah program studi, melainkan terintegrasi antar program studi menjadi sebuah Kelompok Keahlian. Hipotesisnya adalah, KK menjelma menjadi kekuatan keprofesian yang baru, setelah zaman dominasi program studi.

Dalam tingkatan kegiatan kokulikulernya, semangat aktivitas keprofesian himpunan mulai terlihat dengan untuk menunjukan prestasi karyanya lewat berbagai kegiatan kontes atau lomba yang sesuai dengan kompetensi mereka. Hal ini juga didukung dengan terbentuknya komunitas independen yang bernama Inkubator Ide dan Inovasi Mahasiswa (I3M) sebagai wadah untuk menampung ide dan inovasi untuk selanjutnya direalisasikan.

Pertumbuhan jumlah gerakan pengabdian masyarakat mahasiswa ITB juga tidak bisa dianggap isapan jempol belaka. Ada semakin banyak himpunan prodi mahasiswa ITB yang melakukan kegiatan pengembangan komunitas baik sesuai dengan kompetensi inti prodi mereka ataupun diluar itu. Tidak sedikit pula dari berbagai himpunan tadi mengkolaborasikan kegiatan pengmas-nya agar lebih optimal. Kegiatan pengmas ITB hari ini telah menjadi inspirasi bagi kampus-kampus lainnya, sehingga ITB kini diamanahkan sebagai koordinator pusat Gerakan Mahasiswa Pengabdi Masyarakat Indonesia (GMPMI) untuk menginspirasi kampus-kampus lainnya di Indonesia untuk memulai gerakan pengembangan komunitas di sekitar kampusnya.

Yang tidak kalah pentingnya lagi, kini kegiatan kewirausahaan di kampus ITB pun semakin menggeliat. Semakin meningkatnya kesadaran mahasiswa untuk berwirausaha yang diiringi dengan propaganda ‘provokasi’ yang baik dari KM ITB, menjadikan gerakan kewirausahaan mahasiswa menjadi gerakan menjanjikan yang dapat dikembangkan oleh segenap mahasiswa ITB menyongsong tantangan bangsa di masa depan.

Berangkat dari pelbagai analisis kondisi yang telah tersebutkan tadi, kini dapat diambil sebuah benang merah, bahwasanya mahasiswa ITB sebenarnya memiliki posisi, potensi, dan peran yang sangat besar untuk membangun kemandirian bangsanya. Tinggal bagaimana semangat berkarya, berwirausaha dan mengabdi masyarakat mahasiswa ITB dapat terbingkai dalam proses kaderisasi yang baik sesuai dengan amanah RUK KM ITB dan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.

Untuk itulah, proses pengembangan karakter mahasiswa ITB harus benar-benar menjadi sebuah pembiasaan (budaya/culture) dan integral. Maksud ‘pembiasaan’ disini adalah, sebuah proses kaderisasi yang dijalankan terus-menerus dan ‘integral’ disini maksudnya adalah didukung oleh semua elemen KM ITB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s