Pelajaran di Film Wall Street: Money Never Sleep

Ada macam-macam pelajaran dari sebuah film (movie). Dan tadi malam saya baru saja menonton film Wall Street: Money Never Sleep dan banyak sekali pembelajaran didalamnya. Film ini berkisah tentang kehidupan seorang pemuda yang berkarir sebagai pialang saham serta kehidupannya sehari-hari di Wall Street. Tulisan ini bukan menguak sinopsis dari film tersebut alih-alih sebuah pembelajaran implisit bagi saya pribadi setelah menontonnya.

Jauh sebelum menonton film ini, sebenarnya kata-kata seperti “bursa saham”, “investasi”, “ABS”, “kredit modal” merupakan beberapa istilah yang pernah saya tahu ketika saya membaca beberapa buku finansial. Namun setelah saya menonton film ini, saya semakin mengerti mengapa Waren Buffet bisa menjadi orang terkaya di dunia ini, mengapa kekayaan Abu Rizal Bakrie begitu melimpah-ruah hingga nanti tujuh turunannya, mengapa Kiyosaki menaruh profesi ‘Investor’ sebagai profesi urutan terakhir didalam buku Cash Flow Quadrant.

Film ini juga membuka rasio saya tentang cara pikir orang-orang yang mengatur ekonomi dunia, berharganya waktu, dan berbahayanya meramal atau berspekulasi. Wah, pokoknya pas deh untuk saya. Karena si tokoh utama memiliki concern yang sangat besar terhadap energi alternatif lewat saham yang dia kumpulkan bersama istrinya. Walaupun beberapa orang keluar bioskop lantaran tidak mengerti ceritanya, saya masih bersikukuh menonton film ini hingga berakhir. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya sangat tertarik.

Satu yang terpenting dan terutama telah saya dapatkan adalah mindset orang-orang yang kini menggenggam roda ekonomi dunia. Ekonomi satu negara dapat di seok-seokan oleh satu titah dari investor. Satu perusahaan yang telah bertahan beratus-ratus tahun dapat luluh lantak dengan strategi mereka. Sungguh luar biasa. Saya jadi berpikir, kalau memang orang islam mau bangkit dan menegakkan khalifah di bumi ini, maka mereka harus memiliki kekuasaan (power). Dan kekuasaan sangat dekat dengan hajat hidup orang banyak. Maka silogisme yang bisa didapatkan adalah islam harus bisa menjadi solusi ekonomi bagi permasalahan umat saat ini. Ya, mungkin solusi hemat yang bisa saya berikan adalah harus ada banyak orang islam kaya untuk dapat merebut perekonomian dunia saat ini yang kebanyakan dikuasai oleh kaum liberalis ataupun ideologis lain. Baiklah, setelah saya menonton film tersebut ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan.

Setiap investor tidak pernah berpikir masa kini saja atau masa depan saja. Mereka melakukan keduanya. Mereka selalu berpikir aluris untuk menjawab pertanyaan bagaimana kelangsungan kekayaannya tetap bertahan dari generasi dia ke generasi setelah dia.  Hal ini sangat kontradiktif dengan kehidupan manusia kebanyakan yang selalu suka berfoya-foya menghabiskan semua uangnya dalam satu siklus kehidupannya. Ibarat jika memiliki uang miliaran rupiah, maka uang itu harus habis sejalan habisnya umur mereka.

Hal ini terindikasi dengan pengamatan saya di negara-negara berkembang, termasuk negara saya sendiri: Indonesia. Betapa banyak mereka yang terlalu mengedepankan sebuah trend, fashion, mode sebagai ukuran taraf hidup mereka. Hal yang paling sederhana yang bisa saya contohkan adalah penggunaan handphone. Perkembangan dunia handphone sungguh cepat. Dalam ukuran 1 tahun, berbagai vendor handphone mengeluarkan model baru untuk memikat para konsumen untuk mengganti handphone-nya dengan model terkini. Mereka berusaha sekeras mungkin untuk mengganti handphone terbaru. Dalih mereka adalah agar tidak ketinggalan zaman.

Sebenarnya kehidupan investor tidak jauh-jauh juga seperti itu. Namun, yang menjadi pemikiran utama mereka adalah bagaimana uang yang mereka tetap bisa berputar menghasilkan uang lagi. Jadi ketika ditawarkan sejumlah fasilitas mewah saat ini atau sejumlah ide bisnis/usaha masa depan yang menjanjikan, maka sudah pasti investor selalu memilih yang kedua. Hal ini pasti tidak akan dimiliki oleh orang yang tidak memiliki paradigma berinvestasi.

Namun yang buruk dari investor adalah sebuah ketamakan. Bahkan tak jarang dalam dunia investor dikenal sebuah istilah “Greed is Good” (Rakus itu baik). Hal ini sering terjadi pada dunia saham seperti yang ada di film tadi. Namun hal ini jarang terjadi pada dunia investasi real karena jenis usaha yang dikembangkan nyata dan uangnya pun nyata.

Perbuatan manusia berparadigma investor pun agak berbeda dengan manusia berparadigma biasa. Kata “risiko” sangat mungkin menimbulkan “semangat” baginya. Ia akan selalu ingat slogan yang menyatakan “high risk, high income“. Mata fisik dan mata hatinya senantiasa akan mencari dan menemukan “peluang investasi” yang menguntungkannya. Selaku seorang investor, jika dia ingin kaya, dia akan berbuat agar uangnya bekerja untuk dirinya, bukan dia yang bekerja untuk uang. Tipe kebanyakan mereka adalah seorang pemimpi. Bagaimana ia bisa menggariskan masa depan lewat kecerdasan merekayasa masa kini.

Pada akhirnya, saya mendapatkan sebuah kesimpulan akhir bahwa benarlah paradigma investor patut dimiliki oleh seorang yang kaya raya. Bagi beberapa orang, mungkin menjadi kaya adalah sebuah tujuan akhir. Tetapi bagi saya, kaya merupakan sarana yang sangat potensial untuk membangun aset-aset bangsa ini. Membangun paradigma investor bukanlah semudah membalik telapak tangan. Tidak cukup dengan membaca teori buku saja atau meniru kesuksesan investor sebelumnya saja. Paradigma investor harus dikuatkan dengan sebuah ilmu yang terkurikulum dengan rapi. Makanya tak heran para investor kelas dunia memiliki background pendidikan yang tidak sedikit juga.  Saya meyakini paradigma investor itu terbangun dari pilar ilmu ekonomi, politik praktis, seni manajemen, dan rekayasa teknik.

Terakhir, setelah pulang menonton film tadi, tiba-tiba ada saja terceletuk bisikan hati saya, “kenapa tidak kau coba menjadi investor suatu hari nanti?”. Saya hanya tersenyum-senyum saja sendiri. Mudah-mudahan saja saya bisa menjadi investor untuk membangun aset-aset negeri ini. Terlepas profesi saya sebelumnya sebagai seorang karyawan, birokrat, atau pebisnis.

    10 thoughts on “Pelajaran di Film Wall Street: Money Never Sleep

    1. kita harus merubah mindset kita dari sekarang kalau mau jadi orang kaya…intinya kita harus berinvestasi dan hidup hemat…

    2. kalo Aa Gym bilang, selain kaya batin…kita juga harus kaya harta…agar bisa lebih dermawan..semoga apapun kekayaan yang kita miliki di dunia dapat menjadi penambah amal kebaikan..

    3. sebaiknya sebelum terjun ke dunia bisnis sebagai seorang muslim haruslah mengetahui tentang riba… dan hukum riba sangatlah rumit… dan hukum ekonomi modeRn tidak dapat membedakan mana yang riba dan mana yang bukan

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s