Membangunkan Macan Asia Yang Kini Tertidur Pulas

Jika menukil sejarah persepakbolaan Indonesia berpuluh-puluh tahun yang silam, sebenarnya Indonesia memiliki sejarah yang cukup gemilang dalam ajang piala dunia. Indonesia merupakan bagian dari perlehatan bergengsi dan berkelas itu, dengan nama Hindia-Belanda di tahun 1938. Disana, Indonesia tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke Piala Dunia. Dengan campuran pemain Belanda, Jawa, Ambon, Tionghoa dan pribumi lainnya, tim ini menggoreskan sebuah semangat sejarah yang tak mungkin dilupakan oleh bangsa Indonesia saat ini.

Sejalan dengan waktu, persepakbolaan Indonesia semakin berkembang. Tercatat pada tahun 1950-an, Indonesia mencatat prestasi di kancah ASEAN GAMES, Olimpiade, dan kualifikasi Piala Dunia. Hegemoni sepakbola Indonesia mulai beralih ke kawasan Asia Tenggara pada tahun 1970-an pada turnamen antarnegara dan SEA Games. Mulai dari sinilah gelar “Macan Asia” disemat oleh Indonesia karena berbagai prestasinya yang semakin menukik.

Namun tampaknya prestasi tim sepakbola Indonesia mulai mandek semenjak memenangi medali emas SEA Games 1991. Bisa dikatakan, itulah prestasi tertinggi yang diraih Merah-Putih hingga detik ini. Peringkat Indonesia di daftar Asosiasi Federasi Sepak Bola Internasional pun juga semakin jeblok. Jika ditilik dalam satu tahun terakhir, Indonesia berada pada posisi ke-135 pada tahun 2010. Posisi ini turun jauh dibandingkan tahun 2003, dimana Indonesia ada di posisi ke-91. Maka pantaslah jika Indonesia kini disebut sebagai Macan Asia yang tertidur.

“Sebenarnya permasalahan apa yang terjadi pada dunia persepakbolaan Indonesia?” Tentu ini menjadi pertanyaan yang hinggap di benak ratusan juta bangsa ini. Jika dipilah-pilah, setidaknya ada beberapa hal reformatif yang bisa dilakukan bangsa ini jika menginginkan tim sepakbola yang kompetitif.

Yang pertama adalah pembinaan tim sepak bola Indonesia usia muda yang berkelanjutan, seperti halnya Australia dan Jepang yang notabene telah masuk alam ajang piala dunia. Sampai saat ini belum ada arah yang jelas arah pembinaannya. Hal ini terlihat jelas dengan pengadaan ajang kompetisi yang cenderung apa adanya dan tidak profesional. Padahal sudah jelas bahwa persoalan mendasar dari tim junior Indonesia adalah teknik dasar yang masih lemah.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah merealisasikan pemusatan latihan bertaraf international di dalam negeri. Sebenarnya hal ini sangat memungkinkan dilakukan Indonesia mengingat negeri ini seringkali menginvestasikan jutaan dolarnya untuk mengirimkan sebuah timnas untuk belajar dan berlatih ke luar negeri 2 sampai 4 tahun. Dengan adanya akademi latihan yang lengkap ini, kontinuitas peningkatan kualitas pemain  dapat terus terjaga dari generasi ke generasi.

Hal reformatif berikutnya adalah meningkatkan iklim bisnis Indonesia yang menjangkau sepakbola. Di Indonesia, sepakbola belum dianggap sebagai lahan industri yang bisa menghasilkan keuntungan besar. Padahal dengan hadirnya sepakbola menjadi industri besar di Indonesia, akan menjadikan posisi tawar persepakbolaan Indonesia di mata Asia Football Confederation (AFC) meningkat. Dengan demikian, peluang klub Indonesia bermain di ajang Liga Champion Asia akan semakin lebar. Tentu hal ini akan meningkatkan performa dan kualitas pemain-pemain Indonesia agar lebih kompetitif.

Hal reformatif terakhir yang harus dilakukan adalah organisasi yang memegang kuasa penuh atas perkembangan dunia persepakbolaan Indonesia. Hal ini harus dilakukan mengingat masih banyaknya jajaran pengurus pusat dan daerah PSSI yang memegang jabatan ganda di klub masing-masing. Tak jarang, konflik kepentingan muncul mewarnai organisasi tersebut disaat prestasi sepakbola Indonesia sangat merosot. Padahal untuk membentuk tim sepakbola kompetitif juga diperlukan organisasi yang sehat dengan pengurus yang bersih dan profesional.

Memang semua hal reformatif bukan semudah membalik telapak tangan. Perlu jangka waktu yang panjang dan dukungan penuh semua pihak, jika memang bangsa ini mau menyabet kembali gelar “Macan Asia” yang hilang,

Oleh:

Ryan Alfian Noor

Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB 2006

*Tulisan ini pernah nangkring di Harian Seputar Indonesia pada hari Rabu 13 Oktober 2010

One thought on “Membangunkan Macan Asia Yang Kini Tertidur Pulas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s