Sebuah Pengantar Buku Membumikan Dakwah Kampus: Drs. Musholi

Assalamu’alaikum wr wb

Tak terasa, sekarang sudah tahun 2010. Teringat dulu saat-saat indah bersama sahabat seperjuangan di Masjid Arif Rahman Hakin (ARH) UI saat kampus UI masih berlokasi di Salemba dan Rawamangun. Walau tak semeriah sekarang, saya bisa jamin bahwa semangat dan pengorbanan kami berdakwah di Kampus tidak kalah dahsyat gemuruhnya dengan para aktivis Dakwah Kampus hari ini. Salah satu buahnya, seorang teman dekat saya yang dulu rajin dan telaten mengurusi perpustakaan Masjid ARH, saat ini mendapatkan kepercayaan sebagai MENRISTEK RI. Ya, dialah Ir. Suharna Surapranata, MT, sahabat, guru dan teman sejati saya saat kami sama-sama berjuang mensyiarkan Islam di Masjid ARH UI.

Pada masa itu pula, sekitar tahun 1978, gerakan Dakwah Kampus di Indonesia tengah memasuki sebuah babak baru. Di tengah-tengah tekanan kebijakan NKK/BKK rezim Orde Baru, geliat Dakwah Kampus diam-diam menelurkan benih-benihnya. Salah satu tokoh ternamanya yang tak akan pernah saya lupa seumur hidup saya adalah Bang Imad (Muhammad Imaduddin Abdulrahim). Beliaulah yang menggelorakan ajaran Tauhid melalui kuliah umumnya di kampus ITB. Beliau pula yang merancang dan menyelenggarakan Pelatihan Mujahid Dakwah untuk para aktivis Islam khususnya mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Bersyukur bahwa saya adalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang mendapatkan curahan ilmu, semangat dan keberanian dari Bang  Imad (Allahu yarham).

Dakwah Kampus hari ini tentulah tidak sama dengan Dakwah Kampus di zaman Bang Imad atau di zaman saya sendiri. Maksud saya di sini adalah metode dan strategi pengelolaannya. Ini tentu tidak berlaku untuk bagian isi dan prinsip-prinsipnya, karena sejak Islam dituntaskan ajarannya di zaman Rasulullah, tujuan dakwah tetaplah sama;

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Yusuf: 108)

Prinsip-prinsip dalam berdakwah pun hakikatnya juga tidak berubah. Kita mengenal adanya fiqh adda’wah, sebuah kajian yang menjadi tema tersendiri yang menjelaskan bagaimana seruan Islam di-syi’ar-kan ke penjuru semesta dengan prinsip-prinsip sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW berdakwah di Mekkah dan Madinah 14 abad silam. Bagaimana kita berdakwah hari ini, tentu saja tidak boleh keluar dari prinsip-prinsip fiqh adda’wah tersebut.

Namun, kita juga harus memahami akan adanya prinsip atstsawabit wal mutaghayyirat dalam Islam. Ada hal yang tetap dan ada hal yang berubah dalam pengambilan hukum syari’at Islam. Kondisi zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu tentu saja tidak boleh menjadikan kader dakwah ketinggalan zaman. Era teknologi informasi dan globalisasi saat ini harus dihadapi dengan gagah berani dan penuh percaya diri. Selain itu setiap kader dakwah harus yakin bahwa Islam senantiasa akan memberikan jawaban terbaik atas segala problematika manusia di dunia hingga akhir zaman. Keseimbangan dalam memegang prinsip yang tetap (ats-tsawabit) dan yang berubah (al mutaghayyirat) itulah yang harus senantiasa dijaga.

Hal ini berlaku bagi setiap aktivis Dakwah di segala zaman dan tempat termasuk di dalamnya, para Aktivis Dakwah Kampus. Alhamdulillah, saat ini Dakwah Kampus telah tersebar ke seluruh pelosok negri ini. Sudah ada Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) yang baru saja menghelat pertemuan akbarnya di Maluku beberapa bulan yang lalu. Tidak kurang dari 600 Lembaga Dakwah Kampus (LDK) hadir di sana. Sebuah perkembangan yang membanggakan jika dibandingkan saat saya masih kuliah menjadi aktivis Masjid ARH UI 30-an tahun yang lalu.

Kini di tangan saya, tergenggam sebuah buku yang ditulis oleh seorang mahasiswa dari kampus yang sama dengan Bang Imad yang saya hormati dan kagumi kiprahnya dalam Dakwah Kampus. Ditambah lagi sang penulis pernah menjadi “anak didik” saya selama 2 tahun berturut-turut (2008 – 2010) di Asrama Mahasiswa PPSDMS Nurul Fikri angkatan IV Regional 2 Bandung. Penulis buku ini, Ryan Alfian Noor, pernah beberapa kali menjadi peserta terbaik diantara 159 peserta PPSDMS lainnya pada suatu mekanisme penilaian yang rutin kami jalankan. Bangga sekaligus terharu hati ini. Semangat yang tak kunjung padam berkontribusi demi perbaikan Dakwah Kampus akhirnya terwariskan juga.

Dalam buku ini, kita bisa mendapatkan banyak inspirasi pengelolaan Lembaga Dakwah Kampus kontemporer. Disertai dengan referensi-referensi yang up to date tentang manajemen organisasi dari berbagai macam pakarnya. Menempatkan prinsip-prinsip Dakwah Kampus agar sesuai dengan konteks kekinian dan “kedisinian”. Memberikan petunjuk taktis agar Lembaga Dakwah Kampus dikelola secara amanah dan profesional. Bukan sekedar menjalankan agenda rutin tahunan dengan cara-cara yang usang dan ketinggalan zaman.

Harapan saya, semoga buku ini dapat menjaga nyala api semangat para Aktivis Dakwah Kampus di seluruh Indonesia. Senatiasa dikaji dan terus dikembangkan untuk menjadikan Lembaga Dakwah Kampus berdiri kokoh dan terdepan dalam segala medan amal kebaikan. Dengan itu, cahaya Islam akan semakin benderang, menerangi kegelapan hati manusia yang belum mendapatkan sinarnya, khususnya mereka yang ada di kampus. Selamat menikmati, meresapi, melakoni dan membumikan Dakwah Kampus!

 

 

Wassalamu’alaikum wr wb

Drs. Musholli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s