Mengais Makna Kaum Menengah Indonesia I

Dalam konteks sosial-politik, mahasiswa diposisikan sebagai kaum menengah atau bisa juga dikatakan sebagai titik potong antara masyarakat dan pemerintah.  Posisi kampus saat dinormalisasi beberapa puluh tahun ke belakang, nampaknya gagal untuk mereposisi mahasiswa hanya sebagai ‘mahluk’ akademik semata. Terbukti, mahasiswa masih bisa menunjukan taringnya  untuk menggulingkan Soeharto di zaman orde baru waktu itu. Nampaknya, tidak ada yang dapat menghalangi mahasiswa untuk dapat berpartisipasi dalam sebuah pergerakan untuk melakukan sebuah perubahan. Ya, perubahan umum (general converter) terhadap fenomena-fenomena sosial yang ada. Maka benarlah yang dikatakan banyak pakar ekonomi sekelas Robert A. Dahl, Huntington, David Easton, Hans Dieter Evers, dan tokoh-tokoh lainnya bahwa  semakin tinggi tingkat ekonomi dan pendidikan seseorang maka semakin kuat pula dorongan untuk melakukan sebuah partisipasi.

Bercermin pada negeri seberang,  fenomena kaum menengah yang terjadi di Eropa saat masa revolusi Prancis (misalnya) tidaklah sama dengan fenomena kaum menengah Indonesia. Disana, kaum menengahnya berisi pengusaha-pengusaha yang mapan secara ekonomi. Mereka independen dan tidak bergantung pada penguasa. Untuk itu mereka dapat lebih mudah untuk melakukan negosiasi terhadap suprastruktur sambil mengakomodasi aspirasi yang berkembang dilapisan infrastruktur. Indonesia tidak memiliki kelas pedagang. Kalaupun ada, maka itu akibat ekspansi kaum priyayi yang duduk di jabatan-jabatan pemerintahan zaman lalu. Hal ini dapat dimaklumi karena mereka tidak pernah mengalami suatu masa penjajahan sehingga pada umumnya evolusi perkembangan negara tersebut tidak mengalami hambatan berarti. Sebaliknya, pada umumnya negara berkembang adalah bekas negara jajahan barat. Kolonialisme merupakan faktor utama yang menghambat sejarah kelas menengahnya berkembang secara  normal.

Jika berbicara tentang kaum menengah, maka mahasiswa merupakan himpunan bagian dari sekian banyak himpunan bagian yang ada dalam sebuah komunitas itu. Kaum cendikiawan, intelektual, militer, petani, LSM, ulama, dan beberapa pihak lainnya yang memiliki gagasan cerdas untuk melakukan perubahan kepada situasi sosial-politik dapat digolongkan sebagai kaum menengah. Sebutan kaum menengah sebenarnya dapat diartikan sebagai segelintir orang yang menjadi jembatan infrastruktur (rakyat) dan suprastruktur (pemerintah). Partisipasi mereka mencuat kemana-mana dalam format politik masa depan negaranya. Paling tidak, terdapat tiga asumsi dasar kehadiran kaum menengah di Indonesia: pertama, kaum menengah muncul karena dibesarkan, difasilitasi, dan di back up oleh birokrasi. Kedua, kaum menengah hadir karena keturunan. Dan ketiga adalah kaum menengah yang muncul dari lapisan bawah yang kompetitif. Mengapa kompetitif? Pasalnya adalah mereka melalui lika-liku perjalanan panjang dengan memeras pikiran dan keringat. Dan harus diakui, kebanyakan pihak yang tergabung dalam kaum menengah Indonesia berasal dari asumsi pertama (birokratis). Dan alasan utama mahasiswa termasuk kedalamnya juga sebenarnya tak lepas dari faktor sejarah Indonesia sendiri yang tak lekang waktu hingga sekarang.

Inilah jawaban (sederhana) mengapa mahasiswa negara berkembang sangat berbeda dengan mahasiswa negara maju. Jika mahasiswa negara maju dituntut kuat untuk belajar untuk kemudian melanjutkan hidup paska hidupnya sendiri, maka lain halnya dengan mahasiswa negara berkembang. Selain memikirkan kepentingan mereka sendiri, mereka dituntut untuk memikirkan kepentingan negaranya pula dalam bentuk kritik sosial. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis mereka tergabung dalam bagian kaum menengah. Dari berbagai pengalaman sejarah, dapat disimpulkan dua model partisipasi kaum muda untuk menjembatani kepentingan infrastruktur kepada suprastrukturnya.

Cara pertama adalah melalui aksi turun kejalan. Bentuk gerakan ini, mulai dari demonstrasi, mimbar bebas hingga aksi yang melibatkan banyak massa untuk mendatangi berbagai lembaga yang diperkirakan dapat menyelesaikan persoalan yang dikeluhkan oleh infrastruktur. Melalui gerakan inilah mereka menyampaikan partisipasinya dengan cara terbuka. Gerakan aksi turun ke jalan ini sering disebut pula dengan gerakan ekstra-parlementer. Cap semacam ini sebenarnya  mencerminkan keadaan politik dimanan kritik cara parlementer dianggap mandul, sehingga diperlukan gerakan diluar parlementer untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Cara kedua adalah dengan gerakan intelektual. Gerakan ini dilakukan oleh mahasiswa melalui diskusi dan pertemuan ilmiah baik didalam maupun diluar kampus. Melalui pertemuan inilah kaum mahasiswa dapat melontarkan berbagai kritiknya, walau sebatas dalam kelompok. Memang, gerakan ini oleh berbagai  kalangan dinilai kurang efektif untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi karena tidak menimbulkan efek demonstratif dan lebih pada target pembentukan kesadaran kognitif semata dibanding pada kerangka perubahan sosial yang makro. Akan tetapi, didalam sejarahnya, gerakan ini seringpula dikhawatirkan oleh para pemegang kekuasaan, dan karena itu selalu dimonitor oleh intelejen negara. Pada intinya, gerakan ini lahir, ketika gerakan ekstra parlementer sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

Sejalan dengan kemajuan zaman, tantangan yang dihadapi bangsa dan negara ini semakin kompleks. Dalam keadaan demikian, peran kaum mahasiswa menuju perubahan yang lebih baik. Seperti halnya pada masa lalu, sepak terjangnya telah ada sehaj usia belasan  untuk membebaskan negeri yang sedang terjajah. Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan republik ini memang digerakan secara estafet oleh kaum muda dari generasi 1908, 1928, 1945, 1966, 1998 dalam format gerakan dan situasinya masing-masing. Tak ayal lagi, perjalanan mahasiswa menjadi salah satu pilar kaum menengah masih terus berlanjut hingga saat ini. Namun yang jadi pertanyaan besar hari ini adalah, bagaimanakah bentuk partisipasi mereka di era kontemporer saat ini?

 

bersambung…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s