Lelaki Dari Mars, Wanita Dari Venus

Dari beberapa film action yang saya tonton beberapa bulan ini, tampaknya saat ini sangat nge-trend untuk mengisahkan percintaan seorang pria agen/mantan agen rahasia dengan perempuan biasa. Biasanya, alur cerita dimulai dengan sang lelaki dan perempuan yang bertemu dalam momentun yang tidak disengaja. Entah di hotel, entah di telepon, entah di pesawat, dan tempat-tempat lainnya yang cukup rasional dijadikan tempat untuk bertemu.

Sang pria yang mengetahui bahwa dirinya agen rahasia, selalu mencoba bersikap santai di depan pasangannya agar tidak diketahui identitasnya. Namun lambat laun, kebohongan sang pria tidak bisa selamanya ditutupi. Mau tidak mau pula, akhirnya sang pria pun gagap-gugup untuk menceritakan kisah masa lalunya yang penuh dengan adegan yang seru (baca: berbahaya). Pada akhirnya, sang perempuan mau tidak mau harus menanggung konsekuensi logis bahwa dirinya akan terlibat berbagai macam hal yang berbahaya bersama pria yang kini bersamanya. Singkat cerita, berbagai adegan berbahaya yang dialami mereka berdua malah menjadikan mereka semakin mengerti satu sama lain, serta menguatkan satu sama lain, dan yang terpenting adalah menerima satu sama lain.

Jika ditarik benang merahnya, sebenarnya kisah di film-film tadi banyak mengundang banyak pelajaran bagi para pria atau perempuan dalam hidup ini. Bahwasanya ketika seorang manusia mulai menumbuhkan sebuah ‘rasa yang berlebih’ pada lain jenisnya, maka secara tidak langsung dia harus bersiap-siap untuk menghadapi sesuatu yang juga berbeda dari kehidupan awal dirinya. Satu hal yang paling berpengaruh adalah waktu untuk dirinya sendiri. Waktu yang biasanya terpakai untuk itu-ini dirinya, maka harus diberikan sebagian pada orang yang disukainya. Jika sebelumnya segala sesuatu  harus dia kerjakan, dia rasakan, dan dia pikirkan sendiri, maka sekarang semua harus dibagi dengan pasangan mereka. Kadangkala hal itu baik, namun tidak jarang juga hal itu buruk. Ada saat-saat tertentu, dimana manusia ingin menyendiri tanpa diganggu orang lain, dan sebaliknya ada pula momentum-momentum tertentu, dimana manusia perlu seseorang yang ada disampingnya untuk menguatkan dirinya. Begitu kira-kira rasionalnya.

Ada banyak buku yang mencoba mengungkap secara mendalam tentang hubungan antar manusia. Baik ditinjau dari sisi psikologinya, sisi religiusitasnya, sisi sosialnya, maupun sisi setiap manusianya. Salah satu buku  yang sangat getol membahas tentang permasalahan ini adalah buku John Gray yang berjudul Men from Mars and Women from Venus. Diceritakan dalam bukunya bahwa lelaki dan perempuan itu adalah dua mahluk yang berasal dari dua dunia yang berbeda. Secara singkat, buku itu sebenarnya menguak tentang perbedaan sikap antara pria dan perempuan dalam merespon sesuatu.

Perbedaan mendasar yang ditekankan oleh John Gray adalah respon terhadap sebuah permasalahan. Pria selalu cenderung merespon masalah untuk diselesaikan sendiri. Mereka butuh ruangan sepi senyap untuk memikirkan dan mencari solusi permasalahnnya itu. Bertolak belakang dengan itu, perempuan malah cenderung merespon sebuah permasalahan dengan menceritakannya kepada orang lain. Bagi mereka, menuturkan permasalahan yang mereka alami ke orang lain merupakan obat mujarab yang mampu memberikan solusi. Perbedaan respon tadi sebenarnya bukanlah sebuah permasalahan. Namun, ketika sang pria dan perempuan mulai menjalin hubungan maka perbedaan ini akan menjadi sebuah permasalahan yang abadi jika tidak disolusikan sejak dini.

Ya, walaupun saat ini saya juga belum pernah merasakan permasalahan yang demikian (memiliki pasangan), tapi dari berbagai observasi dan pengalaman senior saya telah mengarahkan pada kesimpulan subjektif: bahwa hanya waktu yang dapat membuat sebuah pasangan bisa mengerti satu sama lain. Waktu yang membuat sebuah pasangan untuk kenal, waktu yang membuat sebuah pasangan untuk saling menolong, dan waktu pula yang membuat pasangan untuk saling mengerti satu sama lain.

Di awal tulisan ini, saya menyinggung tentang masalah waktu diri sendiri yang tergerus karena adanya pembagian waktu dengan pasangan, bukan? Jadi, setiap pasangan harus pandai mengatur waktunya, kapan mereka harus sendiri dan kapan mereka harus bersama. Waktu merupakan sebuah momentum untuk mengenal dan memahami pasangan kita. Hal ini harus benar-benar difahami karena waktu tidak bisa berulang.Sama seperti kisah pada momentum film-film tadi yang membuat sang perempuan akhirnya kenal dan memahami prianya. Sama seperti sang pria. Ciptakanlah momentum-momentum kebersamaan itu sesering mungkin.[]

2 thoughts on “Lelaki Dari Mars, Wanita Dari Venus

  1. recommended book “why men dont listen and women cant read map” by allan and barbara pease
    bner2 ngejelasin pbedaan cowo dan cewe dgn fakta2 penelitian biologis dan psikologis dr bbrp negara dan disajikan dgn bhs yg enak.
    sumpah tu buku keren abiz.^^.

  2. setuju sm komentar yg diatas.. buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps” bagus jg. dan dibuku itu jg ditulis kalo cewe lbh seneng cerita kalo ada masalah, sedangkan cowo lebih seneng menyelesaikan sendiri tanpa perlu cerita ke temen2nya (sudah saya buktikan) -.-‘
    hehehe
    salam kenaaaaall😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s