Surat Dari Darrel Royal

Saya sering mencari inspirasi dari berbagai fenomena dan biografi pengukir prestasi besar yang ada di dunia ini. Ada inspirasi yang saya ambil ‘orisinil’ berasal dari negeri tercinta kita sendiri, namun ada pula inspirasi yang saya impor dari negeri seberang. Pun kadang-kadang, saya  juga membaca komik, novel, atau cerpen yang notabene adalah fiksi, dengan tidak ada alasan lain selain mengintip inspirasi yang tersirat pada bab-bab didalamnya.

Suatu kali disebuah komik Jepang, saya menemukan cuplikan kisah tentang dialog dua orang atlet American Football di sebuah bus olahraga paska-pertandingan mereka yang baru usai dilaksanakan. Diceritakan didalamnya, bahwa Atlet yang pertama mengeluhkan bahwa pertandingan yang barusan mereka lakukan adalah sebuah pertandingan yang buruk. Singkat katanya: Mereka kalah. Sang atlet pertama ini terus mengeluh atas permainan buruknya karena dia tidak pernah bisa melewati lawannya yang berbadan besar.

Memang hal ini bukan untuk pertama kalinya bagi sang atlet pertama, bahwa dia tidak cukup kuat mengimbangi lawan yang ada di depannya. Namun bagi dia, kegagalannya di pertandingan tadi adalah yang terburuk karena kekalahan timnya merupakan pertanda bahwa dia bersama timnya harus gugur dalam tahap penyisihan Liga ‘Bowl’ yang telah menjadi impian mereka selama ini. Impian mereka tidak hanya sebatas untuk menjadi partisipan semata. Itu sangat kecil bagi mereka. Impian mereka jauh melesat tinggi menjadi seorang pemenang.

Sang atlet kedua pun akhirnya mulai membuka mulutnya sembari terkekeh-kekeh atas keluhan yang disampaikan oleh atlet pertama. Sebagai orang tertua di tim, atlet kedua mencoba bersikap tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Pada awalnya pembicaraan mereka datar-datar saja. Dan sebenarnya petuah yang diberikan oleh atlet kedua pun adalah hal yang sangat biasa bagi atlet pertama. Hingga suatu saat pembicaraan mereka berdua menjadi lebih hangat, ketika sang atlet kedua mulai bercerita tentang sebuah kisah tentang Darrel Royal.

“Darrel”, kata atlet kedua, adalah seorang pelatih olahraga biasa yang berasal dari Universitas Texas. Selayaknya para pelatih lainnya, kehidupan profesi Darrel pun mengalami pasang dan surut. Ada kalanya tim yang dipimpinnya menang, namun tidak sedikit pula timnya harus kalah dalam beberapa pertandingan. Darrel sadar benar bahwa membangun semangat tim tidaklah sama dengan membangun semangat seorang semata. Darrel pun juga sadar, bahwa dalam berolahraga persentase menang  pun tidak dapat diperhitungkan. Sehebat apapun sebuah tim telah berlatih di ruang berlatih, tetap saja lapangan yang akan menentukannya.

Ada banyak cara yang digunakan Darrel untuk tetap menjaga stamina timnya. Bukan hanya asupan gizi yang diperhatikan, tetapi juga asupan mental untuk memenuhi stamina timnya seutuhnya. Dari berbagai metode yang dilakukannya, mungkin surat dari Darrel Royal kepada timnya-lah yang melegenda. Melegenda bukan hanya bagi timnya, tapi juga para tim-tim lainnya di seantero dunia. Kemudian, atlet kedua menyebutkan satu-dua patah kata cuplikan surat itu:

You should all ask yourself what do you feel when you are defeated.

are you blaming others, feeling depressed, or are you feel with passion, ready to take the challenge again.

all those of you who has played on the field will have tasted defeat, there’s no player who has not lost before,

however the best players, as a tribute to all their efforts, will give everything they’ve got to stand up again,

the ordinary players will take them a while to get back on their feet,

while the losers will remain flat on the field. Do not be ashamed about being defeated

.to be defeated and to not stand up is what you should be ashamed of.

Atlet pertama pun mencoba mencerna setiap deretan kata yang dibacakan oleh si atlet kedua. Dan ia pun terdiam bak terplester rapat lubang mulutnya. Dan dalam diamya, ia menyadari bahwa kalah-menang merupakan dua kata yang harus menjadi daftar kata dalam kamus kehidupan sebuah perjuangan seorang atlit. Jatuh-bangun lagi, jatuh-bangun lagi, demikian seterusnya.Betapa pun dalamnya jurang tempat sang pejuang jatuh, yang terpenting adalah bagaimana usahanya untuk bangkit kembali. Disana telah terdapat garis jelas pemisah antara pemain terbaik, pemain biasa, dan pemain pecundang. Surat Darrel Royal kini menjadi bahan bakar sang atlit pertama dalam bermain American Football selanjutnya.

Singkat kata, begitu kira-kira kisah komik tadi yang ingin saya sampaikan. Pada akhirnya, sebenarnya saya hanya ingin menggeneralisasi bahwa ada ‘ilmu-ilmu’ para atlit olahraga yang dapat dikorelasikan dalam kehidupan kita pada umumnya, terutama ketika seorang manusia menghadapi sebuah konflik. Dalam sejarahnya, belum pernah ada manusia yang menginginkan konflik. Kalaupun ada, kata Abraham Maslow, sebenarnya hal itu lebih pada salah satu cara untuk memuaskan kebutuhan aktualisasi diri dalam kancah kehidupan sosial.

Ibarat sebuah pertandingan olahraga dimana menghadapi lawan adalah sebuah keniscayaan, maka begitu pula dengan konflik. Konflik selalu menubrukan manusia pada sebuah permasalahan. Jika pertandingan olahraga selalu mengisyaratkan lawan yang lebih tangguh setelah kemenangan saat ini, pun demikian dengan konflik. Penyelesaian konflik pada permasalahan satu, akan membawa kita pada konflik baru yang tentu saja melibatkan permasalahan yang lebih seru (baca: rumit) pula. Demikian seterusnya. Konflik-konflik yang terjadi pada diri kita akan membentuk pribadi manusia yang lebih kuat, berkarakter, dan tidak mudah goyah. Persis seperti pohon yang menjulang tinggi dan mengakar kuat, sehingga ketika ada angin yang kencang tak akan membuatnya bergeming.

Jadi, jika diiriskan pada surat Darrel Royal tadi, hanya ada tiga tipe manusia dalam menghadapi sebuah konflik. Yang pertama adalah bermental pemenang, dimana ia berani memperluas zona kenyamanannya lewat menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupannya. Yang kedua adalah bermental standar, dimana dia lebih senang untuk memilih. Jika konflik itu berada di dalam zona kenyamanannya maka akan diselesaikannya, dan sebaliknya. Yang ketiga adalah bermental pecundang, dimana dia selalu menghindari konflik. Kalaupun dia tidak bisa menghindar, maka dia hanya menjadi pengekor orang-orang bermental pemenang untuk menyelesaikan permasalahan itu. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s