Berpijak Di ambang Era Konseptual

Bagi saya, memperluas wawasan itu seperti menanam pohon. Wawasan yang luas bak pohon yang rindang. Tentu kita tidak perlu lagi bertanya bagaimana proses sebuah pohon sukses tumbuh kembang. Akarnya harus disiram sehari sekali, daunnya disemprot cairan anti-hama, batangnya harus dijaga agar tak tumbuh satu pun tanaman pengganggu bernama gulma. Tak lupa juga, sesekali tanahnya harus juga kita asupi dengan pupuk kompos. Pada intinya, kita dibuat seolah menjadi penjaga pribadinya (baca: pohon).

Mungkin tidak serumit pohon perawatannya, tapi paling tidak wawasan hanya bisa berkembang jika mendapat asupan informasi baru yang berasal dari luar. Informasi ini bisa berupa selintas berita visual, selentingan kisah dari pendengaran kita, atau yang paling besar takaran gizinya adalah dari sebuah buku. Ya, saya kira semua setuju dengan saya bukan? Buku merupakan sekelumit tulisan yang direkatkan menjadi satu kesatuan berisi berbagai macam informasi. Dia adalah ‘makanan’ yang paling disukai oleh otak kiri kita, dalam rangka mengasah wawasan kita. Jadi, ketika berbicara tentang wawasan, secara otomatis kita juga berbicara tentang informasi.

Memang apa pentingnya sebuah binatang yang bernama ‘wawasan’ itu? Sebelum lebih jauh, seorang futurolog yang bernama Alvin Toffler merilis sebuah buku yang berjudul  “The Third Wave”. Lebih lanjut, penulis buku ini membedakan era milenium (wave) kehidupan manusia dalam tiga kategori yang sekuensial: agricultural, industrial, dan informasi. Toffler mengindikasikan bahwa kehidupan manusia mengalami peralihan dan kemajuan pesat setelah era informasi ini dimulai.

Gampangnya seperti ini, di era industri terdahulu manusia itu bisa jadi kaya asalkan dia pintar, maka di era informasi ini tidaklah demikian. Memang kepintaran manusia tidak bisa dipungkiri menjadi satu dari sekian banyak faktor yang dapat manusia kaya, tetapi yang pasti orang yang paling menguasai informasilah yang paling cepat makmur. Jika dulu manusia perlu waktu yang lama untuk membrandingkan usahanya, kini manusia dapat menggunakan fasilitas internet untuk dapat menuansakan usahanya ke muka dunia hanya dengan beberapa kali ‘klik’. Makanya, ada banyak orang-orang yang sukses di masa mudanya (tidak perlu menunggu waktu tua) untuk menjadi kaya dengan menggunakan jasa persebaran informasi ini. Buat saya, cukup dua kata untuk menggambarkan era informasi yang terjadi saat ini: “Luar Biasa”.

Sampai saat ini, wawasan memang belum terlalu menjadi primadona dalam faktor pemakmuran diri seorang manusia. Tapi tunggu dulu. Seorang futurolog lain yang bernama Daniel H. Pink menumpahkan pikirannya dalam buku “A Whole New Mind”, yang melanjutkan pembahasan Alvin Toffler. Ia menyebukan bahwa Era Konseptual merupakan kelanjutan dari Era Informasi. Pada era ini manusia ditantang untuk mengasah berbagai macam konsep yang lebih panjang, bukan hanya sekedar hal-hal yang instan. Contoh apik yang bisa saya contohkan disini adalah fenomena facebook. Kita dapat menemukan konsep jejaring sosial lengkap dengan fitur chating, mailing, sharing, and walling didalamnya. Orang-orang sangat suka dengannya. Dan kita tahu, bahwa si pencipta Facebook kini diramalkan akan menyamai Bill Gates dimasa depan. Kembali ke inti permasalahan awal, maka bisa disimpulkan bahwa Daniel ingin mengutarakan idenya bahwa dimasa konseptual ini wawasan merupakan penentu kesuksesan seseorang.

Wawasan sebaiknya diasah sejak masa muda kita. Dan cara yang paling muda adalah dengan perbanyaklah membaca buku agar wawasan kita semakin bertambah. Saya teringat kembali pada perkataan Anis Matta dalam suatu forum tentang mengembangkan wawasan. Setidaknya ada lima kategori pemahaman, kata beliau, yang sebaiknya dikuasai oleh para pemuda yaitu geografi, sejarah, sastra, dan bahasa. Menurut beliau, kebermanfaatan dari menguasai geografi adalah kemampuan untuk memetakan sebuah ruang. Adapun sejarah, berguna untuk kemampuan berpikir sequensial. Sedang sastra, ia berguna karena dalam sastra ini, kemampuan naratif terkembang. Naratif ini adalah kemampuan untuk menyampaikan gagasan yang ada di dalam dirinya kepada orang lain. Termasuk di dalamnya seni berbicara dan menulis. Lantas yang terakhir bahasa, berguna untuk alat komunikasi hasil berpikir kita kepada orang lain. Kata beliau, ada tiga penguasaan bahasa (selain bahasa Indonesia tentunya) yang  harus dikuasai oleh seorang manusia di era konseptual saat ini: bahasa Inggris, bahasa cina, dan bahasa arab.

Namun yang perlu diperhatikan saat ini adalah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Ada banyak buku yang bertabur di berbagai media internet dan toko buku namun tidak mungkin (dan tidak perlu) kita membacanya semua. Kita harus sangat selektif dalam memilih buku bacaan kita. Pilihlah buku-buku bacaan terbaik yang pernah hadir di negeri ini dan bahkan di seluruh seantero dunia. Dengan demikian, otak kita ibarat selalu mendapatkan asupan yang terbaik. Selanjutnya, tidak perlu diragukan lagi otak kita akan lebih mudah untuk berpikir konseptual dan sistemik untuk membantu kehidupan kita setelahnya untuk melangkahkan kaki di ambang pintu era konseptual masa depan.

Saran saya, walaupun kita telah memiliki kompetensi diri masing-masing sesuai keilmuannya, namun tetap saja kita harus mengembangkan wawasan kita untuk mencapai seorang manusia informasi. Jangan sampai kita tidak tahu isu terhangat negeri kita saat ini gara-gara kita berpusing pada penguasaan kompetensi diri kita, dikelas saja, atau di laboratorium saja. Jangan sampai kita baru tahu sebuah informasi, yang semestinya sudah diketahui dari waktu-waktu sebelumnya. Dan yang lebih parah, jangan sampai kita menutup mata atas informasi yang berseliweran di hadapan kita karena apatisme yang berhinggap di diri kita sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s