Sebuah Refleksi: Dalam Dekapan Ukhuwah

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji.. Dalam dekapan ukhuwah.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata selama 6 bulan ini saya jarang sekali membaca buku bernuansa penenang jiwa. Tapi alhamdulillah, pada akhirnya saya rampung juga untuk menikmati buku bersampul warna hitam ini. Judulnya “Dalam Dekapan Ukhuwah”, ditulis oleh penulis berbakat Salim A. Fillah. Setelah membacanya, jiwa ini seperti terterpa semilir angin ketenangan. Bahagia rasanya mengetahui bahwa jumlah saudara saya demikian banyak di belahan dunia ini, karena satu ikatan aqidah.  Singkat kata, iman ini serasa penuh kembali.

Jika hendak memperdalam makna kata “persaudaraan” dalam keseharian kita, tentu sebagian besar dari kita akan langsung mengaitkannya dengan makna saudara yang diikat dalam satu ikatan darah atau kandungan. Sebenarnya itu tidak salah. Memang pada hakikatnya ikatan darah membuat sesama manusia menjadi kuat rasa sayangnya mereka, kuat emosionalnya satu sama lain, dan kuat pula rasa saling berbagi. Semuanya dilandasi karena mereka sejak kecil berada dalam dekapan seorang ibu dan ayahnya. Lantas bagaimana islam memandang perkara persaudaraan ini?

Dalam islam, persaudaraan dimaknakan tidak hanya berbatas oleh ikatan darah saja melainkan oleh ikatan aqidah. Dari sini, maka tidak ada lagi perbedaan antara ras hitam dan ras putih, ketidaksamaan antara si kaya dan si miskin, dan tidak ada pula distorsi antara golongan di satu tempat dengan golongan di tempat lainnya. Selama mereka muslim mereka adalah saudara. Mereka diikat oleh sesuatu yang lebih tinggi daripada ikatan latarbelakang, ikatan kekayaan, ikatan keluarga, yakni ikatan aqidah. Ikatan ini membuat mereka ikhlas untuk mendekap diantara satu dengan yang lain seperti saudara mereka sendiri. Begitulah persaudaraan islam diajarkan.

Ukhuwah islam, kata Rasul, ibarat satu kesatuan tubuh. Jika ada satu bagian yang sakit maka ikut pula sakit bagian lainnya. Bagi seorang muslim yang faham, tentu tidak heran jika ada muslim terdzhalimi di suatu negeri, maka sontak muslim di negeri lainnya bergerak untuk menumpas kedhzaliman tersebut. Kalau dikaitkan dengan kehidupan saat ini, harusnya perih yang dihadapi muslim Palestina, Cheznya, Afganistan, Libanon dan seantero lainnya harus dirasakan juga oleh kita. Disini, baju ‘nasionalisme’ sebuah negara harus ditanggalkan dan segera diganti dengan baju yang sama dengan mereka yaitu sebagai baju seorang muslim. Saya meyakini, tidak akan satu pun manusia di dunia ini yang rela jika saudaranya di perlakukan semena-mena bukan?

Secara fitrah, manusia selalu mementingkan dirinya terlebih dahulu. Ketika kepentingannya selesai, barulah ia mulai memikirkan orang lain. Namun ukhuwah islam mengajarkan suatu hal yang lain. Jika dijabarkan, persaudaraan dalam islam punya tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari saling mengenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun), hingga yang tertinggi adalah saling mendahulukan (itsar). Jika dikaitkan dengan fitrah tadi, maka tidak salah jika dikatakan sikap saling mendahulukan adalah sikap paling tersulit untuk dapat diimplementasikan. Benar tidak?

Dalam berbagai sirah nabawiyah pun, kerap kita dapati kisah rasul, sahabat, dan para tabi’in yang mementingkan sanak saudaranya diatas kepentingan dirinya sendiri. Coba bayangkan kisah seorang Muhammad yang tiap kali ada benggolan dirham di kantung pakaiannya, ia sedekahkan pada kaum yang miskin papa. Coba bayangkan kisah seorang Abu Bakar yang menyumbangkan segala hartanya untuk kepentingan Islam. Coba bayangkan pula banyak kisah kaum Anshar yang mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin diatas kepentingan mereka sendiri. Kisah mereka seolah abadi terestafetkan dari satu generasi ke generasi yang lain dan selalu menjadi teladan bagi kita semua.

Namun yang kini jadi pertanyaan adalah, mampukah kita meneladani kisah-kisah para generasi salafy demikian adanya? Tentu ini menjadi pertanyaan klasik yang terus diperdengungkan oleh ulama-ulama masa kini untuk menjadi bahan tabligh di hadapan jamaah mereka. Tetapi yang pasti, saya masih ingat ilmu sakti 3M dari Aa Gym yang dapat dengan mudah diterapkan dalam keseharian kita. Mulai dari diri sendiri. Mari disadari bersama bahwa posisi kita sebagai seorang muslim memiliki sebuah kepekaan pada muslim yang lainnya. Mulai dari yang kecil. Kalau memang kita tidak bisa membantu saudara kita dalam hal-hal besar, mulailah dari hal-hal mendasar yang dapat meringankan bebannya. Mulai dari saat ini. Umur manusia yang terbatas, membuat kita harus memacu diri untuk tidak menunda-nunda suatu pekerjaan. Lakukanlah sekarang juga.

Selesai. Semoga bermanfaat.[]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s