Aku, Kamu, dan Tahun 2011

Aku ingin sedikit bercerita kawan, tentang sekelumit kisah sekelompok manusia yang punya kerelaan dalam bekerja, mengataskan kepentingan umum, dan sebagian besar hidupnya habis untuk mengabdi untuk masyarakat. Mereka sebenarnya punya nama, tapi sebagian masyarakat lebih suka menamai mereka: ‘pahlawan’.

Pada awalnya, mereka adalah orang yang sama saja dengan orang lain. Hidup tenang-tenang saja, mengikuti arus fenomena yang terjadi disekitar. Pendek kata, bagaimana perilaku kehidupan sekitar mereka, begitu pula perilaku mereka. Disuatu momentum yang tepat, mereka tersentak, seperti tersadar dari tidur mereka yang sangat lama. Kepekaan masalah mereka bertambah-tambah. Mereka merasakan ada yang salah dilingkungan mereka. Ada sesuatu yang mengganjal dan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Realitas bergeser jauh dari sebuah apa yang disebut idealitas. Kepekaan itu semakin membuncah, hingga berujung pada pemikiran mereka yang semakin mendalam.

Hal ini tidak berakhir sampai disitu. Pada tahap selanjutnya, mereka dipanggil oleh ‘sesuatu’ dari mereka sendiri untuk mengubah apa yang mereka salah itu. Ada yang bilang itu adalah panggilan jiwa, ada pula yang mengatakan itu adalah suara hati. Apapun namanya, hal itu telah memantik keinginan mereka untuk berpetualang menjawab panggilan itu.

Rupa-rupanya, petualangan mereka bukan sekedar isapan jempol belaka. Keputusan ini membuat mereka harus siap melewati jalan cobaan dan rintangan yang tidak mudah. Terkadang mereka dianggap aneh oleh orang lain karena menyalahi kebiasaan dari perilaku mereka. Terkadang mereka harus mengorbankan apa yang mereka punya, entah itu waktu, tenaga, uang, fisik, untuk dapat melanjutkan petualangan mereka mencari solusi akar permasalahan tempat mereka berada. Mereka benar-benar diuji kesungguhannya saat ini. Barangsiapa dari mereka yang lolos, maka mereka dapat meneruskan petualangan mereka ke level lebih tinggi. Namun jika gagal, mereka tamat. Mereka yang tidak lolos akan kembali menjadi orang biasa saja, karena mereka tidak kuat untuk melanjutkan.

Dalam level rintangan yang lebih tinggi, ternyata jumlah orang adalah salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan dari petualangan mereka. Perjuangan superman seorang bukanlah menjadi sebuah jawaban yang tepat. Mereka harus berusaha mencari sekelompok orang yang punya tujuan sama untuk dijadikan sebagai teman. Teman ini akan menjadi penguat, pendukung, serta membantu perjuangan mereka dalam meraih tujuan dari awal petualangan dimulai: mengembalikan idealitas pada posisinya, serta meruntuhkan realitas yang salah.

Pada akhirnya, kekuatan orang berlebih memang tidak dapat dihitung dengan teori angka biasa. Satu tambah satu bisa jadi bukan dua. Satu tambah dua bisa jadi bukan tiga. Dan seterusnya. Dengan semangat dan kerjasama yang ada, akhirnya mereka bersama teman-temannya berhasil melewati rintangan dari level ke level hingga mencapai tujuan awal, mengubah apa yang salah di lingkungan masyarakat mereka menjadi kembali benar. Meluruskan apa yang tadinya bengkok. Mencahaya dengan solusi setelah gelapnya permasalahan. Dan menggapai sebuah keagungan bagi masyarakat sekitarnya.

Di bagian penghujung, orang-orang yang pada awalnya mencerca atau meremehkan, kini harus mengacungi jempol pada mereka yang telah berhasil membawa perubahan positif bagi masyarakat mereka. Jika ibarat hutang, maka mozaik perjalanan dan pengorbanan kepentingan pribadi mereka kini telah terbayarkan dengan adanya hasil yang memuaskan.

Kira-kira begitu perjalanan mereka, kawan. Perjalanan kompleks yang tidak sebentar. Dalam berbagai epos kepahlawanan seseorang pasti selalu begitu tahapannya. Kemudian hal ini disarikan oleh seorang pakar bernama Joseph Campbell dalam enam tahap penting dalam Hero’s Journey: innocence life, the call to adventure, problem initiation, take allies, breakthrough, dan celebration. Kebanyakan dari perjalanan kisah pahlawan, selalu mengacu dari sana.

Mari berbicara sedikit tentang dunia kampus. Jika kamu pernah merasakan ada yang salah dalam perilaku keseharian mahasiswa saat ini, dan kemudian kamu memiliki hasrat untuk mengubahnya menjadi lebih baik, bisa jadi kamu sedang menapaki jejak-jejak petualangan seorang pahlawan.

Jika ada sebuah batu besar yang menutupi pandangan mata dalam petualanganmu,  semisal resistensi dari para pihak berwenang, berbagai keterbatasan sumber daya, remehan dari orang sekitarmu, maka anggaplah batu besar itu sebagai batu lompatan. Jangan anggap sebagai batu penghalang.

Kemudian, ajak teman-temanmu yang memiliki satu hasrat denganmu, untuk membangun impian bersama menuju perubahan yang lebih baik. Mengenai jumlah teman, kamu tahu tentang makna ‘cukup’ bukan? Cukup itu tidak banyak tapi juga tidak terlalu sedikit. Dia ada ditengah-tengahnya. Sejarah juga mengatakan, bahwa perubahan besar selalu diinisasi oleh sejumlah orang yang cukup. Maka, jaga mereka, hormati mereka, sayangi mereka, dan perlakukan mereka dalam satu nuansa kekeluargaan ditengah profesionalitas dalam bekerja.

Mengenai hasil, aku tahu penilaian orang-orang bisa berbeda. Ada yang bilang tercapai, ada yang bilang tidak tercapai. Mungkin suatu saat ada yang mengatakan kamu adalah seorang ‘legenda’ atau ‘pahlawan’. Tapi tidak sedikit juga yang mungkin akan mengatakan kamu adalah ‘pecundang’ atau ‘penakut’. Ah, itu semua adalah hal biasa kawan. Iya, hal yang biasa. Karena aku, kalian, dan mereka juga masih belajar. Kita semua sama-sama belajar. Yang terpenting adalah lakukan proses yang terbaik. Biarkan nanti hasil akan mengiringi sesuai dengan kadar usahamu.

Seorang yang berjiwa pahlawan memang tidak pernah bekerja dengan pamrih dan meminta gelar. Jika kamu pernah gagal dalam memulai jejak itu, maka ulangi sekali lagi. Karena setiap manusia punya kesempatan kedua. Jika kamu telah memulai jejak itu, maka lanjutkanlah hingga selesai. Jika kamu belum memulai jejak itu, maka mulailah sekarang juga. Tiada yang lebih indah dalam hidup ini, selain kebermanfaatan kita untuk orang-orang sekitar kita.

Berjuanglah terus kawan, hingga lelah itu lelah mengejar perjuanganmu.
Selamat menciptakan momentum kepahlawanan di tahun baru ini.
Itu saja. Semoga bermanfaat.

One thought on “Aku, Kamu, dan Tahun 2011

  1. mungkin karena orang-orang menamainya pahlawan, sehingga orang lain pun ingin memiliki gelar pahlawan.. yang pahlawan di awal tak menginginkan gelar pahlawan, tapi dialah pahlawan, namun orang-orang berbuat tuk menginginkan nama pahlawan, saat takdiberi nama, terus mengemis tuk diberi nama itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s