Waktu Kecil

Waktu kecil adalah masa paling indah dalam hidup seseorang. Bener gak ya? Ya kalau enggak, setidaknya jawabannya benar bagi diri saya. Saat kecil saya bebas melakukan apa saja. Adakah orang yang akan memukul saya mencoret-coret dinding? Tidak. Adakah orang yang memaki-maki saat saya memecahkan piring di dapur rumah? Tidak juga. Adakah orang yang menjauhi ketika saya buang air di sembarang tempat? Yang ini juga tidak. Dan yang terakhir serta yang paling saya suka, Adakah orang yang akan menertawai ketika saya bermimpi tentang masa depan saya? Lagi-lagi, tidak. Tidak untuk semuanya.

#cerita1

Waktu kecil, saya pernah diberi kado pakaian militer oleh Ibu saya. Entah alasan apa beliau memberikannya (mungkin agar saya bisa jadi seorang yang disiplin seperti bapak-bapak tentara yang sering muncul di televisi waktu itu). Yang pasti, sejak saat itu saya selalu memakai pakaian itu setelah mandi pagi hingga mau tidur lagi. Saya benar-benar menelantarkan dan membuat cemburu semua pakaian yang ada dilemari saya saat ini. Tidak selesai sampai disitu, waktu itu saya juga terserang penyakit hectic menonton film Rambo yang dibintangi oleh aktor kawakan Sylvester Stalone. Di film itu, nampak gagah sekali menjadi seorang tentara yang berjuang sendiri di tanah lawan. Seingat saya, saya pernah menontonnya 11 kali berulang-ulang hingga saya hafal semua dialognya. Saya menyimpulkan bahwa menjadi tentara itu ternyata hebat. Sejak saat itu, saya bercita-cita menjadi seorang tentara. Beres.

#cerita2

Film-film di waktu saya kecil tidak seperti film saat ini, yang penuh dengan adegan cengeng dan cinta. Di zaman kekanakan saya, program televisi selalu dipenuhi dengan film-film superhero semacam Saras 008, Astral, Milky Man, Gundala Anak Petir, dan Panji Manusia Milenium. Saking terinspirasi dengan berbagai film itu, saya sering menduga bahwa saya terlahir sebagai seorang anak dengan kekuatan supranatural. Saya pernah mencoba terbang dari atas genteng rumah kawan, tapi gagal dan malah mendapat hadiah luka-luka di lutut. Saya juga pernah mencoba berangan-angan suatu saat ada monster yang datang dan merusak ke kota saya. Di saat itu saya akan berubah menjadi seorang pahlawan yang menggunakan topeng dan sayap untuk melawan monster itu dengan berani. Dan yang paling parah, saya sering mencoba menirukan gerak-gerik Kotaro Minami saat berubah menjadi Kesatria Baja Hitam di kamar mandi dengan harapan suatu saat nanti bisa berubah seperti dia. Ya, waktu itu saya sudah yakin, bahwa suatu saat nanti saya akan menjadi seorang superhero pemberani yang akan melawan semua musuh. Lihat saja. Tamat.

#cerita3

“Pak Habibie? Siapa tuh”, gerutu saya yang pernah hidup di masa presiden Suharto waktu itu. Saya pertama kali mendengar nama itu setelah Joshua pernah menyanyikan lagu Pesawat Terbang. Lalu saya berusaha bertanya pada orang tua saya siapa orang itu dan apa pekerjaannya.  Kemudian orang tua saya menjelaskan dengan panjang lebar bahwa beliau adalah orang cerdas Indonesia yang telah membawa kemajuan teknologi di negeri ini, khususnya dalam bidang penerbangan. Entah kenapa sejak saat itu, saya jadi rajin belajar, membaca buku sekolah setiap hari, dan berjuang keras untuk mendapatkan posisi terbaik di kelas. Jika ada pesawat yang lewat diatas kepala,  saya selalu menyempatkan untuk mendongkakan kepala saya kelangit agar bisa melihat pesawat itu dengan teliti. Setiap hal itu saya lakukan, hati saya selalu bergumam “Lihat saja Pak Habibie, saya akan mengalahkan Bapak saat saya dewasa nanti”. Selesai.

#cerita4

Saya tidak tahu jika tidak ada orang itu. Orang itu merawat tubuh saya yang melepuh ketika saya mendapat musibah terciprat air panas dari sebuah termos. Dia selalu menunjukan senyumannya yang khas dan ucapan-ucapan penyemangat seperti “cepat sembuh ya dik..”, “wah adik hebat sudah tidak nangis lagi..”, dan kata-kata lainnya yang saya lupa. Saya tidak tahu siapa dirinya, tapi saya dapat mengenali ciri-cirinya dengan melihat kelakuannya yang sangat lemah lembut dan baik tutur katanya. Kelak 3 tahun berikutnya, barulah saya tahu siapa mereka. Mereka adalah “dokter”, demikian buku ajar kelas 1 saya mengistilahkannya. Diam-diam, saya berbisik pada diri saya sendiri  bahwa saya ingin seperti mereka kelak dimasa depan, saya ingin berada di barisan mereka juga untuk membantu orang yang sakit di suatu tempat di bumi ini. Habis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s