One day in Croco-Shark City

Hari jumat-sabtu lalu saya diundang sebagai pembicara dalam acara BEM ITS  di kota Surabaya (hore, jalan-jalan lagi…). Tema pembicaraannya adalah studi komparasi gerakan KM ITB dan BEM UI. Saya adalah perwakilan dari ITB dan Maman yang tak lain dan tak bukan adalah Ketua BEM UI secara langsung menjadi perwakilan UI. Dengan bekal tiket kereta turangga malam, saya pergi membawa ransel yang berisi snack, laptop, alat mandi, dan pakaian ganti buat besoknya saja. Setidaknya semua ini cukup untuk dua hari.

Surabaya. Ngomong-ngomong soal Surabaya, ini adalah kelima kalinya saya mengunjungi kota itu. Kota ini sangat bersejarah bagi saya, karena di tempat inilah kaki saya pertama kali berpijak di pulau Jawa. Saya sempat tinggal 1 bulan disana untuk mempersiapkan SPMB. Temperatur menggerahkan, masyarakat jawa dengan medok-nya luar biasa, pranata kota yang kompleks, merupakan hal tidak pernah terlupakan sejak 4 tahun lalu. Di kunjungan kelima ini, ternyata suasana itu tidak berubah. Tetap sama, dan tentu saja tetap panas (baca: puuanasnya rek).

Acara BEM ITS bertempat di suatu jalan Dukuhkupang -entah disuatu sudut mana di kota ini-. Yang pasti, panitia telah memberikan fasilitas memadai kepada saya dan Maman di sebuah kamar dengan 4 kamar tidur (padahal kami hanya berdua dan masih single) lengkap dengan AC, televisi, dan kamar mandi di dalamnya. Aduh, saya lupa mengambil foto bersama Maman di kamar itu, padahal jarang-jarang bisa satu kamar dengan Ketua BEM UI. huhuhu. Mungkin saja fotonya bisa dipasang untuk mengganti foto profil facebook saya yang usang itu. Alah.

Baiklah kita kembali ke pokok permasalahan. Ada yang menarik saat saya mengisi disana. Yang pertama adalah formalnya pakaian yang digunakan peserta kegiatan dan panitia. Tak pernah saya temukan seorang mahasiswa ITS disana kecuali mereka menggunakan sepatu pantofel, celana kain, kameja lengan panjang polos, dasi, dan jas almamater yang menyemat di badan mereka. Luar biasa. Kultur ini sangat berbeda dengan kultur  di kampus saya yang biasanya tidak terlalu mementingkan formalnya pakaian. Walhasil, mau tidak mau saya menyesuaikan pakaian dan gaya bicara untuk mengimbangi keseriusan peserta. Saat itu, saya bersyukur ternyata ada kemeja strip terselip selama satu minggu di ransel yang dapat membantu saya.

Hal kedua yang menarik adalah tingkat partisipasi dari peserta. Saya tidak menyangka bahwa tingkat kritis mahasiswa ITS sangat tinggi. Hal ini telihat dengan bertanyanya semua peserta yang ada diruangan tempat saya dan Maman mengisi. Semua peserta loh. Mereka banyak bertanya bagaimana cara membangun gerakan basis dan advokasi di kampus kami masing-masing. Kami berdua mencoba menjawabnya dengan detail dan komprehensif agar setiap penanya puas.

Saya teringat kembali dengan kata-kata Jim Collins dalam bukunya yang berjudul “Good to Great”. Dia mengatakan bahwa since good is never good enough, karena baik itu tidak pernah cukup baik. Spirit kawan-kawan ITS telah membuktikan bahwa mereka ingin menjadi lebih baik dari mereka yang dulu. Diam-diam, saya mencoba mengkomparasikan kembali spirit itu dengan spirit kawan-kawan yang ada di kampus saya sendiri. Mudah-mudahan saja titel ITB di bahu kami semua tidak membuat kami puas sehingga kami berhenti berkembang membuat gerakan baru yang menggebrak.

Selesai acara, saya dan Maman diajak wisata malam di kota Surabaya. Ya intinya, berkeliling-keliling men-tadabburi kota itu hingga jam 1 pagi. Sepulangnya dari wisata itu, kami menyalakan televisi sebagai ancang-ancang sebelum tidur. Ada kabar yang cukup mengagetkan di televisi. Ternyata presiden Hosni Mubarak akhirnya mundur juga dari tahtanya sebagai seorang Presiden Mesir. Akhirnya, jadilah malam itu menjadi malam yang panjang karena kami asyik berdiskusi tentang dunia, islam, dan Indonesia hingga kami semua beringsut-ingsut tidur.

Besoknya, Maman mendahului pulang ke Jakarta menggunakan pesawat di pagi hari. Kini tinggallah saya sendiri di kamar itu menunggu jadwal kereta sore tiba untuk pulang ke Bandung. Saya yang telah mati gaya sendiri di kamar, akhirnya didatangi salah satu panitia yang memang ditugasi untuk menemani saya jalan-jalan. Syukurlah.

Sebelum ke Stasiun Gubeng, saya diajak berkeliling dulu oleh panitia itu (belakangan saya baru tahu namanya Adi) ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Perjalanan bisa dikatakan cukup seru, karena bahan obrolan kami tidak pernah habis baik ketika di kendaraan, di rumah makan, dan di tempat persinggahan. Ada-ada saja yang bisa diobrolkan selama perjalanan. Saya puas sekali berkeliling hari itu.

Akhirnya waktu pulang telah tiba. Berbekal 3 buku baru yang saya beli di Surabaya untuk dibaca saat dikereta, saya pulang ke kota Bandung. Seperti biasa, tidak lupa saya bunyikan lagu home Michael Buble dari Vivaz Sony Ericsson saya untuk mengiringi kepulangan ini.[]

It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

 

2 thoughts on “One day in Croco-Shark City

  1. Mereka baru mau memulai kegiatan PM-nya Ros. Saat ini mereka fokus untuk mengamandemen konstitusi BEM mereka karena mereka telah anggap usang dan tidak cocok untuk masa kini.

    Nanti, kalau ada kesempatan insya Allah akan diundang lagi oleh mereka. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s