Kronologi Seorang Mahasiswa ITB

Awalnya, saya yakin bahwa masuk ITB bakal menyenangkan. Almamaternya terpandang di Indonesia, alumninya yang menyeruak sektor penting Indonesia, jaringannya luas dan multi-etnis, proses akademiknya yang disiplin, dan tentu saja mudahnya dapat pekerjaan. Hal-hal itu yang menggiurkan bagi saya pribadi dan membekas di otak saya lima tahun yang lalu. Setelah menjalani kehidupan di kampus yang terletak di kota Bandung ini, ternyata perlahan-lahan pikiran lama itu buyar sembari saya mengenal apa itu ‘realita bangsa’ dan ‘kemahasiswaan’. Lima tahun di kampus gajah ini, saya menyimpulkan bahwa masuk ITB bisa mencelakakan, tapi bisa juga mengasyikan.

Yang pertama adalah mencelakakan bagi yang tidak sadar. Seringkali didapati bahwa proses perkembangan pola pikir seorang siswa yang menjadi seorang mahasiswa terasa sangat lambat. Bahkan, mereka cenderung lupa bahwa mereka telah menjadi “seorang mahasiswa” yang notabene memiliki fungsi lebih dalam konteks pembangunan bangsa. Dalam hemat saya, mungkin hal ini disebabkan buaian bangga terhadap almamater yang terlalu lama dan berlebihan sehingga mereka lupa bahwa mereka akan menjalani sebuah kehidupan baru disini. Padahal tahun pertama merupakan turning point yang paling tepat untuk menciptakan sebuah perubahan emas dalam dirinya. Saya menyebut ‘perubahan emas’ tadi karena masa mahasiswa hanya terjadi sekali saja dalam kehidupan seorang mahasiswa ITB. Dan tentu saja tidak bisa diulang.

Yang kedua adalah mengasyikan bagi yang sadar. Ada beberapa siswa yang telah didoktrin oleh para kakak kelasnya  untuk melanjutkan kuliah mereka di ITB. Jadi, sejak SMA mereka secara otomatis tercerdaskan tentang perihal “kemahasiswaan” sebelum waktunya. Ada pula siswa yang sejak SMA telah mempersiapkan diri untuk masuk ITB. Karena mereka tahu betapa banyaknya hal yang akan mereka dapatkan di kampus itu, mereka mencoba diri untuk aktif dalam organisasi kesiswaan sehingga sense mereka untuk membangun sebuah gerakan mulai terbentuk. Ibarat resep makanan, mereka ibarat sedang mengadoni tepung roti mereka dengan perlahan, supaya saat masuk ke oven bisa menjadi roti yang enak nantinya. Saya ucapkan selamat bagi mereka yang telah masuk kedalam golongan yang sadar sejak dini. Selamat mengarungi kehidupan yang mengasyikan di kampus ini.

Yang ketiga adalah mencelakakan bagi yang tidak bergerak. Boleh jadi, ada banyak mahasiswa yang termasuk pada golongan yang sadar. Tetapi seberapa banyak dari mereka yang termasuk pada golongan yang bergerak? Seringkali ada beberapa mahasiswa yang sadar bahwa masalah bangsa ini adalah salah, sadar bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan permasalahan ini, sadar bahwa mereka harus bergerak, tetapi adakah banyak dari mereka yang mau bergerak untuk melakukan apa yang telah mereka sadarkan itu? Tidak. Saya tahu bahwa bergerak atau tidak adalah sebuah pilihan. Tetapi, yang saya yakini pasti sejarah kemahasiswaan ITB merupakan sejarah pelopor pergerakan. Para pioner pergerakan kampus ini telah mengajarkan bahwa bahasa karya mahasiswa ITB adalah bahasa pergerakan. Bukankah  adalah sebuah bentuk kesia-siaan sebuah potensi, jika kita hanya menghabiskan waktu untuk kepentingan diri sendiri tanpa bermanfaat buat orang lain?

Yang keempat adalah mengasyikan bagi yang bergerak. Berujung pada tujuan mahasiswa sebagai penjembatan antara pemerintah dan rakyat, ada berbagai macam bentuk gerakan yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan peran itu. Bisa berupa gerakan advokasi turun ke jalan, bisa berupa gerakan pengabdian masyarakat berbasis pada keilmuan jurusan masing-masing, bisa juga berupa gerakan alternatif membangun sebuah kewirausahaan sosial yang melibatkan masyarakat dan tetap mendorong pemerintah sebagai enabler-nya. Ada banyak jalan untuk bergerak dan ada banyak potensi mahasiswa yang bisa diberdayakan disini. Semakin banyak gerakan yang dibentuk oleh mereka yang bergerak, semakin terpupuk pula kepercayaan diri, idealisme, dan semangat untuk membangun bangsa. Mengasyikkan bukan ketika kita dapat berbuat sesuatu untuk bangsa ini?

Yang kelima adalah mencelakakan bagi yang tidak menyelesaikan. Perjuangan baru berakhir ketika keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tercapai. Fase mahasiswa hanyalah salah satu fase perjuangan dan bukan sebuah akhir. Bahkan bisa juga dikatakan bahwa pergerakan di masa mahasiswa adalah sebuah “proses pembelajaran” saja. Perjuangan selanjutnya adalah perjuangan yang dilakukan setelah kehidupan kampus telah usai. Fakta mengatakan, tidak sedikit juga alumni ITB yang mulai berguguran menjadi golongan yang tidak menyelesaikan perjuangannya karena berhadapan dengan sebuah “realitas dunia”. Segala idealisme dan kepercayaan diri yang telah dipupuk selama masa mahasiswa, perlahan-lahan pupus dihadang tantangan bangsa. Beberapa mantan aktivis ITB mengatakan, di dunia pasca kampus adalah pembuktian idealisme sebenarnya. Apakah pernyataan ini benar? saya juga belum tahu.

Yang keenam adalah mengasyikan bagi yang menyelesaikan. Ibarat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa ada banyak jalan menuju roma, begitu juga dengan perjuangan: ada banyak cara untuk menyelesaikan  perjuangan. Ada yang berjuang menjadi seorang birokrat, ada yang berjuang sebagai seorang profesional, dan ada juga yang mengabdi sebagai pejuang sosial. Setiap dari mereka memiliki jalannya masing-masing menuju satu tujuan yang sama. Disini, mereka tetap mengataskan kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadinya. Luar biasa, dan saya menyaksikan ada banyak alumni almamater saya yang berlaku demikian. Ini membuktikan bahwa golongan ini belum habis.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s