Kapitalisme dalam Pandangan Richard Branson

Mumpung lagi membaca buku “Crazy Global Enterpreneur”, ada tulisan sederhana yang bagus mengenai pemikiran Richard Branson tentang Kapitalisme. Ini ceritanya.

Di tahun 1970-an, ketika kami mendirikan Virgin Record, istilah “pengusaha” sudah tidak dipakai lagi di Inggris. Atau, jika masih ada yang memakainya, istilah itu diasosiasikan dengan sesuatu yang kurang baik. Seorang pengusaha yang menjalankan beberapa perusahaan sering dianggap sebagai “orang yang aji mumpung”. Dulu, aku tidak menganggap diriku sebagai orang yang aji mumpung. Tapi faktanya dalam sejarah, pengusaha selalu dianggap sebagai orang jahat. Mulai dari zaman Yunani kuno, masa Shakespeare, hingga masa kini, pengusaha selalu digambarkan sebagai orang yang haus akan uang dan kapitalis. Dan itu bukanlah citra yang bagus.

Pandangan media di Inggris memang sudah mulai berubah -walau tidak terlalu banyak. Ada beberapa elemen dalam pers di Inggris yang tetap menganggap bahwa pengusaha adalah banditt, yang suka menggelapkan pajak, dan merugikan negara. Para pengusaha mengambil resiko dengan citra tersebut saat memulai usaha, menciptakan produk baru dan menawarkan jasa yang akan membuat hidup orang lain lebih mudah, lebih baik, dan lebih aman.

Seperti yang dikatakan oleh temanku, Jon Butcher, Pengusaha ikut berperan dalam mengentaskan kemiskinan di dunia Barat, seperti yang telah diketahui oleh seluruh dunia Barat, seperti yang telah diketahui oleh seluruh dunia. Tidak ada sistem sosial lain yang bisa menandingi sistem pasar bebas dalam hal produktivitas, meningkatkan standar hidup dan menciptakan kemakmuran yang permanen. Asia berhasil keluar dari jurang kemiskinan berkat para pengusaha. Kemiskinan juga segera diberantas dari benua Afrika dalam sepuluh tahun ke depan berkat usaha yang tak kenal lelah para pengusaha.

Jadi, kapitalisme sebenarnya membawa manfaat, berbeda dengan komunisme dan sosialisme yang tidak lagi dipedulikan, karena memang tidak ada manfaatnya. Keduanya justru menyusahkan masyarakat, dan membuat manusia jatuh semakin dalam ke jurang kemiskinan. Sebuah bencana yang dikemas melalui sistem yang bagus, yang telah menghancurkan hidup ratusan juta jiwa manusia. Meskipun begitu, hingga kini masih ada elemen budaya kita yang tetap mengaitkan pengusaha dengan hal-hal buruk.

Pengusaha juga merupakan penderma terbesar di dunia, mulai dari Andrew Carnagie di abad kesembilan belas hingga Bill Gates di masa sekarang. Carnegie yang memperoleh kekayaannya melalui industri baja memberi sumbangan besar kepada hampir semua perpustakaan di duna pada abad kesembilan belas. Dari sanalah revolusi pendidikan berawal.

Jadi, biar aku perjelas lagi. Kewirausahaan bukan berarti mengeruk keuntungan dari pelanggan. Bukan berarti bekerja untuk kepentingan pribadi. Bukan berarti berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dan tidak selalu untuk menghasilkan uang yang banyak. Yang paling utama adalah bukan berarti membiarkan pekerjaan mengambil alih hidup kita.

Justru sebaliknya, kewirausahaan berarti mengaitkan apa yang menarik perhatian kita dalam hidup danmengubahnya menjadi sebuah usaha, sehingga kita bisa mengembangkannya dan mencapai banyak hal. Menurutku, kewirausahaan sudah ada di dalam jiwa kita -kata yang cukup serius tapi mungkin diolah menjadi sesuatu yang terlihat seperti permainan. Aku menganggap pekerjaan yang membosankan dan membuang waktu adalah bentuk pengkhianatan terhadap jiwa kewirausahaan yang ada didalam diri kita.

Selama berabad-abad -terutama setelah terjadinya Revolusi Industri pada abad kedelapan belas- Industri telah menelan kehidupan umat manusia dan menyebabkan pengusaha harus menyandang nama buruk. Pria dan wanita menjadikan diri mereka robot pekerja. Mereka diperlakukan layaknya ternak (dalam beberapa kasus, bahkan ternak dalam arti sesungguhnya, yang tenaganya terus-menerus diperas.)  Menurut pengalaman dalam hidupku, pergolakan di bidang politik, ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah iklim kerja, terutama di negeri-negeri berkembang. Bagi sebagian dari diri kita adalah suatu keberuntungan jika kita tidak lagi berpikir layaknya karyawan biasa, tapi lebih seperti seorang pengusaha. Era ‘bekerja untuk hidup’ sudah berakhir- akhirnya!

 

One thought on “Kapitalisme dalam Pandangan Richard Branson

  1. tapi semua sistem memang punya kelemahan,koq. sistem kapitalisme itu ga bisa memberikan jawaban atas pemerataan kesejahteraan. tapi memang solusi yang tepat atas pertanyaan “bagaimana meningkatkan kualitas hidup?”🙂

    yang jelas, semua balik lagi ke moral manusia lah. sistem kan cuma bikinan manusia, pasti ada bagusnya, pasti ada jeleknya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s