From Zero to Hero

Adakalanya kita belajar dari orang tua-orang tua yang telah sukses mendidik anaknya, dari seorang anak yang tidak bisa apa-apa (zero), menjadi seorang manusia yang tidak hanya hidup untuk membahagiakan dirinya sendiri melainkan juga orang lain (hero). Ada banyak pakar yang telah mendalami faktor pendidikan keluarga dalam perkembangan kehidupan manusia. Tapi paling tidak, semua penelitian itu berakar pada sebuah rumusan yang biasa disingkat dengan istilah 5-D. Apakah 5-D itu? Berikut saya jabarkan secara lugas dari berbagai sumber yang telah saya kumpulkan.

1. Define

Setiap orang tua (sebelum melahirkan seorang anak) sebaiknya memiliki sebuah visi masa depan di dalam rumah tangganya. Entah itu bagaimana arah kehidupan mereka jika memiliki anak, kapan mereka akan memiliki anak, berapa jumlah anaknya, hingga mendefinisikan kira-kira calon anak hendak dididik seperti apa dan mau menjadi apa. Pada intinya, orang tua yang baik harus mempersiapkan sejak awal pendidikannya.Dengan demikian, anak orang tersebut dapat diarahkan kehidupannya sejak kecil. Paling tidak, arah pendidikan anak orang tua tersebut telah berarah, dan membentuk kepribadian dan kompetensi anak dengan cepat.

2. Discover

Setelah anak lahir, keluarga terdekat yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua harus menemukan sebuah titik temu antara define yang telah direncanakan oleh mereka dengan potensi sang  anak. Ini yang terpenting: menemukan potensi sang anak. Sewaktu kecil, setiap anak punya kreativitas tidak berbatas. Sebaiknya anak jangan pernah dilarang untuk melakukan apa yang diinginkannya kecuali sangat berbahaya bagi sang anak itu sendiri. Disamping itu, ada baiknya juga orang tua memberikan sebuah alat-alat tambahan yang dapat memacu akselerasi untuk anak. Saat ini, telah banyak alat-alat (baca:  gambar, puzzle, permainan bongkar-pasang, alat musik, dan yang lainnya) yang beredar untuk memacu kreativitas mereka. Peran ayah dan ibu disini sangat sentral dan tidak bisa hanya dilakukan oleh salah satunya saja.

3. Dream

Sejak kecil, anak harus diajarkan untuk bermimpi besar. Percaya atau tidak,  impian yang tertancap di otak sang anak akan berpengaruh sangat besar pada kehidupannya di masa depan. Maka orang tua yang baik jangan pernah mematahkan semangat atau mengecap sang anak dengan istilah-istilah yang tidak baik. Setiap apa yang ditanamkan oleh orang tua akan terus membekas pada diri sang anak. Jika sang ortu berkata “bermimpilah nak, engkau harus menjadi pelaku sejarah” ataupun berkata “kamu jangan bermimpi, mana mungkin kamu bisa seperti orang besar itu” maka hal itu akan membenam di alam bawah sadar mereka dan secara tidak sadar akan menambah kepercayaan diri sang anak atau malah membangun dinding hambatan bagi anak tersebut untuk berkembang.

4. Design

Sembari orang tua berusaha menemukan potensi dan terus-menerus menginjeksikan mimpi sang anak, ortu harus mendesain segala keperluan untuk merealisasikan mimpi anak agar dapat terwujud. Misalnya ada ortu yang telah mengetahui bahwa sang anak ahli dalam bermain alat musik, maka ada baiknya orang tua mendesain pendidikan tambahan sekolah alat musik. Dengan demikian, sang anak dapat terus mengasah potensinya sehingga menjadi ahli. Disini orang tua harus mempertemukan kembali titik potensi sang anak dengan kemauan define sang orang tua untuk mendesain pendidikan jangka panjang sang anak. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Namun, tetap saja makna ‘terbaik’ tadi tetap disinkronisasi dengan potensi dan kemauan sang anak sehingga tidak menimbulkan sebuah keterpaksaan. Pada proses desain, sang anak harus dilibatkan pada proses pemutusan desain tersebut. Mereka harus dianggap sebagai seorang yang dewasa bukan sekedar anak kecil.

5. Destiny

 Mimpi dan desain yang melangit oleh sang anak memang baik, namun sang orang tua harus tetap menyeimbangkan pemahaman dan pemikiran sang anak tentang makna takdir. Takdir manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, dan manusialah yang berusaha mendekati dan menggapai takdir tersebut. Sampai di tahap ini, konsep tauhid (konsep ketuhanan) harus benar-benar tertanam dengan baik dalam diri sang anak. Hadirnya konsep takdir, ketuhanan, dan mimpi manusiawi dari diri sang anak akan membuat sang anak lebih merasa bertanggung jawab didalam hidupnya. Tatkala dia nanti sukses, dia ingat takdir. Begitupula sebaliknya, tatkala dia suatu saat gagal, dia juga ingat takdir. Artinya, sang anak faham bahwa segala sesuatunya sudah ada yang mengatur.

Untuk Fadil, Anis, dan Yasmin. Semoga kalian kelak akan menjadi nama anak-anakku yang akan menjadi anak sholeh dan bermanfaat bagi manusia dan umat ini ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s