Sebuah Pengantar Buku: Ngampus Itu Asik!

Mari Belajar dari Generasi Terdahulu

Kamu tentu sudah familiar dengan nama Sukarno, B. J. Habibie, Mark Zuckerberg, Bill Gates, atau Steve Jobs bukan? Coba tebak, mereka siapa? Ya benar, mereka adalah para manusia yang telah berhasil mengoptimalkan potensi diri mereka untuk membangun kehidupannya masing-masing, serta yang lebih penting lagi…nama mereka menjadi familiar karena kontribusi mereka untuk negara mereka masing-masing atau bahkan dunia.

Jika kita menelusuri sejarah kehidupan mereka, ternyata kita akan menemukan benang merah yang sama. Apakah itu? Ternyata mereka telah memulai momentum besar hidup mereka sejak muda, saat mereka sedang berkuliah. Semakin tua, mereka kian bersinar sesuai dengan kiprahnya masing-masing. Ada yang menjadi seorang pendiri partai dan selanjutnya menjadi presiden, ada yang menjadi ilmuwan ternama di negeri seberang, ada yang menjadi seorang pengusaha muda kelas dunia. Wow, keren-keren bukan?

Bukan main! Mereka telah mengajarkan pada seluruh pemuda yang ada di dunia ini bahwa kesuksesan dan kontribusi pada orang lain bisa dimulai sejak usia belia. Tidak perlu menunggu tua untuk sukses dan kontributif. Bagi mereka, ternyata ngampus itu memang sangat mengasyikan. Di kampus, mereka dapat berbagai macam hal yang membuat mereka bisa berpikir serta berbuat besar. Hebat ya.

Sekarang Bandingkan dengan Generasi Kita

Sekarang mari kita kembali pada generasi dan dunia muda kita. Pada umur yang sama dengan tokoh-tokoh tadi, apa prestasi yang telah kita buat di kampus kita? Atau pertanyaan yang lebih mendalam lagi, apa yang telah kita perbuat untuk membantu masyarakat sekitar kita sebagai seorang mahasiswa? Bukankah kita adalah seorang agent of change? Mana buktinya? Ups, maaf jika agak menohok pertanyaannya. Dengan begini kita jadi bisa merefleksikan diri kita sendiri dengan diri mereka.

Eits, bukannya bermaksud membanding-bandingkan loh ya…Tapi paling tidak, kita jadi tahu bahwa usia muda tidak akan menjadi halangan bagi kita untuk berprestasi lebih dan berbuat lebih. Mereka bisa, masak kita tidak bisa sih? Makanan kita sama, minuman kita sama, kampusnya bisa jadi juga sama dan bahkan planetnya pun sama. Mungkin ada yang mengatakan bahwa tantangan di zaman kita berbeda. Ya tepat sekali! Kamu seratus persen benar.  Tapi ingat, kita juga dilahirkan pada zaman dengan teknologi dan lingkungan yang bisa menjawab tantangan itu kok. Jadi tampaknya itu bukan alasan tepat untuk berdalih.

Loh…kalau begitu mengapa ada beberapa dari kita yang merasa jauh sekali dari level mereka? Padahal banyak kesamaan diantara kita semua dengan mereka. Jangankan berkontribusi untuk orang lain, mengurus diri sendiri untuk ngampus saja masih sulit. Bangun molor, lupa mengerjakan tugas kuliah, jarang masuk kelas, bahkan hingga malas mandi sebelum kuliah, masih jadi bagian dari keseharian kita. Gimana bisa jadi pemuda yang bisa berpikir dan bertidak besar kalau begitu? Oke, sabar dulu ya. Mari kita telusuri buku ini sampai habis terlebih dahulu sambil membongkar paradigma yang telah menghantui diri kita sendiri sejak lama. Temukan dan yakinlah bahwa kamu pasti bisa berubah dan bukan tidak mungkin kamu bakal bisa seperti mereka yang sudah berasyik ria di kampusnya. Saya dan beberapa kawan saya sudah membuktikannya.

Dan Era itu Bernama: Era Mahasiswa

Kawan-kawan sekalian, perlu diketahui bahwa era mahasiswa adalah era untuk mengasah kompetensi dan mengembangkan karakter kita, supaya kita nanti siap terjun ke dunia masyarakat melalui kompetensi dan kapabilitas kita. Kita telah tahu bersama bahwa umur seorang mahasiswa tidaklah lama dan hanya sekali dalam hidup kita. Kurang lebih umurnya hanya sekitar 4-6 tahun. Dengan demikian, mari kita fahami bersama bahwa waktu mahasiswa kita jangan pernah disia-siakan. Sekali sia-sia tidak akan terulang. Pasti gak mau kan kita menyesal di kemudian hari?

Kalau boleh saya mengibaratkan, sebenarnya era mahasiswa itu seperti mempersiapkan bekal perjalanan. Semakin banyak prestasi, pengalaman, dan pembelajaran yang kita raih dalam kehidupan mahasiswa kita artinya semakin banyak pula  bekal yang kita persiapkan untuk nantinya terjun ke dunia masyarakat. Bekal ini akan sangat membantu kita dalam merencanakan hidup kita sendiri maupun untuk mengkontribusikan diri kita untuk orang lain.

Dengan prestasi, kita dapat memupuk kepercayaan diri kita sejak dini agar dapat memimpin masyarakat di masa depan. Dengan pengalaman, kita dapat mengurangi berbagai kesalahan-kesalahan kita di masa mahasiswa kita dulu agar tidak lagi terulang dalam dunia masyarakat. Dan dengan pembelajaran, kita dapat memaksimalkan kompetensi kita agar dapat meraih tujuan yang kita inginkan dalam hidup kita. Kalau kita memang mampu berprestasi, belajar berorganisasi, dan menimba sekaligus banyak pengalaman dikampus, kenapa tidak kita borong semua sekalian?

Mahasiswa Akademisi vs Mahasiswa Aktivis

Kawan-kawan, barangkali kalian sudah banyak menemukan atau membaca buku dengan genre pengembangan personal diri, semisal buku yang menjelaskan secara detil tentang bagaimana meraih IPK yang tinggi?, bagaimana meraih pekerjaan yang diinginkan sejak mahasiswa?, atau bagaimana agar dapat menyelesaikan ujian yang baik? Intinya buku ini mengarahkan kita agar dapat menjadi mahasiswa yang baik.

Atau barangkali kalian juga sudah banyak menemukan juga buku kisah-kisah bagaimana banyak mahasiswa yang telah berkontribusi untuk orang lain sejak masa mudanya? Ada yang menjadi aktivis mahasiswa, ada yang jadi penulis, ada yang jadi pengusaha untuk bisa menunjukan eksistensi dalam kancah mengaktualisasikan dirinya sebagai mahasiswa yang bisa berkontribusi dan menginspirasi buat orang lain.

Saya telah membaca ratusan buku pengembangan diri, dan menemui bahwa kebanyakan penulis masih sering membedakan pembahasan antara mahasiswa akademisi dan mahasiswa aktivis. Jarang sekali penulis yang mencoba membahas pengembangan diri mahasiswa secara utuh, baik dari segi akademisnya sekaligus segi kontribusinya. Pembahasan keduanya tampaknya tidak bisa disatukan.

Hingga kini, saya masih meyakini gap pemisah antara mahasiswa akademisi dan mahasiswa aktivis masih belum rubuh, sehingga ada mahasiswa akademisi yang takut menjadi aktivis karena nanti nilainya jeblok, atau sebaliknya ada mahasiswa aktivis yang takut menjadi akademisi karena menganggu aktivitas organisasinya. Kan gak asyik banget kalau begitu. Kampus yang seharusnya asyik dan menjadi kawah candradimuka bagi para pemuda didalamnya, kini terbagi pada dua gerbang yang sulit: Pilih gerbang mahasiswa akademis, atau pilih gerbang mahasiswa aktivis. Sekali memilih, ya sudah, artinya kita tidak bisa memadukannya. Di gerbang aktivis, aktivis akan menjadi aktivis dengan segala kriteria didalamnya. Di gerbang akademisi, akademisi akan menjadi akademisi dengan segala kriterianya pula.

From Good Students to Great Students

Lantas, mungkin sebagian dari kamu akan ada yang bertanya… ini buku apaan ya? Mengapa saya harus membeli dan membaca buku ini?. Oke, no problem, saya akan menjawabnya.

Buku ini sebenarnya lahir dari manifestasi pengalaman dan pemikiran saya selama saya berkuliah serta berorganisasi yang concern dalam pengembangan karakter mahasiswa. Saya meyakini bahwa pembahasan antara bagaimana menjadi mahasiswa akademisi dan aktivis yang baik dipadukan, atau malah menjadi proses pengembangan karakter yang berkelanjutan dalam satu era seorang mahasiswa (baca: era kita) yang tidak bisa kita pisahkan. Artinya, didalam buku ini saya ingin mengajak kepada kita semua untuk berpikir lebih baik dengan memandang bahwa kita sebagai mahasiswa bisa berprestasi sebagai akademisi dan aktivis sekaligus.

Pada dasarnya, mahasiswa memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengembangkan kompetensinya masing-masing berdasarkan jurusan mereka masing-masing. Mereka fokus untuk belajar agar mendapatkan nilai yang baik dan sesekali mengaktualisasikan dirinya dalam prestasi akademik lainnya seperti lomba kejuruan atau sejenisnya. Dalam hal ini, saya menyebutnya dengan istilah good students.

Dalam keberjalanannya, adanya beberapa orang dari mahasiswa keluar dari zona nyamannya untuk mengembangkan lebih dirinya di dalam organisasi kemahasiswaan. Dititik transisi ini, sang mahasiswa tersebut telah mengalami masa transisi untuk meningkatkan perannya menjadi seseorang yang dapat berguna bagi orang lain. Namun fakta dilapangan ternyata tidak semua mahasiswa dapat bertahan disini. (bersambung….)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s