Belajar dari Sifat Menyesal

Kemarin, saya pulang ke Bandung bersama kawan saya, sebut saja “bunga”, dengan menggunakan mobil Jazz dirinya. Saya dan dia telah bersahabat sejak lama karena kami telah satu jurusan kuliah sejak tingkat dua. Tak pelak lagi, obrolan pun meluncur deras dari mulut kami berdua. Dari permasalahan bisnis hingga permasalahan pribadi telah menjadi bahan bakar obrolan kami di jalan tol.

Saban perjalanan, sesekali sahabat saya bertutur bahwa kerap dia menyesal saat mengingat masa kuliahnya yang tidak dijalankan dengan benar. “Bunga” baru merasakan dampak ketidakseriusan kuliahnya itu sekarang: saat masa paska kampus dimulai. Saya pun juga demikian. Ada beberapa lingkup dalam kehidupan saya yang saya sesali dan sampai sekarang masih berasa bekasnya. Tak mau hilang. Akhirnya kami saling menasehati untuk tetap bersemangat, dan mencoba membangun mimpi dan berusaha keras menggapai cita-cita kami masing-masing.

Sobat sekalian, dalam kehidupan ini Allah telah menyisipkan berbagai fitrah didalam jiwa kita. fitrah untuk berbahagia, fitrah untuk bersedih, fitrah untuk berbagi, fitrah untuk mendekat dengan kebenaran dan menjauhi kemungkaran, dan termasuk juga fitrah untuk menyesalkan. Dalam konteks kehidupan dunia dan akhirat, Allah telah menguatkan perihal tentang makna “menyesal” dalam salah satu ayatnya:

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu. (QS 6:31)

Seringkali kita menghadapi penyesalan di hari belakangan. Rasa menyesal timbul ketika kita tidak mendapati apa yang kita inginkan, setelah kita menjalani proses untuk menggapai keinginan tersebut. Persis seperti saya dan “bunga”, sahabat saya tadi, yang menyesal dalam kehidupan kuliah kami. Saat ini, saya dan “bunga” hanya bisa belajar dari kesalahan-kesalahan kami di masa lampau, dan mencoba memperbaiki kehidupannya kembali mulai dari sekarang.

Mari kita sedikit berkontemplasi, dari era kuda gigit batu hingga era kuda gigit microchip seperti saat ini, sudah beribu-ribu generasi telah menjalani kehidupan dalam dunia ini. Telah banyak karya dan pelajaran yang telah mereka tumpah ruahkan untuk menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. Ibaratkan sebuah labirin kehidupan menuju cita, para generasi terdahulu telah memberikan berbagai petunjuk jalan menuju cita-cita tersebut. Jadi, seharusnya saat ini kita dimudahkan karena kita tidak perlu mengulang kesalahan yang dibuat oleh orang-orang pendahulu kita.

Tetapi yang cukup unik, ternyata hingga hari ini kita masih menemukan orang-orang yang masih  melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan orang-orang sebelum kita. Padahal semua kesalahan-kesalahan tersebut sudah jelas terpapar. Kita mungkin tahu bahwa penyebab banyak orang yang gagal dalam hidupnya adalah karena orang tersebut malas, sering bolos sekolah, jarang membaca buku, atau tidak terbuka. Tapi tidak jarang ditemukan kita malah melakukan berbagai hal tersebut, padahal sudah tahu ujung-ujungnya bakal mengarah pada kegagalan. Aneh bin ajaib bukan? Saya pernah..kalau sobat gimana?

Sobat sekalian, menyesal dalam kehidupan ini adalah sebuah hal yang fitrah. Kita gagal dan kita menyesal, adalah sebuah hal yang wajar. Namun kegagalan yang terus-terusan terjadi tanpa ada evaluasi akan menjadi sebuah hal yang tidak wajar. Mengapa tidak wajar? Ya, karena kehidupan kita terus bergulir dengan berbagai cobaan-cobaan baru. Satu cobaan selesai, datang lagi cobaan lainnya. Tanpa ada persiapan dan evaluasi dari setiap apa yang kita lakukan, kita sama saja mendaftarkan diri kembali di daftar orang-orang menyesal berikutnya. Rasul bersabda:

barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini bahkan lebih buruk dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang celaka.

Maukah kita menjadi orang yang merugi apalagi orang yang celaka? Tentu saya yakin tidak ada sobat yang mau menjadi seperti itu.

Filsuf kesohor Yunani Aristoteles pernah mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita lakukan. Secara tidak langsung, ini benar adanya. sebenarnya berbagai apa yang terjadi didalam hidup kita akan membentuk karakter kita. Setiap orang yang punya karakter kerja keras, pasti memiliki aktivitas yang banyak dan target yang ingin dicapai. Setiap orang yang punya karakter disiplin, pasti memiliki banyak kegiatan efektif. Setiap orang yang telah memiliki karakter malas, pasti akan banyak pekerjaannya yang tidak selesai.

Penulis buku ternama, Stephen Covey, bahkan menguatkan tentang pembentukan karakter lewat kebiasaan efektif ke-7: Mengasah Gergaji. Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam membentuk karakter. Pembaharuan karakter ini dapat kita lakukan dengan pemenuhan kebutuhan pikiran, fisik, serta amalan kita terhadap orang lain. Semakin sering kita membentuk sebuah kebiasaan positif, maka semakin besar pula peluang kita untuk menjadi berbeda atau bahkan lebih baik daripada hari kemarin.

Sobat, menyesal adalah hal yang mahfum. Tuhan pun dapat memakluminya. Kita semua pasti pernah menyesal. Tapi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa bangkit dari penyesalan di masa lalunya tersebut. Banyak manusia yang dapat menjadikan “sesal” mereka menjadi sebuah batu loncatan mereka untuk sukses dalam kehidupan mereka selanjutnya. Gak percaya? Silakan sobat baca kembali buku-buku biografi orang besar di dunia ini –bisa juga baca buku 100 orang paling berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart-. Disana, kita akan menemukan sebuah benang merah yang sama. Bahwasanya, orang-orang sukses bukanlah orang yang selalu sukses didalam hidupnya. Orang sukses ialah orang yang mampu bangkit dari keterpurukan sesalnya dalam waktu yang tidak lama.

Sebagai penutup, Allah telah berfirman dengan indah dalam salah satu ayatnya:

Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 39: 53)

Sobat semua, Allah selalu membuka pintu rahmat, doa, dan ridho selebar-lebarnya untuk semua manusia. Jangan pernah berputus asa dan terlalu lama ringkih dalam penyesalan. Semoga sukses!

One thought on “Belajar dari Sifat Menyesal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s