Catatan 2: Persiapan Mengemas Diri seorang Engineer

“Pertama Anda butuh bakat. Anda juga butuh bertemu seseorang yang bisa memercayai dan memberimu kesempatan. Anda bisa membayangkan, banyak orang memiliki bakat dalam hidupnya, tetapi tidak pernah bertemu seseorang yang memberi mereka kesempatan”

-Arsene Wenger, Pelatih Arsenal-

Dalam Catatan Seorang Engineer kali ini, saya ingin membahas sedikit tentang cara mengemas diri kita dihadapan publik. Terinspirasi dari quote yang disampaikan oleh Arsene Wenger diatas, kita dapat membayangkan bahwa ternyata orang yang berbakat di dunia ini pun tidak akan bisa sukses jika tidak ada yang memberikan kesempatan. Pemberi kesempatan itu hanya akan memilih siapa-siapa saja yang mereka anggap dapat bersinar atau berkembang lebih banyak. Tentu tidak mudah menjadi orang yang terpilih, hanya mereka yang mampu “menjual diri” mereka dengan baik yang akan mendapatkannya.

Teknologi yang semakin berkembang dan waktu transportasi yang semakin cepat, semakin memudahkan manusia untuk berkembang lebih cepat. Namun tetap saja, hanya manusia-manusia yang memiliki kemampuan mengemas diri sajalah yang akan dapat menuju puncak. Jadi jika kita ingin biasa-biasa saja, sebenarnya kita tidak perlu mengemas diri kita dengan baik. Tapi jika ingin menjadi the best atau the one dalam komunitas kita, mau tidak mau kita harus belajar cara mengemas diri. 

Sebagai gambaran lebih lanjut, jika kita diberi kesempatan memilih, mana yang akan kita prioritaskan diantara tiga pilihan berikut: Barang 1 adalah barang dengan kualitas bagus namun kemasannya sangat jelek sekali, barang 2 adalah barang dengan kualitas biasa namun dikemas dengan menarik, dan barang 3 adalah barang yang memiliki kualitas bagus dan juga kemasan yang bagus. Kebanyakan orang pasti akan mengurutkan pilihannya dari barang 3, barang 2, dan  barang 1.  Mereka berani membayar mahal asal mendapat balasan yang setimpal.

Jadi, apakah Anda karyawan, pebisnis, politikus, atau aktivis sosial, perlu kiranya untuk memahami permasalahan mengemas diri. Karyawan perlu mengemas diri dengan baik agar menjadi “buronan” headhunter dimana saja. Pebisnis perlu mengemas diri untuk menjaga kesetiaannya dari kliennya. Politikus perlu mengemas diri untuk menjaga kepercayaan konstituennya. Dan aktivis sosial pun juga perlu mengemas diri dengan baik agar dapat menimbulkan efek domino besar pada sektor kerjanya. Dari sini, sebenarnya saya ingin menekankan bahwa semua manusia yang ingin berkembang lebih cepat, mereka harus bisa mengemas dirinya dengan baik. Ibarat sebuah barang, jika Anda dapat mengemas diri dengan baik, maka akan semakin mahal harga Anda.

Mengemas diri bukan berarti kita riya’, pamer, atau sombong. Mengemas diri adalah bentuk pertahanan kita dalam persaingan global seperti saat ini. Bagaimana cara kita bisa mengemas skill dan kemampuan kita itulah yang akan menentukan. Komunikasi yang kurang lancar, sulit dihubungi, belum melek internet, jarang memiliki pengalaman menyelesaikan pekerjaan, konflik, dan kerja sama tim, merupakan rambu-rambu yang menunjukan sikap ketidakprofesionalan kita terhadap rekan kerja kita. Dalam bahasa yang sedikit sarkasme, bisa jadi skill kita akan menjadi tampak ‘murahan’.

Lalu, mungkin akan timbul pertanyaan, bagaimana cara mengemas diri? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus menjawab dulu pertanyaan: apa yang mau kita kemas? Tentu semua akan mudah dikemas, jika sudah ada barangnya. Jika tidak ada barangnya, loh apa yang mau kita kemas? Betul tidak? Hehe.

Paling tidak ada 3 jenis “barang” yang harus senantiasa kita terus kembangkan dan jadikan lebih baik selama hidup kita. Ketiga barang itu adalah Personality skills, Knowledge-based skills, dan Transferable skills.

Personality Skills adalah sebuah hal yang berkaitan dengan kepribadian diri kita sendiri. Misalnya pemalas, pekerja keras, disiplin, konsisten, moody, dan sebagainya. Istilah lain dari hal ini sebenarnya adalah karakter dari diri kita sendiri. Jadi barang pertama yang kita kemas adalah karakter. Karakter tidak bisa dibuat-buat dan berubah semau-maunya kita. Karakter itu tumbuh karena dipelihara dan dilakukan berkali-kali. Karakter itu memang kuat, tapi bisa diubah pelan-pelan. Ada banyak buku yang membahas tentang membentuk karakter, dan kita bisa temukan banyak tips-tips dari sana.

Knowledge-based skills adalah hal yang berkaitan dengan pendidikan kita sendiri. Jadi misalnya kita kuliah di jurusan x, maka pada idealnya kita pasti akan mengerti istilah-istilah di jurusan tersebut, program-program software dijurusan tersebut, dan kemampuan teknis dijurusan tersebut. Semakin kita mendalami keilmuan kita, maka akan semakin cakap pula kemampuan dalam hal teknis kita. Namun, ketika kita tidak terus mengasahnya maka kemampuan kita bisa konstan dan tidak berkembang.

Transferable skills adalah hal yang berkaitan dengan pengalaman kita terhadap orang lain. Misalnya kemampuan menyampaikan ide kepada orang lain, kemampuan bernegosiasi, kemampuan menganalisis masalah, kemampuan membuat perencanaan,kemampuan mengatasi internal fisik, dan lain-lainnya. Kunci untuk mengembangkan skill ini adalah bersosialisasi dan berorganisasi. Tanpa pernah melibatkan diri kita terhadap orang lain, kita tidak akan pernah bisa mengembangkan skill ini.

Setelah kita menganalisis dimana saja kekuatan kita di tiga “barang” tadi. Barulah kita menuju step selanjutnya, yaitu bagaimana cara pengemasan diri itu sendiri. Mengemas diri sangat berbeda dengan membiarkan diri kita dikenal oleh banyak orang secara alamiah. Dia memerlukan strategi agar dapat maksimal dan menunggu momentum yang tepat. Apa saja strategi untuk dapat menjual diri kita pasca kita telah mengemas diri? Tunggu ditulisan saya selanjutnya.[]

2 thoughts on “Catatan 2: Persiapan Mengemas Diri seorang Engineer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s