Catatan 3: Kemas dan ‘Jual’ Diri Kita

Dalam Catatan Seorang Engineer kali ini,  saya ingin melanjutkan sedikit bahasan yang telah saya bahas sekitar beberapa hari yang lalu, yaitu tentang mengemas diri. Jika tulisan yang lalu saya lebih membahas tentang ‘barang’ yang dikemas, maka sekarang saya ingin membahas bagaimana cara menjual apa yang telah kita kemas dengan baik ini. Singkat katanya, saya ingin membahas tentang bagaimana tentang bagaimana cara ‘menjual’ diri kita.

Percaya atau tidak, ternyata proses mengemas diri kita dengan baik, itu baru menaikan satu level untuk dapat melanjutkan kehidupan publik kita. Jadi sebenarnya walaupun misalnya kita telah memiliki kedisiplinan yang tinggi, banyak pengalaman lapangan, atau memiliki kemampuan teknis yang banyak, belumlah cukup jika kita tidak bisa menjual diri kita dengan baik.

Ditengah persaingan global seperti dewasa ini, kita ternyata tidak hanya harus berkompetisi dengan kawan-kawan yang ada di depan, belakang, kiri, kanan, dan disekitar kita. Orang-orang yang ada di negara tetangga sana, negara jauh sana, benua lain sana, merupakan kompetitor kita. Di dunia digital seperti saat ini, kita tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat yang bernama batas negara.

Saya sering membaca beberapa sumber tentang persiapan S2 di negeri seberang. Dari sumber tersebut, saya mendapati ternyata ada banyak orang dari negara Cina dan India sana, yang benar-benar melakukan berbagai cara  untuk dapat mengemas diri mereka dengan baik. Mulai dari mengalokasikan sebagian besar pendapatan mereka hingga menjual rumah, mereka rela lakukan untuk semua untuk satu hal: meningkatkan kemasan diri mereka. Mereka melakukannya untuk bekerja, berbisnis, atau ingin melanjutkan sekolah di barat. Luar biasa!

Mari kita kembali ke negeri kita. Saya mungkin harus sedikit tega mengatakannya: Sekarang coba kita bandingkan usaha kita dengan mereka yang ada diluar sana? Apakah sudah sebanding? Kurang? Lebih? Jika kita memang tidak bisa melampaui mereka dalam suatu bidang, maka kita bisa memutar strategi kita dengan memaksimalkan cara menjual diri kita.

Masih ingat dengan istilah prioritas 3 barang yang saya berikan ditulisan sebelumnya? Seseorang bisa jadi memang memilih barang-barang yang berkualitas bagus, tapi seseorang PASTI akan memilih barang-barang bagus yang telah memiliki strategi penjualan yang bagus.

Bagaimana strategi ‘menjual’ diri kita dengan baik? dan apa parameternya? Karena prinsip menjual diri selalu melibatkan orang lain, maka strategi yang kita buat dan eksekusi harus selalu memiliki orientasi orang lain. Jadi jika mengemas diri lebih dependence terhadap diri sendiri, maka menjual diri lebih interdependence terhadap orang lain. Ada 4 hal yang saya sarankan agar kita dapat melejitkan nilai dan daya jual kita.

Yang pertama adalah be the One. “Jadilah yang satu-satunya”. Kadangkala, membuat sebuah diferensiasi yang mencolok antara diri kita dengan orang lain akan melejitkan nilai jual kita. Ingat Briptu Norman dan Shinta and Jojo? Mereka melejitkan diri mereka dengan melakukan hal yang kontroversial dengan mengunggah video mereka di media sosial youtube. Mereka telah menjadi the One. Akibat kreativitas mereka ini, kini kita bisa lihat bahwa Briptu yang awalnya hanya seorang polisi biasa, Shinta and Jojo yang awalnya hanya dua mahasiswi biasa dapat melejit menjadi seorang artis dadakan.

Kita juga bisa melakukan hal ini. Berusahalah membuat sebuah diferensiasi dalam keseharian kita. Jangan mau menjadi sama seperti orang lain. Jika ada orang yang bisa suatu keahlian, coba kita cari sebuah keahlian lain yang nantinya akan menjadi ciri khas kita. Pak Habibie kita kenal dengan keahliannya membuat mesin pesawat, Taufiq Ismail dikenal keahliannya dalam mengulik sebuah seni, Gunawan Muhammad dikenal dengan dunia jurnalistiknya. Lantas kita…..kita mau dikenal sebagai apa?

Yang kedua adalah be the Best. Selalu berusaha melakukan yang terbaik disetiap pekerjaan kita. Sebuah hasil yang  baik, pasti berasal dari proses yang baik. Sebuah hasil terbaik, pasti juga berasal dari proses usaha terbaik kita. Untuk dapat menjual diri kita dengan baik, memang cara yang paling konvensional adalah menjadi yang terbaik. Jika berbisnis, maka kita berusaha menjadi orang yang terbaik dalam bisnis tersebut. Jika kita ingin bekerja, maka kita berusaha untuk menjadi pekerja yang paling baik di sektor tempat kita bekerja. Dan seterusnya.

Memang sulit untuk menjadi the best. Tapi teruslah mencoba. Kalau kita sering melihat kesuksesan banyak orang-orang besar di dunia ini, cobalah tengok juga proses mereka mencapai kejayaannya tersebut. Pasti kita akan mendapati sebuah benang merah, bahwa mereka memang telah berjuang semaksimal mungkin untuk menghasilkan hasil yang terbaik. Coba baca riwayat mereka, dan ikuti jejak-jejak langkah mereka menuju kesuksesan.

Yang ketiga adalah be the Proactive. Strategi pertama ini saya ambil dari satu kebiasaan manusia efektif dari buku Stephen Covey. Proaktif adalah sebuah kebiasaan untuk berinisiatif dalam melakukan sesuatu. Hal ini sangat disukai dan diharapkan oleh orang kebanyakan. Orang-orang proaktif adalah orang-orang yang telah memilih tindakan dan mereka selalu bertanggung jawab atas segala apa yang dia perbuat.

Inisiatif dan tanggung jawab adalah kesan yang pasti membekas mendalam terhadap orang lain yang bekerja sama dengan kita. Nilai jual kita pasti secara otomatis akan terus meningkat. Cobalah untuk secara konsisten menjadi the Proactive hingga nanti menjadi kebiasaan kita. Memang pada awalnya nilai jual kita tidak akan meningkat secara drastis. Namun secara perlahan, nilai jual kita akan semakin meningkat seiring dengan kebiasaan kita yang semakin terasah. 

Yang terakhir adalah be the Provocative. Provokatif yang saya maksud disini adalah milikilah sebuah media untuk mengkoar-koarkan siapa diri kita dan apa pemikiran kita. Biarkan orang lain itu tahu siapa kita dan biarkan mereka lebih aware terhadap kehadiran kita. Ada banyak media sosial yang bisa kita ikuti, untuk memberitahu siapa diri kita (Facebook, Twitter, Linkedln, WordPress, Tumblr, Blogspot, dll).

Coba perhatikan para orang-orang yang nota-benenya ’sudah terjual’. Apapun yang mereka katakan dalam media yang mereka punya selalu mendapat perhatian dari banyak orang dan berpotensi besar untuk didengar. Atau kalau kita perhatikan status media sosial para orang itu walaupun isinya cuma satu dua kata tapi komentarnya bisa puluhan bahkan ratusan. Dari kata-kata di sebuah media, dapat memunculkan siapa diri kita, dan juga sekaligus meningkatkan nilai jual kita.[]   

2 thoughts on “Catatan 3: Kemas dan ‘Jual’ Diri Kita

  1. assalamu’alaikum kang ryan

    mau buat buku lagi ya? sukses yaa🙂
    mau intermesso sedikit nih oom🙂

    in my short opinion..untuk poin yang Be Proactive..ente kan men-define nya sebagai “Proaktif adalah sebuah kebiasaan untuk berinisiatif dalam melakukan sesuatu.”
    Kalo menurut ane sih ga ada yang kurang, atau salah..tapi kayanya agak kurang tepat kalo disambungkan dengan poin Be Proactive nya Stephen Covey.
    Walopun ente tambahin lagi dengan menjelaskan bahwa “Orang-orang proaktif adalah orang-orang yang telah memilih tindakan dan mereka selalu bertanggung jawab atas segala apa yang dia perbuat. ” yang memang ini merupakan bottom line nya si Covey.

    Mungkin cuman masalah penyusunan kalimatnya aja sih hehehe..

    btw udah diterima dimana nih?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s