Mengurai Pemberdayaan Putra Daerah

Tumbuh atau mati setiap daerah bergantung pada pemuda didalamnya. Tidak salah ketika orang bijak pernah mengatakan bahwa jika di suatu daerah terdapat banyak pemuda yang baik, maka baiklah daerah tersebut. Dan sebaliknya, jika di suatu daerah terdapat banyak pemuda yang buruk, maka buruklah daerah tersebut.

Memang hal ini dapat diterima secara logis sebagai hal yang benar, mengingat pemuda termasuk dalam level manusia yang berumur produktif, dimana mereka menjadi poros utama dalam membangun daerah. Jika digambarkan secara statistik, hingga kini komposisi penduduk Indonesia masih berbentuk “piramida”, dimana jumlah pemudanya belum mencapai titik ideal dibandingkan kaum usia non produktifnya. Mungkin inilah salah satu faktor penghambat mengapa banyak daerah Indonesia yang masih belum bisa maju.

Sebelum berbicara tentang peran putra daerah lebih jauh, ada baiknya kita mendefinisikan terlebih dahulu makna putra daerah dengan beberapa bagian sederhana. Menurut Eep Saefullah Fathan dalam satu tulisannya, ia membagi putra daerah menjadi  4 kategori: genealogis, politik, ekonomi, dan sosiologis.

Pertama, “putra daerah genealogis,” yakni mereka yang sekadar memiliki kaitan darah dengan daerah itu tetapi tidak menetap dan) di situ. Putra daerah genealogis terbelah lagi ke dalam dua kategori: Mereka yang kebetulan dilahirkan di daerah bersangkutan dari (salah satu atau kedua) orang tua yang juga berasal daerah tersebut, dan mereka yang tidak dilahirkan di daerah tersebut tapi memiliki orang tua yang berasal dari daerah bersangkutan.

Kedua, “putra daerah politik”, yakni putra daerah genealogis yang memiliki kaitan politik dengan daerah itu. Misalnya: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari daerah tertentu yang sebelumnya tak punya kiprah politik dan ekonomi di daerah tersebut atau Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Pusat yang oleh partainya ditempatkan sebagai kandidat dari daerah yang memiliki kaitan genealogis dengannya.

Ketiga, “putra daerah ekonomi”, yakni putra daerah genealogis yang karena kapasitas ekonominya kemudian memiliki kaitan dengan daerah asalnya melalui kegiatan investasi atau jaringan bisnis di daerah asalnya. Dalam konteks sistem politik dan ekonomi Indonesia, putra daerah politik dan ekonomi ini biasanya hanya berhubungan dengan daerah asalnya secara pragmatis belaka. 

Mereka membutuhkan daerah lebih banyak sebagai basis pemenuhan kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri. Tentu saja, sebaliknya, daerah itupun sedikit banyak bisa memperoleh keuntungan politik dan ekonomi dari mereka.

Keempat, “putra daerah sosiologis”, yakni mereka yang bukan saja memiliki keterkaitan genealogis dengan daerah asalnya tetapi juga hidup, tumbuh dan besar serta berinteraksi dengan masyarakat di daerah itu. Mereka sungguh-sungguh menjadi bagian sosiologis dari masyarakat daerahnya.

Dari empat kategori sederhana diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa walaupun sama-sama putra daerah, namun tidak semua memiliki sebuah motif yang sama terhadap daerahnya itu sendiri. Ada yang memberdayakan daerah untuk menguntungkan dirinya sendiri, ada pula yang menguntungkan kedua belah pihak: dirinya dan daerahnya sendiri. Putra daerah turut berperan untuk menentukan arah perkembangan daerah tempat mereka berada.

Ada banyak wacana dan rencana yang digulirkan secara makro untuk mengarahkan pembangunan Indonesia menjadi lebih baik. Namun semua hal itu tidak akan bisa dilepaskan dari suksesnya pembangunan daerah-daerah didalamnya. Mustahil Indonesia bisa maju, jika daerah-daerah didalamnya saja masih belum terurus dengan baik.

Peran putra-putra daerah tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Pembangunan mental dan pikiran putra daerah harus dipersiapkan secara matang dan sistematis baik itu oleh keluarga maupun pemerintah daerah itu sendiri agar mampu menjadi bagian sosiologis masyarakat sekitarnya. Adanya sebuah program pembangunan sumber daya manusia yang baik, dapat menjadikan putra daerah sebagai aset strategis  tuan rumah di daerahnya sendiri.

Kita mungkin sudah terbiasa dengan fenomena putra daerah cemerlang bermigrasi dan bersekolah tinggi diluar daerahnya. Sebagian besar dari mereka berdalih ingin mendapatkan penghidupan dan pendidikan yang lebih layak. Namun yang terjadi di lapangan tidaklah semulus seperti apa yang diharapkan. Kenyataannya ada yang sukses serta akhirnya “nyaman” ditempat barunya dan ada juga yang gagal serta akhirnya menjadi beban bagi daerah barunya. Ini merupakan realita nyata yang terjadi di Indonesia. Untuk memutus rantai permasalahan ini, perlu ada program dari pemerintah untuk memberdayakan putra daerah yang potensial dan bisa berkomitmen untuk kembali untuk membangun daerahnya.

India, Cina, dan Jepang merupakan salah satu negara yang sukses melakukan hal ini. Pemerintah tiga negeri itu melakukan sebuah terobosan untuk mengirimkan pemuda-pemuda mereka yang potensial ke negara-negara maju (Amerika dan Eropa) untuk mencari ilmu dan membangun komitmen mereka untuk kembali ke daerah asalnya. Walhasil, kita bisa melihat bahwa kualitas pemuda-pemuda yang potensial negara itu tidak kalah hebatnya dengan kualitas pemuda-pemuda negara maju sana. Industri elektronik di Beijing hampir sama hebatnya dengan industri elektronik yang ada di New York. Industri software di Balangore hampir sama canggihnya dengan industry software diSilicon Valley. Industri otomotif diToyotahampir sama briliannya dengan industri otomotif di Jerman.

Dengan pemberdayaan putra daerah potensial secara efektif dan tepat sasaran, maka percepatan pembangunan daerah pun dapat terlaksana dengan baik. Bukan tidak mungkin, putra daerah ini nantinya juga pantas menjadi pilar-pilar nasional pembangun bangsa di masa depan. Bukankah itu juga yang menjadi mimpi para founding fathers dari negara ini yang ber”bhineka tunggal ika”? Jadi tata pemerintahan nasional tidak

Di Amerika, pilar-pilar pembangun bangsa yang berada Washington berasal dari kumpulan pemuda-pemuda terbaik dari seantero daerah-daerah lainnya. Jadi, satu keputusan negara memang merupakan keputusan dari anak-anak terbaik bangsa dari seluruh penjuru Amerika.

Indonesia memiliki berpuluh-puluh juta putra daerah yang tersebar di seluruh penjuru pulau-pulaunya. Negeri ini memiliki peluang besar untuk maju karena memiliki jutaan putra daerah yang potensial. Tinggal negeri ini cerdik untuk membuat sebuah rencana membangun sumber daya manusianya. Sudahkah?[]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s