Catatan 5: Menembus celah Keterbatasan

“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)

Catatan ini ingin saya tulis setelah saya menonton “Pengejar Angin”, sebuah karya Hanung Bramantyo yang bekerja sama dengan Pemprov Sumsel. Jadi film ini berkisah tentang perjuangan Dapunta, seorang anak perampok, yang ingin melanjutkan kuliah. Namun keterbatasan finansial dan lingkungan sekitar terkadang membuatnya ragu, apakah pilihan melanjutkan kuliah adalah lebih baik daripada melanjutkan karir bapaknya sebagai seorang perampok.

Saya rasa ceritanya cukup membumi dan bukan tidak mungkin kisahnya terejawantahkan secara nyata dibanyak daerah Indonesia. Saya yakin ada banyak putra daerah yang memiliki sebuah permasalahan Dapunta, namun sayangnya tak banyak yang bisa seperti Dapunta, yang mau bekerja keras ditengah keterbatasan dan mau mencari dukungan orang sekitarnya  sehingga akhirnya Dapunta bisa masuk UI dan juara lari tingkat provinsi.

Sahabat sekalian, kadang-kadang kita terlalu pasrah dalam sebuah keadaan, sehingga kita lebih memilih diam dan tidak mengerjakan apa-apa untuk menembus keadaan tersebut. Kita dibuat iri pada keberhasilan orang-orang yang sukses sehingga kadang tertutur pada mulut kita: “kok bisa ya dia bisa begitu?” “Hebat banget ya dia”. Kita berkata demikian seolah bahwa kita tidak akan bisa menyamai orang-orang yang sukses tersebut karena keterbatasan yang kita miliki saat ini.

Kadang-kadang kita lupa melihat sebuah proses yang dijalani orang yang luar biasa. Kita terlalu terpukau pada hasil yang dicapai seseorang tetapi lupa mencari jejak-jejak perjalanan yang ditapaki oleh si orang luar biasa tersebut. Padahal kalau kita telusuri rekam jejaknya, bisa jadi keadaan awal mereka itu kadang tidak jauh beda dengan keadaan kita saat ini.

Dari banyak hal yang membedakan, ternyata perbedaan utama kita dengan mereka adalah masalah kemauan. Lengkapnya, masalah kemauan untuk menembus batas keterbatasan. Memang tidak mudah untuk menembusnya, kita perlu pengorbanan dan kecerdasan. Selain itu, endurance diri mereka juga harus ditempa sesering mungkin karena kadang-kadang batas itu tidak mudah

Semua manusia sebenarnya diberikan kesempatan yang sama untuk mencoba. Namun tidak semua mengambil kesempatan tersebut, karena sebuah kosakata “takdir”. Manusia seringkali beranggapan bahwa dia saat ini adalah takdirnya. Padahal takdir itu tidak pernah mendahului usaha manusia. Makanya Allah berpesan dalam satu ayatnya: Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai kaum itu MAU untuk mengubah dirinya sendiri.

Sahabat sekalian, batas keadaan itu ibarat ruangan yang gelap. Untuk keluar dari sana, kita perlu memaksa diri untuk menggedor sebagian besar ruangan itu. Cari bagian lemahnya, dobrak, lalu temukanlah celah cahaya disana. Sekali sedikit cahaya masuk, maka semuanya akan jauh lebih mudah. Kita jadi tahu bagian mana lagi yang harus kita dobrak untuk dapat menghancurkan ruangan gelap itu.

Dalam kehidupan praktis kita, sebenarnya ada banyak cara buat kita untuk menembus celah keterbatasan. Bisa dengan memperbanyak membaca buku biografi orang sukses, membangun kebiasaan baik, dan senantiasa berada di lingkungan yang dapat membangun semangat kita. Namun semua itu tidak akan mudah jika kita tidak pernah memunculkan niat, kemauan, dan memaksa diri kita untuk melakukannya.

Percayalah, “pemaksaan” ini tidak akan berlangsung lama. Pada hakikatnya, pemaksaan akan membentuk sebuah karakter kuat dalam diri kita. Sebagai gambaran, pasti sahabat akan merasa susah sekali untuk membiasakan diri bangun sebelum fajar tiba pertama kalinya bukan? Sahabat perlu memaksa diri untuk membentuk kebiasaan tersebut. Tapi lihatlah dalam waktu 5-10 kali pembiasaan, maka kegiatan bangun sebelum fajar tiba tidaklah jadi masalah.

Kembali pada cerita Dapunta pada film “Pengejar Angin”, kita bisa melihat Dapunta adalah sosok pemuda yang memiliki jiwa pejuang tinggi. Dapunta tidak serta-merta cerdas tanpa suatu alasan. Dia menghabiskan waktu untuk belajar hingga jam 3 pagi. Dapunta juga tidak tiba-tiba menjadi pemenang kompetisi lari tanpa sebuah sebab. Dia menghabiskan waktu sorenya untuk menyusuri hutan sambil berlari. Maka wajarlah Dapunta sukses karena berkat kerja kerasnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita sendirilah yang menentukan apakah kita ingin menjadi seseorang yang menembus batas keterbatasan atau pasrah saja pada keadaan. Sekali lagi, itu terserah kita. Mumpung masih muda, energi masih kuat dan otak masih bisa berpikir panjang, tidak ada salahnya untuk mencoba mendobrak keterbatasan kita masing-masing. Jangan sampai terlambat. []

6 thoughts on “Catatan 5: Menembus celah Keterbatasan

    1. @niken
      coba kamu beristirahat sejenak….Perlu diketahui, semangat dan strategi itu merupakan dua sisi yang gak bisa dipisahkan dalam menjalani kehidupan. Semangat tanpa strategi akan menghabiskan banyak energi kita. Strategi tanpa semangat hanya akan menjadi wacana belaka.

      Untuk itu, membangun semangat dan strategi perlu kita lakukan secara bersamaan. Semangat bisa timbul dengan berteman dengan kawan-kawan kita yg juga bersemangat. Strategi bisa dibuat dengan banyak membaca dan mentoring dengan orang-orang yang sudah mengalami asam garam kehidupan. Untuk itu coba seimbangkan kedua-duanya ya.

      Ketika semangat kita luntur….coba kita banyak-banyak berteman dengan kawan yang bisa membangkitkan semangat kita lagi, selain itu mintalah pada Tuhan agar kita dapat melewati tantangan hidup kita dengan baik. Tuhan sudah berjanji bahwa dia tidak akan memberikan beban yang melebihi kapasitas hambaNya.

      Ketika strategi kita gagal….coba kita ubah strategi kita, jangan-jangan selama ini kita gagal karena kita masih menggunakan strategi yang sama. Selain itu catat track record orang-orang yang sudah sukses sebelum kita, dan coba tiru dan modifikasi bagaimana cara mereka meraih kesuksesan itu. Ada banyak orang didunia ini yang berhasil karena mereka mengikuti jejak-jejak perjuangan orang sukses sebelum mereka.

  1. sungguh inspiratif tapi terkadang kenapa y usaha keras yang telah kita lakukan terkadang hasilnya sama saja dengan yg tidak bekerja keras sama sekali bahkan lebih buruk dari orang yg tidak keras itu

    1. Beda dong.. Orang bekerja keras tapi gagal akan berbeda dengan orang yang tidak bekerja yang sudah pasti gagal. Apa bedanya? Mereka berbeda “pengalaman”. Seseorang pasti akan lebih tegar dan kuat jika dia memiliki pengalaman yang banyak didalam hidupnya.

      Pengalaman akan menjadi perisai bagi belenggu ketakutan manusia dalam memulai sesuatu yang baru. Banyak kan cerita para pengusaha yang pada awal karirnya jatuh bangun (jatuh berkali-kali bahkan….), tapi semua itu tidak menyurutkan apa yang dia kerjakan.

      Jika ibarat sedang dalam perjalanan, maka orang bekerja keras itu sudah setengah jalan. Lalu mengapa kita harus berhenti di tengah-tengah jalan kesuksesan kita padahal kesuksesan tinggal seteengah jalan lagi?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s