Catatan 6: Jangan Mau Jadi Yang Tersisih

“Manusia tidak akan mengetahui kekuatan maksimalnya, sampai ia berada dalam kondisi dimana ia dipaksa kuat untuk bertahan”

Saya memulai catatan saya kali ini lewat ungkapan bijak bestari diatas, dengan harapan bisa mengingatkan kita semua bahwa segala sesuatu yang kita dapat di dunia ini berasal dari apa yang kita usahakan. Tidak mungkin ada hasil yang instan dengan usaha yang instan. Segala sesuatu butuh yang namanya “memulai”, “berproses”, dan “mendapatkan hasil”.

Saya kembali teringat saat saya hendak memulai kuliah di kampus ITB. Waktu itu, ayah saya masih mengalami masalah keuangan dalam bisnis lamanya sambil membangun bisnis baru. Saya sebagai seorang anak tahu persis bagaimana keadaan ekonomi keluarga dan sesekali sempat terbesit di hati ini untuk langsung bekerja dan membatalkan niat saya untuk kuliah di kampus berlambang gajah tersebut.

Dalam keadaan seperti itu, ayah tetap meyakinkan saya untuk tetap berkuliah. Saya diberikan kebebasan untuk memilih kampus negeri. Diam-diam, saya gundah. Keinginan kuat untuk menjadi “sesuatu” untuk negeri ini terus membuncah. Mungkin hal itu dapat ditengarai karena sejak SMA saya sudah terinspirasi dan senang membaca buku tentang kesuksesan dan biografi tokoh-tokoh dunia.

Bagi sebagian orang, mungkin masuk ITB itu mudah. Tapi bagi saya, masuk ITB bisa dikatakan tergolong sulit, selain karena faktor “miskin”nya informasi kampus Jawa di Kalimantan, saya juga harus berusaha secara akademik dan finansial untuk bisa bertahan disana.

Secara akademik, mungkin bekal pernah menjadi runner up umum di masa SMA dapat menjadi bekal kepercayaan diri saya untuk berkompetisi dengan siswa Jawa dan  luar negeri yang kuliah disana. Tapi secara finansial, saya merasa sangat bermasalah. Saya tidak mungkin ikut USM karena biayanya terlampau besar sehingga saya berharap penuh pada SPMB saja.

Tidak beberapa lama kemudian, masa pemanasan SPMB pun tiba. Saya memilih bertengger di Surabaya sambil ikut kursus di salah satu lembaga bimbingan belajar yang ada di kota tersebut. Surabaya menjadi pilihan saya karena saya sama sekali tidak punya kawan di kota Bandung. Selain itu, saya berkeinginan kuat untuk merasakan atmosfer kompetisi akademik di Jawa.

Saat pendaftaran tiba, saya memilih jurusan Teknik Perminyakan ITB dan jurusan Teknik Kimia ITS sebagai isian di lembar pendaftarannya. Saya mau tidak mau memilih ITS sebagai pilihan kedua karena peraturan mengharuskan memilih salah satu jurusan di tempat akan melakukan tes SPMB.

Sewaktu try out SPMB dilaksanakan, alhamdulillah nilai saya lumayan sering masuk kedalam 3 besar tertinggi dalam lembaga yang saya ikuti. Tetapi anehnya, saya tidak pernah mencapai passing grade untuk teknik perminyakan ITB. Kalau dingat-ingat, pencapaian maksimal saya waktu itu adalah melewati passing grade masuk jurusan astronomi ITB. Passing grade teknik perminyakan ternyata masih terlampau jauh. Saya sempat berpikir , “apakah kemampuan saya memang sampai segini dan akan tersisih di awal babak untuk masuk ITB?”

Tapi saya tidak menyerah. Saya tetap berusaha untuk berjuang maksimal. Saya coba meningkatkan waktu belajar saya dari yang awalnya sekitar 4 jam saja menjadi 10 jam setiap hari tanpa mengenal hari libur. Saya mencoba memahami setiap persoalan SPMB perlahan-lahan, sambil memahami apa saja kelemahan saya dalam mengerjakan soal. Buku-buku dari lembaga bimbingan belajar lain pun saya lahap agar perbendaharaan wawasan saya semakin luas. Ya, mungkin semua inilah yang bisa saya lakukan untuk bisa masuk ITB.

Dalam keberjalanan menuju tes SPMB saya menanamkan beberapa hal pada diri saya. Kesuksesan yang terjadi dimasa depan adalah hasil usaha dan keputusan saya dimasa kini. Saya memutuskan akan bekerja keras untuk mencapai impian saya. Saya lebih menyukai tersisih setelah bekerja keras, dibandingkan tersisih sejak awal tanpa berusaha.

Tidak lama kemudian, tes SPMB pun tiba. Alhamdulillah, tes itu saya bisa lalui dengan lancar dan bahkan saya dapat mengecek pekerjaan saya sebanyak tiga kali. Setelah tes itu berlalu, saya selalu minta pada orang tua saya agar mendoakan segala yang telah saya lakukan membuahkan hasil.

Tidak lupa pula, setiap malam saya dekatkan kepada Allah agar diberikan yang terbaik sambil membayangkan bahwa saya benar-benar telah menjadi mahasiswa ITB: mengikuti kegiatan keagamaan, menjadi aktivis, dapat bertemu dengan tokoh-tokoh Indonesia, keluar negeri, dan dapat lulus dengan predikat cum laude. Ya itulah impian saya.

Hari pengumuman tes tiba. Pengumuman dilakukan lewat dua media: media website dan media cetak. Pada awalnya saya hanya ingin melihat kabar hasil SPMB di website saja di warnet dekat kosan saya. Saya sudah mencoba berkali-kali ingin masuk namun saya tidak pernah berhasil masuk kedalamnya. Waktu itu saya berpikir bahwa tidak bisa masuk website artinya saya gagal lolos ke ITB maupun ke ITS. Saya hanya bisa tertawa kecut sambil pulang membeli media cetak yang mengumumkan hasil SPMB.

Ternyata Allah tidak menyia-nyiakan usaha hambaNya. Saya terkejut ketika melihat nama saya berada di dalam baris tabel peserta yang lolos SPMB. Alhamdulillah, saya benar-benar diterima di ITB. Saya langsung menelepon kedua orang tua saya dan semakin mendekatkan diri saya pada Allah sebagai bentuk syukur saya kepada Allah.

Sejak saat itulah detik kehidupan kuliah saya dimulai. Ternyata ITB tidak se”ngeri” apa yang dikatakan oleh banyak orang yang katanya mahal. Ada banyak beasiswa yang ditawarkan. Saya pernah mendapatkan tiga beasiswa sekaligus selama berkuliah disini. Ada beasiswa uang semester, uang bulanan, dan asrama. Selain itu, ITB juga menyediakan banyak kesempatan untuk berkembang di berbagai organisasi dan melebarkan jaringan ke banyak tokoh-tokoh Indonesia.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar dua hal penting yang akhirnya saya terapkan pada saat saya kuliah. Dua hal itu adalah “jangan pernah mau menjadi yang tersisih tanpa berusaha maksimal” dan “selalu berusaha untuk standar usaha kita untuk mencapai impian”. Jika dua hal ini saja bisa dilaksanakan, pasti dia berpeluang besar untuk sukses dalam hidupnya.

Terkadang, saya masih belum menyangka bahwa usaha saya bisa sejauh ini. Saya bisa berkuliah di ITB dengan gratis, saya bisa merasakan dunia aktivis dengan baik, dan bisa lulus dengan predikat cum laude. Sebegitukah besarnya kekuatan dari keyakinan kita? Kalau benar demikian, saya tidak akan pernah cepat berpuas diri dan akan terus bermimpi untuk hal yang lebih besar.

Perjalanan hidup ini masih jauh dan masih banyak yang harus diperjuangkan. Permasalahan bangsa yang menggunung membuat kewajiban kita untuk bekerja dan berkarya lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ada banyak hal yang harus diraih lagi untuk membangun negeri ini. Ah, saya tidak mau cepat-cepat menjadi yang tersisih. Mudah-mudahan kita semua seperti itu. []

Tulisan ini dipublikasikan di http://masukitb.com/


23 thoughts on “Catatan 6: Jangan Mau Jadi Yang Tersisih

  1. Mas, orang tuanya pasti bangga sekali kalau baca tulisan ini. Saya juga punya anak yg masih kuliah. Mudah2an dia juga punya semangat seperti mas ini. Salam kenal ya🙂

    1. @Ibu Evi
      Saya bukanlah yang terbaik. Tapi semoga usaha saya menjadi lebih baik bisa dijadikan pelajaran bagi lingkungan sekitar saya. Terima kasih ya.

  2. Dari awal membaca sampai akhir begitu byk hal2 yg memacu utk membangkitkan semangat, semangat utk bisa, semangat utk maju dan termasuk semangat utk menjadi ”sesuatu”.. I like it u writing Ryan ^_^

    1. @Ika Siska
      Hehe. Terima kasih ya. Memang blog ini saya buat untuk bisa mencurahkan berbagai pemikiran dan pengalaman hidup saya sendiri dan orang-orang sekitar saya agar dapat membangkitkan semangat para pembaca. Semoga saya diistiqomahkan dalam kebajikan.

  3. siph… setuju buanget….
    jadi inget….sayangnya aku pernah menjadi yang tersisih karena satu hal yang membunuh keberanianku….dan hampir tak mengenali diriku sendiri…
    alhamdulillah…. aku masih bisa bangkit menemukan diriku yang sesungguhnya….seiring dengan kedewasaan hati dan pikiran yang aku dapatkan dimana aku berada….
    …dan sampai saat ini masih terus berjuang untuk jadi lebih baik….

  4. Awalnya usaha keras untuk Mas Ryan sama persis dgn usaha saya waktu ingin kuliah.Saya pernah diterima juga di UMPTN di PTN di Jogja di tahun 1999.Waktu melihat biaya kuliah yg begitu besar, saya langsung menyatakan tak kuat.Akhirnya saya memilih bekerja. (ortu saya hanya berprofesi sopir becak waktu itu).Ternyata aku termasuk dalam orang yg tersisih sebelum berusaha maksimal.Nuryanto,085765250485

  5. Mas Ryan salam kenal, terimakasih banyak, tulisan mas yang ini baru saja menyelamatkan saya dari keputusan untuk menyerah mengejar mimpi saya, semoga Allah membalas semua kebaikan mas

  6. wah inspiratif banget kak ceritanya. kak aku juga pengen masuk perminyakan, tapi bingung kalo tes gitu soal-soalnya apa aja sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s