Catatan 10: Respek Itu Gak Gratis

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan hari-hari terberat dilapangan karena harus on duty dilapangan selama tiga minggu. Untungnya, dihari-hari itu selalu terbayar dengan berbagai pelajaran dan hikmah baru dari para kru lapangan lainnya. Dari sekian banyak hikmah tersebut, hal yang paling saya sukai adalah “mater kuliah pagi” yang selalu ada sebelum morning meeting dari Pak Manajer. Selalu ada pesan-pesan baru buat semua kru lapangan, termasuk saya, yang berguna untuk menunjang karir dan masa depan.

Dan kali ini Pak Manajer bercerita tentang apa itu “Respek”…

Respek itu bukan ilmu baru buat kita. Setiap orang pun tahu apa itu respek. Respek adalah rasa hormat orang lain kepada kita. Bukan berarti gila hormat atau minta disegani, tetapi respek didalam berbagai aktivitas dengan orang lain (entah itu kehidupan rumah tangga, memimpin organisasi, bekerja, atau bahkan berbisnis)  akan membuat seseorang memiliki bargaining position yang tinggi, sehingga seseorang tidak akan dipandang sebelah mata atau malah diremehkan orang lain. Respek membuat apa yang kita inginkan didengar dan dikerjakan oleh orang lain. Selain itu, respek membuat hubungan manusia menjadi langgeng dan membuat kawan atau lawan selalu mengenang kita. Setiap pemimpin butuh nilai respek didalam dirinya.

Kendati banyak orang yang sudah tahu apa itu respek, tapi ternyata tidak mudah dan gratis untuk mendapatkannya. Kalau kata manajer saya, kita perlu empat poin untuk bisa membangun nilai respek dari dalam diri kita. Empat poin itu adalah knowledge mastery (penguasaan ilmu), attitude (tingkah laku), fair (adil), dan assertive (tegas).

Yang pertama, Setiap manusia pasti respek terhadap orang yang memiliki penguasaan kompetensi pada bidang tertentu. Orang yang menguasai suatu bidang akan membuat orang disekitarnya percaya dan mengikuti apa yang kita minta. Knowledge mastery juga akan membuat martabat seseorang terangkat. Setiap orang yang ingin membangun nilai respek harus berusaha untuk terus mengasah ilmu yang menjadi bidangnya. Kebalikannya, orang-orang yang tidak memiliki suatu bidang keahlian, pasti akan kesulitan untuk mendapatkan respek dari orang lain.

Kedua, attitude kita sangat mempengaruhi respek orang lain terhadap kita. Boleh jadi kita telah memiliki knowledge mastery pada bidang tertentu. Tapi tanpa ada attitude yang baik, maka kita akan dianggap sebagai seorang pribadi yang sombong atau arogan. Attitude kita sebenarnya juga secara tidak langsung akan menunjukan kedewasaan dan seberapa dalam knowledge mastery yang kita punya. Jangan pernah lupa juga, bahwa kita juga mesti respek terhadap orang lain sebelum orang lain respek kepada kita. Dalam istilah pepatah kita mengenal “semakin berisi semakin meruduk”. Semakin orang berilmu, maka semakin ramah dan rendah hati pulalah orang tersebut.

Ketiga adalah berlaku adil. Apakah adil itu? Adil adalah sebuah sikap yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri maupun orang lain untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya. Setiap hak dan kewajiban diberikan pada seseorang sesuai dengan porsinya, tidak kurang dan lebih. Jadi adil bukan selalu berarti sama rata atau sama rasa. Sikap adil ini sangat dirindukan oleh setiap orang didalam sebuah lingkup komunitas kecil (keluarga) hingga lingkup komunitas yang lebih besar lagi (negara). Sikap adil akan menimbulkan sebuah keharmonisan dan menekan laju permasalahan yang mungkin terjadi didalam sebuah komunitas.

Yang terakhir adalah ketegasan. Setiap masalah butuh ketegasan tindakan! Ketegasan bukan sebuah omongan belaka, tapi adalah sebuah pelaksanaan dari kata-kata. Sudah terlalu banyak kehidupan kita sudah terisi oleh berbagai macam persaingan antara kemampuan kita dan masalah-masalah dalam komunitas kita. Pada kenyataannya, semua orang yang berhasil mendapatkan respek adalah orang yang tegas untuk menjadikan diri mereka lebih kuat daripada masalah itu sendiri. Ketegasan berbeda dengan nekat. Setelah sebuah keputusan tegas dibuat, biasanya jarang sekali terpengaruh opini miring dari sekitar. Sebaiknya, sebelum memutuskan sesuatu dengan tegas kita perlu sebuah argumen dan analisis yang akurat untuk meminimalisasi sebuah kesalahan.

Jadi, yuk kita evaluasi diri kita masing-masing. Empat poin tadi mungkin hanya sebagian dari berbagai poin lainnya untuk membangun nilai respek didalam diri kita. Tetapi yang pasti, setiap manusia perlu untuk saling respek untuk menciptakan sebuah keharmonisan hidup dan menciptakan sebuah sikap saling menghargai antarsesama. []

9 thoughts on “Catatan 10: Respek Itu Gak Gratis

  1. Like this…. yang tawuran, jangankan respect thd orang lain, thd dirinya pun diragukan. Tidak memiliki respect bukan hanya problem anak muda ternyata, mungkin lebih serius justru di senior atau org tua (orang2 sudah tua, maksudnya)

    Duh, berat sekali ya urus manusia…… & sebagai seorang ibu, sy memilih Sekolah untuk anak2 yang Di dalamnya kental melatihkan sikap respect…..

    1. like blognya..mas.lupa minta ijin krna udah lama sy follow blog nya via google reader. tafi searching tentang perminyakan..e ketemu blog nya mas Ryan ini..salam dari muara badak.

  2. hay mas, slam kenal.. ak suka banged tuu sma kata* mas,,
    o.iaa mas saya juga kul di bidang perminyakan..
    sharing dong mas tentang perminyakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s