Kita dan Tahun 2030

Belum lama ini saya membaca publikasi yang dirilis oleh lembaga konsultan McKinsey yang berjudul “The archipelago economy: Unleash Indonesia’s potential“. Disebutkan dalam publikasi berbahasa Inggris itu bahwa pada tahun 2030, Indonesia akan menjadi negara superpower papan atas menyamai China dan India.

Dan saya pun semakin perhatian pada artikel tersebut, terutama ketika disebutkan Indonesia tumbuh sebagian besar dari pasar domestiknya sendiri, bukan dari kegiatan ekspor impor. Jadi roda ekonomi negeri ini masih bisa berjalan ketika situasi internasional memburuk, asalkan kita menjadi tuan di negeri sendiri.

Mata saya sempat tertegun ketika membaca potongan kata-kata “We expect that cities including Pekanbaru, Pontianak, Karawang, Makassar, and Balikpapan will lead growth among small middleweight cities, each having annual growth rates of more than 7 percent.” Ternyata kota kelahiran saya masuk dalam kategori yang akan berkembang pesat dalam waktu yang akan datang. Wah semakin menarik ini.

Sadar atau tidak sadar kita sadari, Indonesia hanyalah sebuah negara yang bersifat objektif. Ekonomi negeri ini sebenarnya akan tetap terus berjalan karena adanya pasar. Tapi kemana arah negara ini mau dibawa hingga nanti tahun 2030, semuanya bergantung kepada sumber daya manusianya. Indonesia hari ini telah menjadi sebuah emerging market country dimana pertumbuhan ekonominya sangat cepat. Bahkan mentri keuangan kita mengatakan bahwa negeri ini adalah negeri kedua dengan Ekonomi terpesat didunia setelah negeri Cina.

Akankah kita tetap bisa optimis pada negeri ini walaupun prahara koruptor bukan lagi sekedar hal yang tabu? Akankah kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri di tahun 2030 nanti? Mudah-mudahan kita masih tetap termasuk orang-orang yang optimis dan percaya bahwa negeri ini lebih baik.

Tapi….hanya optimis ternyata tidaklah cukup. Kita butuh kerja nyata untuk membangun negeri ini. Kita butuh sumber daya manusia yang punya kompetensi untuk memberdayakan dan mengelola berbagai potensi Indonesia. Saya percaya, kita pasti tidak mau selamanya bergantung secara dominan terhadap negara asing bukan?

Mari kita belajar banyak dari negeri gingseng, Korea Selatan. Tahun 2011, presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak memberikan pidato di hadapan kongres Amerika Serikat. Dengan penuh kebanggaan Lee menyatakan bahwa negerinya sudah setara dengan Amerika Serikat. Dan ketika Lee ditanya oleh berbagai pemimpin dunia, “bagaimana bisa negara tanpa sumber daya alam, tanpa uang, dan tanpa pengalaman mencapai sebegitu banyak prestasi hanya dalam satu generasi?”, Jawaban Lee cukup sederhana: “Kekuatan pendidikan.”

Kekuatan pendidikan ternyata bisa menggerakan sesuatu yang tadinya tidak berdaya menjadi berdaya. Kalau negara Korea yang tidak memiliki sumber daya alam kini bisa setara dengan negara Amerika, lalu apakah Indonesia yang kaya sumber daya alam ini tidak yakin bisa menjadi negara superpower?

Jika dihitung mundur kebelakang hingga hari ini, kira-kira kita punya waktu 17 tahun untuk menyongsong prediksi tahun emas Indonesia kembali. Kita harus berusaha menguasai ilmu-ilmu penting untuk membangun negeri ini dan punyailah visi masa depan. Lalu, melalui berbagai ilmu-ilmu penting ini kita padukan dalam satu gerakan utuh untuk merekonstruksi negeri ini agar bisa berdiri tegak dihadapan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Mari bekerja untuk Indonesia.[]

2 thoughts on “Kita dan Tahun 2030

  1. saya jg pernah membaca artikel yg memprediksikan tahun 2020 akan ada negara superpower baru yaitu india, china dan khilafah islamiyah.. yg menarik adalah berdirinya khilafah islamiyah, institusi yg menaungi seluruh umat islam di dunia, bisa jadi indonesia menjadi bagian di dalamnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s