Catatan 12: Menikmati dan Mengejar Karir

image_preview-286x300

Dalam beberapa kesempatan yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk ngobrol banyak dengan alumni senior kampus saya. Bahan obrolan mengalir begitu saja, mulai dari masalah teknikal, berbagi pengalaman, hingga cara berkarir yang benar. Tentang hal terakhir inilah yang ingin saya bahas pada catatan ini: tentang karir.

Terlepas apakah kita ingin terus berkarir dalam dunia profesional sampai posisi puncak atau pindah kuadran ke jalur pengusaha, ada baiknya kita mengetahui cara berkarir yang benar. Hal ini penting untuk kita ketahui, supaya kita bisa menikmati perjalanan karir kita.

Teringat dalam salah satu kata Rene Suhadono: “karier adalah totalitas kehidupan profesional seseorang, karier adalah milik diri sendiri yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hakiki melalui pemahaman atas passion dan kepedulian akan purpose of life.” Karena karir kita bukan milik orang lain atau perusahaan, maka tidak ada lagi yang menentukannya selain diri kita sendiri. Karena itulah, kita nikmati sajalah.

Sadar atau tidak, karir kita terbangun dalam setiap detik-detik kehidupan kita. Apa yang kita capai hari ini, adalah semua hasil yang kita peroleh kemarin. Dan apa yang kita hasilkan dihari esok, adalah hasil apa yang kita lakukan hari ini. Jadi semua tidak ada yang ajaib. Semua para profesional yang mencapai puncak karirnya sebagai CEO perusahaan, sebagian besar memulai karirnya dari bawah. Kita akan melihat bahwa mereka memiliki berbagai syarat kesuksesan: kerja keras, ide brilian, kemampuan memimpin, dan yang paling penting adalah mereka selalu bergembira (joyful) dalam mengarungi kehidupan sehari-harinya.

Lalu bagaimana cara menemukan kegembiraan dalam karir kita? Senior saya mengatakan bahwa kegembiraan itu muncul ketika kita dapat menjawab pertanyaan “kita ingin menjadi apa”. Ketika kita tahu tujuan kita, maka kita akan selalu memunculkan sebuah respon positif pada setiap pekerjaan kita. Kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan pada saat ini adalah cikal bakal kesuksesan dimasa depan.

Tapi tentu ini tidak mudah. Apalagi sekali kita memilih menjadi apa, maka mau tidak mau, kita harus mengorbankan semua keinginan kita yang lain. Kalaulah memang waktu kecil kita pernah bercita-cita menjadi dokter, insinyur, penyanyi atau bahkan seorang mentri, pada akhirnya kita harus memilih salah satunya untuk kita kejar karena kita tidak mungkin bisa hebat dalam semua bidang.

Setelah kita tahu bidang apa yang ingin kita kejar, maka tahap selanjutnya adalah memilih jalan untuk mengejar hal itu sendiri. Misalnya kita ingin mengejar cita-cita sebagai seorang pekebun kelapa sawit, maka ada beberapa jalan alternatif untuk mengejar apa yang kita cita-citakan. Kita bisa langsung dengan menjadi pengusaha dengan membeli tanah dan menanaminya dengan kelapa sawit, bisa dengan bekerja terlebih dahulu di perusahaan kelapa sawit dan mempelajari strategi bisnis manajemen perusahaannya, atau bisa juga dengan langsung mengambil alih tanah kebun kelapa sawit warisan orang tua (hehe….).

Perkara ada orang lain yang sukses lebih cepat dibidang yang sama dengan kita, harusnya tidak akan jadi masalah buat kita. Tapi  kita tidak bisa bohong bahwa pertanyaan “mengapa kita tidak bisa sesukses mereka? kapan giliran kita?” selalu merisaukan kita. Kita kehilangan fokus pada apa yang kita kejar karena kita memikirkan orang lain. Akhirnya kegembiraan awal kita untuk mengejar cita-cita, perlahan-lahan lenyap. Kita mulai memperlambat lari kita, kita mulai menurunkan semangat bekerja kita, dan kita mulai mengecilkan harapan yang ingin kita kejar. Disinilah tanda-tanda karir kita akan berjalan ditempat. Dan jangan sampai hal ini terjadi pada diri kita.

Tetaplah bersabar, tetaplah bergembira kawan. Jika memang kita merasa bahwa kita tidak cocok pada jalan yang kita jalani, maka segeralah menerobos mencari jalan yang baru. Dalam bukunya yang berjudul “Change!”, Rhenald Kasali juga menguatkan “seberapa jauh kita salah melangkah, putar arah sekarang juga”. Jangan biarkan pengaruh negatif yang diciptakan oleh kita sendiri malah menjadi penghalang dijalan karir kita. Boleh jadi kita salah memilih jalan, tapi kita tetap harus fokus pada tujuan yang ingin kita tuju. Jalan karir itu ada banyak, tinggal kita yang memilihnya, tinggal kita mau berlari dijalan itu atau diam ditempat.[]

3 thoughts on “Catatan 12: Menikmati dan Mengejar Karir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s