Dear, De

Tidak terasa, sudah 1 tahun 1 bulan kita menikah. Aku ingat hari pertama kita sebagai suami-istri. Aku memandangmu yang terkulai tidur, sembari bermunculan keraguan  dan kegelisahan didalam diri. Benarkah kamu yang akan menemaniku hingga tua nanti? Benarkah kamu seorang yang akan kucintai hingga akhir hayatku?

Aku coba berinteraksi dengan alam sekitar. Sesekali aku coba buka dan tutup gorden tebal di kamar, sambil kucoba susun ulang keyakinan yang acapkali samar. Aku coba pilah-pilah kembali antara harapan, realita, dan kemungkinan.

Beberapa saat kemudian, kamu sudah membuka mata dan tersenyum kepadaku. Dalam hati aku berkata, inilah yang membuatku luluh lantak padamu. Bibirmu yang tersenyum. Ada empat senyummu yang sangat berarti untukku. Senyuman pertama, adalah ketika pertama kali kita bertemu. Senyuman kedua, adalah saat kau tersipu disaat aku mengkhitbah dirimu. Senyuman ketiga, adalah tatkala kugenggam erat tanganmu setelah ikrar akad nikah kutuntaskan dengan sempurna. Dan senyuman yang terakhir adalah senyuman dimalam itu, meskipun kamu tidak menyadarinya. Ia hadir dalam nuansa magis dan puitis. Misterius. Lalu kamu mendekatkan diri padaku. Menyenderkan kepala di bahuku.

Aku luluh. Aku membelai rambutmu.

Hari itu, hari pertama kita sebagai suami-istri, tanpa kamu tahu keraguanku, kita habiskan waktu dengan berbagi cerita. Tentang orang-orang yang tak kita kenal tetapi terlihat begitu akrab menyalami kita. Tentang dokumentasi foto pernikahan kita yang begitu aneh. Tentang teman-temanmu yang terbawa perasaan ingin juga menikah sewaktu melihat kita di pelaminan. Dan tentang hal menyenangkan lainnya.

Namun….

Dibalik wajah ceriamu, apakah kamu juga gelisah dan ragu waktu itu? Sama sepertiku?

Hari demi hari telah kita jalani. Kita tumbuh menjadi suami istri yang mungkin menyimpan keraguan kita masing-masing. Kita menyimpannya dengan rapat tanpa pernah mengungkapkannya, barangkali karena malu atau ingin menundanya sampai waktu yang tidak pernah ditentukan. Kita bersikap seolah segalanya biasa saja dan baik-baik saja. Hingga momen itu terjadi…

Pertengkaran pertama.

Aku masih ingat ketika kamu menangis karena tersinggung oleh kata-kataku. Aku mengingatnya dengan jelas. Aku merekam semuanya dengan jelas. “Kamu nggak melibatkanku!” Katamu. “Kamu yang nggak minta!” Bentakku. Bagaimana kita bisa saling mengerti maksud kita masing-masing, jika memang ada yang kita sembunyikan?

Tiba-tiba segala hal tentang hubungan kita menjadi -sesaat- berubah.

Kamu ternyata tak selalu terlihat cantik, apalagi saat tertidur menggunakan pakaian formal sewaktu pulang dari kampus. Kamu ternyata tak menyukai dengkurku. Kamu ternyata merendahkan selera makananku. Kamu ternyata tidak tertawa pada lelucon-leluconku. Kita ternyata punya sudut pandang yang berbeda tentang banyak hal.

Kita belajar satu hal. Cinta bukan tentang kesamaan standar penilaian.

Tetapi, kemudian kita menemukan film yang sama-sama kita sukai. Film yang terkadang kita bahas dan kritik melebihi para kritikus film ternama didunia. Kita menemukan permainan-permainan untuk mengisi waktu perjalanan kita. Kita menemukan tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Kamu membuatkan mie goreng kesukaanku. Aku menemanimu belanja. Hingga kita kembali… tertidur.

Adalagi hari, dimana kita berada dalam perjalanan. Aku mengemudikan kendaraan dan kamu jadi navigatornya. Kita bermain sepanjang perjalanan, tetapi kita juga bertengkar di sepanjang perjalanan. Karena kamu tidak hafal nama jalan yang kita lalui. Karena kita berselisih untuk menyikapi polisi yang menilang kita. Karena kita bertengkar untuk memutuskan mau makan dimana. Karena aku menyetir dan kamu malah tertidur. Karena kita belum dewasa…

Kemudian keraguan itu muncul lagi. Apakah pernikahan ini keputusan yang benar? Apakah keputusan memilih dirimu adalah tepat? Mungkin diam-diam kamu juga pernah memikirkan dua pertanyaan yang sama.

Tetapi kita memilih untuk meneruskan perjalanan. Aku tetap memegang kemudi dan kamu jadi penunjuk arahnya. Perlahan aku mulai mengerti bahwa saat kamu tertidur dalam perjalanan, maka kutahu kamu pasti telah bangun lebih pagi dariku untuk membereskan rumah di hari itu . Lama-lama aku juga tahu saat aku bertanya “Mau makan di mana?” dan kamu jawab “Terserah” itu sama artinya dengan “Coba ke kedai makanan jepang kesukaanku.” Kita mulai saling menghargai pandangan masing-masing.

Kita belajar tentang hal lainnya. Cinta butuh proses untuk menjadi dewasa.

Kemudian kita membeli rumah baru. Kita belajar untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kita persiapkan perabotan-perabotan rumah bersama. Kemudian, kita menjadi sepasang insan yang kembali jatuh cinta lagi secara lebih sadar. Cinta tak sekedar memamerkan segala hal baik dan menafikan hal buruk didalam diri kita. Cinta adalah tentang berbagi semua hal.

Akhirnya, perlahan keraguanku telah sirna. Karena kegelisahan itu pergi seiring dengan perjalanan yang kita lalui. Satu tahun ini telah menumbuhkan kedewasaan dalam cinta kita. Namun, masih banyak hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun yang akan kita jalani. Persiapkan! Sambil kita menikmati perjalanannya dan terus memaafkan semua detil-detil tidak sempurna di sekeliling diri kita.

Dear, De…

Selamat ulang tahun pernikahan pertama, istriku. Terima kasih untuk cinta yang kamu berikan selama ini. 

IMG_9500

Dari suamimu,
Ry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s