Si Gondrong yang Berotak Tajam

Belum berselang lama dengan berita wafatnya Bisma Siregar, kemarin, atau tepatnya pada tanggal 21 april 2012, saya dikejutkan kembali dengan berita sedih dari sudut Gunung Tambora. Salah satu dosen saya (yang kini telah diamanahkan sebagai Wakil Mentri ESDM Indonesia) telah kembali keharibaan Allah SWT. Dia adalah Prof. Dr. Ir. Widjajono Partowidagdo M. Sc, sang maniak pendaki gunung.

“Mas Wid”, begitu para mahasiswa (termasuk saya) menyapanya. Namanya terus menanjak populer sejak isu harga BBM mulai meningkat dan muncul pada berita di televisi kita. Mas Wid adalah seorang dosen yang sangat bersahaja. Pakaiannya tidak pernah terlihat mewah, tapi selalu menunjukan kewibawaannya dalam mengajar. Kemanapun pergi, selalu menggunakan kendaraan umum. Dan yang paling khas adalah rambut gondrong dan sepatu sandal yang dia punya. Kedua ciri khas tadi sangat menguatkan, bahwa beliau  orang yang suka berpetualang.

Saya tidak tahu secara mendalam sepak terjang Mas Wid setelah menjadi Wamen ESDM RI. Tapi yang  pasti, semua pemikiran beliau tidak pernah ada yang berubah. Semua persis….Persis seperti apa yang telah diajarkan dikelas. Tentang Renegosiasi Kontrak Migas, tentang konservasi pemakaian BBM menjadi Gas, tentang kontrak Batubara dan Mineral, dan berbagai pemikiran energi lainnya, semuanya saya. Beliau ingin mendobrak paradigma energi yang telah usang dan menggedor “status quo” energi yang sengaja dibentuk oleh sistem bobrok zaman lalu.

Mas Wid juga sangat hobi menulis. Semenjak saya mahasiswa hingga sekarang, saya sering sekali melihat tulisan Mas Wid yang nongol pada media-media yang berfokus pada masalah energi. Selain itu, Mas Wid juga “hobi” menuliskan berbagai pemikiran otaknya yang tajam dalam beberapa buku (yang tebal sekali…) dalam keberjalanan hidupnya.

Dalam menulis, Mas Wid selalu menyampaikan konsep gagasannya dalam bahasa yang sederhana, terkadang diselingi oleh pengalaman hidupnya, dan tidak lupa pula selalu dibumbui dengan bahasa sastra.  Bobot tulisannya menunjukan bahwa beliau memang memiliki cakrawala berpikir yang luas untuk memajukan sektor energi Indonesia. Tidak hanya dari segi teknis, namun juga dari segi ekonomi dan politik.

Walau Mas Wid kini telah tiada, namun pemikirannya tetap hidup. Semua gagasannya masih tersusun rapi dalam tulisan dan buku yang ada disekitar kita. Kini, tugas para juniornya untuk melanjutkan perjuangan yang telah beliau mulai. Ibarat kisah dunia persilatan, kini tugas guru menurunkan ilmunya sudah selesai. Sekarang giliran para muridnya yang melanjutkan impian sang guru.

Terakhir…..

Ditengah rumitnya permasalahan energi yang dibahas dalam bukunya, Mas Wid pernah menyisipkan sebuah puisi yang bagus Dr. Leo Buscalgia yang berjudul “LOVE”. Begini bunyinya:

Cinta. Tugas utamanya adalah membantu membuka jati dirinya.  Tugas utama lainnya adalah membantu orang lain menjadi kuat dan menyempurnakan dirinya sebagai pribadi yang unik.  Dia akan melakukan yang terbaik dengan memberikan semua orang kesempatan untuk menyatakan perasaannya, memperlihatkan aspirasinya dan membagi mimpinya.

Cinta. Dia harus melihat kekuatan yang disebut “jahat” sebagai berasal dari orang yang menderita, yang seperti dirinya, adalah “manusia” dan di dalam proses untuk menyempurnakan dirinya.  Dia harus memerangi kekuatan jahat melalui cinta yang aktif yang sangat memperlihatkan dan berkepentingan pada setiap pencarian bebas seseorang untuk menemukan diri.  Dia harus percaya bahwa bukan dunia yang jelek, pahit dan merusak, tapi ini adalah apa yang manusia telah perbuat kedunia yang membuatnya kelihatan seperti itu.

Cinta. Dia harus menjadi model. Bukan model kesempurnaan, keadaan yang tidak sering tercapai oleh seseorang, tapi suatu model manusia. Untuk menjadi manusia yang baik adalah hal terbesar yang dapat dicapainya. Dia harus dapat memaafkan dirinya untuk menjadi kurang dari sempurna.  Dia harus mengerti bahwa perubahan adalah tidak dapat dihindari dan ketika perubahan dituntun oleh cinta dan kesadaran diri, selalu baik.

Cinta. Dia harus diyakinkan bahwa perilaku, untuk dipelajari, adalah untuk dilakukan.  Menjadi adalah melakukan. Dia belajar bahwa dia tidak dapat dicintai oleh seluruh orang.  Itu adalah ideal.  Dalam dunia manusia itu jarang ditemukan.  Dia dapat menjadi plum terbaik di dunia, besar, banyak airnya, manis, lezat dan menawarkan dirinya untuk semua.  Tapi dia harus ingat bahwa akan ada orang yang tidak menyukai plum.

Cinta. Dia harus menyadari bahwa jika memilih menjadi pisang kelas dua, dia mengambil resiko bahwa orang yang dicintainya menemukan dirinya kelas dua, dan karena menginginkan yang terbaik membuangnya.  Dia dapat kemudian menghabiskan hidupnya berusaha menjadi pisang yang terbaik, yang tidak mungkin karena dia adalah plum atau dia dapat lagi menjadi plum terbaik.  Dia harus berusaha untuk mencintai seluruh orang meskipun dia tidak dicintai oleh mereka. Dia tidak mencintai untuk dicintai, dia mencintai untuk mencinta.

Cinta. Dia harus tidak menolak seorangpun, karena dia menyadari bahwa dia adalah bagian dari setiap orang dan menolak meskipun satu orang, berarti menolak dirinya sendiri.  Dia harus tahu bahwa jika dia dicintai oleh kebanyakan orang dan di tolak oleh seseorang, dia tidak harus patah arang dalam takut, terluka, kecewa atau marah.  Itu bukan kesalahan orang tersebut.  Dia tidak siap akan apa yang ditawarkan.  Cinta tidak siap untuk apa yang ditawarkan.  Cinta tidak ditawarkan padanya dengan syarat.

Cinta. Dia memberikan cinta karena dia beruntung bisa memberi, karena dia senang memberi bukan untuk apa yang dia akan peroleh sebagai balasannya.  Dia harus mengerti bahwa, jika dia ditolak dalam suatu cinta terdapat ratusan lainnya menunggu cinta.  Ide bahwa hanya ada satu cinta yang benar adalah penipuan.  Terdapat banyak cinta yang benar.

Namanya AHOK!

Nampaknya Basuki T. Purnama (yang sering disapa AHOK) telah membuktikan sebuah pepatah lama “lebih baik ikan besar di sebuah kolam, daripada ikan kecil di samudra lepas” menjadi sebuah kenyataan. AHOK telah memulai karir kehidupannya dengan bekerja kemudian berbisnis dengan kembali ke daerah asalnya: Bangka Belitung, setelah menyelesaikan studinya di Universitas Trisakti. Dalam keberjalanan hidupnya, tercatat pula bahwa dia merupakan penggagas sekaligus penggerak yayasan-yayasan yang bergerak dibidang sosial didaerahnya.

Setelah itu, karir beliau terus berlanjut menjadi seorang anggota DPRD di Bangka Belitung serta Bupati Belitung Timur setelahnya. Dengan bekal modal ketulusan untuk membangun negeri ini sesuai ideologi partainya, akhirnya amanah AHOK terus meningkat menjadi seorang Anggota DPR Komisi II dari Partai Golkar. AHOK terus tumbuh dari ikan besar di kolam  menjadi ikan besar di samudra.

Terlepas suku dan agama AHOK, ada dua hal yang saya kagumi dari diri beliau.

Yang pertama adalah kebersihan dari diri beliau. Tak satupun terlihat dalam trackrecord diri beliau yang mencerminkan sebuah kasus yang “mengotori” keberjalanan karir profesional dan politiknya dalam ranah publik. Hal ini dibuktikan secara nyata dengan bisa diterimanya AHOK sebagai bupati ditengah komunitas muslim yang mayoritas di daerah itu.  Analisis singkat saya, mungkin hal ini ditengarai dengan adanya ke-brilianan kemampuan komunikasi publik serta kemandirian finansial beliau sejak lama jauh sebelum dirinya berkarir di dunia politik. Dengan demikian, beliau tidak mudah teriming-imingi oleh masalah suap-menyuap.

Hal kedua yang saya kagumi adalah keprofesionalan beliau dalam bekerja. Disaat kini beredar fenomena anggota-anggota DPR yang tidak punya email atau situs pribadi dalam bekerja (termasuk didalamnya kunjungan keluar negeri), AHOK alih-alih telah menuliskan secara rinci kunjungan anggota DPR lewat situs pribadinya, sehingga para pembaca situsnya dapat mengetahui secara detil apa yang dilakukan AHOK disana. Walaupun hal begini adalah biasa di negeri maju, namun bagi saya masih sangat sulit sekali menemukan anggota dewan yang memiliki keprofesionalan seperti beliau.

Saya yakin ada banyak anggota dewan yang memiliki kebersihan dan keprofesionalan seperti AHOK, namun bersifat low profile. Mudah-mudahan saja anggota-anggota dewan yang bersih dan profesional ini dapat mencuatkan dirinya ke publik seperti AHOK, bukan untuk sekedar memamerkan diri, tapi lebih untuk menggeser isu negatif dan krisis kepercayaan publik kepada dewan perwakilan rakyat yang semakin memudar karena opini negatif dari berbagai media di Indonesia.

Saya termasuk orang yang optimistis bahwa Indonesia masih bisa menjadi negara yang maju karena masih memiliki politisi, teknokrat, dan pengusaha yang memiliki mental spiritual dan nasionalisme membangun bangsa yang tinggi. []