Catatan 15: Kesadaran dan Kontrol

ControlApapun posisi kita, baik seorang generalis maupun spesialis, sudah menjadi leader ataupun baru merintis karir, pun juga jurusan teknik atau jurusan marketing, tidak bisa melepaskan diri dari sebuah target didunia kerja atau usahanya. Target tersebut bisa diformulasikan dalam To Do List, Dream List, atau yang lebih formal lagi dengan sebutan Key Performance Indikator (KPI).

Berdasarkan literatur dan interaksi saya bersama kawan-kawan di perusahaan, ternyata “kontrol” merupakan faktor terpenting dalam mengejar target-target kita. Sejak kecil kita sudah memiliki naluri kontrol dalam segala aktivitas. Ketika belajar berdiri, kita mengontrol diri kita dengan berpegangan pada benda disekitar kita bukan berusaha memegang pada yang tidak bisa kita jangkau. Ketika belajar untuk ujian, kita mengontrol diri kita dengan berusaha belajar bersungguh-sungguh alih-alih mempengaruhi guru kita untuk mengetahui soal-soal apa saja yang akan keluar dalam ujian. Bahkan di dunia kerja, naluri kontrol pun tidak bisa kita lepaskan: bagaimana me-manage waktu kita antara bekerja dan keluarga, memperluas pengetahuan kita, hingga melebarkan networking kita.

Namun, semakin padatnya kegiatan kita, terkadang kontrol kita terhadap suatu hal menjadi berkurang. Jika kita pernah merasa pekerjaan yang menumpuk disuatu waktu; merasa ling-lung pada pekerjaan yang kita lakukan; atau bahkan kita kadang merasa sendiri dalam mengerjakan sesuatu; bisa jadi itu tanda-tanda sudah kehilangan kontrol pada diri kita. Untuk mengidentifikasi kontrol dalam diri kita, izinkan saya membagi maksud kalimat saya tadi ke dalam beberapa hal berikut:

  1. Kita sadar bahwa kita punya kontrol
    Pada kondisi ini, bisa dipastikan manajemen waktu kita bisa berjalan dengan lancar. Kita dapat mengerjakan prioritas pekerjaan kita, tidak amburadul. Kita mampu memisahkan mana yang harus kita kerjakan dan mana yang harus didelegasikan. Biasanya kondisi ini terjadi pada orang-orang yang telah memiliki jam terbang tinggi/ pengalaman dalam apa yang dia kerjakan. Pengalaman menguatkan naluri kontrol mereka dalam beraktivitas sehingga bisa berjalan dengan baik.
  2. Kita sadar bahwa kita tidak punya kontrol
    Biasanya kondisi ini terjadi banyak terjadi pada middle management dalam perusahaan. Bisa jadi pernah dalam suatu waktu, pekerjaan kita tiba-tiba menumpuk karena permintaan dari atasan atau stakeholder disekitar kita. Dan parahnya, hal itu tidak termasuk dalam pekerjaan harian yang telah menjadi KPI kita. Karena tumpukan pekerjaan  itu dan waktu tidak berbanding lurus maka berpotensi untuk terbengkalai. Untuk itu, penting sekali sebuah organisasi atau perusahaan membentuk suatu corporate culture dan rapat koordinasi yang dibutuhkan untuk dapat memeratakan pekerjaan yang dimiliki oleh masing-masing personal.
  3. kita tidak sadar bahwa kita punya kontrol
    Kondisi ini kemungkinan terjadi ketika kita memiliki posisi baru dalam satu aktivitas pekerjaan namun tidak berusaha cepat beradaptasi. Akibatnya, kita kembali “mengulang” kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah dikerjakan pada aktivitas sebelumnya. Kondisi ini akan menjadi berbahaya ketika terjadi pada seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak sadar punya kontrol, maka akan banyak pekerjaan yang berpotensi melenceng dari targetnya.
  4. kita tidak sadar bahwa kita tidak punya kontrol
    Pada kondisi ini, bisa jadi kita masih bingung pada apa yang kita kerjakan. Biasanya hal ini terjadi karena kita belum menemukan kecocokan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang kita kerjakan. Akibatnya, kita tidak mengetahui apakah satu pekerjaan harus dikerjakan sendiri ataukah didelegasikan pada orang lain. Apakah satu pekerjaan harus dikerjakan hari ini ataukah dilain hari.

Kondisi-kondisi diatas sifatnya dinamis. Bisa jadi “kesadaran” dan “kontrol” kita berubah-ubah karena perubahan pekerjaan kita, psikologis kita, ataupun faktor eksternal disekitar kita. Saya selalu berusaha mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kawan-kawan yang ada didalam perusahaan untuk selalu melakukan “kontrol ganda”: kontrol pada diri sendiri dan kontrol pada apa yang kita delegasikan. Dengan demikian, kita dapat mengurangi resiko-resiko keterlambatan dalam pencapaian target yang sudah disepakati bersama.

Kira-kira demikian pemikiran dari saya, apa yang saya sampaikan bisa jadi salah dan butuh koreksi dari orang yang lebih berpengalaman. Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat. []

 

 

Hari Yang Baru

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Gradasi.

Tak terasa, dua tahun lebih sudah pernikahan kami berlangsung. Lika-liku suka, duka, senang, dan sedih terlewati. Memang tidak salah jika kita mengibaratkan pernikahan itu seperti mengarungi bahtera. Terkadang harus melewati ombak pasang dan surut. Kita harus pandai-pandai untuk mengatur kapan harus menggunakan layar, kapan harus mengumpulkan bekal kembali, dan kapan harus mengecek kondisi bahtera. Persis seperti itu.

cropped-img_2350.jpg

Buat saya, setiap hari pernikahan adalah “Hari Yang Baru”. Awalnya saya mengira pernikahan itu gampang. Semua bisa dibaca lewat buku dan pengalaman orang lain. Nyatanya tidak! hingga saat ini saya masih terus belajar untuk mengenal siapa diri saya dan siapa istri saya. Terkadang persepsi “benar” menurut saya, belum tentu “benar” bagi dirinya.  Pun sama dengan dirinya. Persepsi “bagus” menurut dirinya, belum tentu “bagus” menurut saya. Pada akhirnya, persepsi kami bisa sama melalui satu kunci: saling pengertian.

Pada akhirnya kedewasaanlah yang membuat bahtera rumah tangga menjadi kuat. Rasa cintalah yang membuat tiangnya semakin kokoh. Dan tak lupa, keimananlah yang membuat roda kemudinya terus berarah menuju ke surga. Hari ini ada momen yang mungkin tidak akan terlupakan buat kami. Kami melakukan hal yang telah kami siapkan sejak dulu kala.

Semoga selalu dilancarkan. []

1 Jam Lebih Dekat dengan FIM Bandung

Beberapa hari lalu, salah seorang sahabat FIM Bandung* (atau sering disebut dengan FIM Kece) mengontak saya untuk bisa diwawancarai via whatsapp group (WAG) dengan tajuk “1 Jam Lebih Bersama Ryan Alfian Noor”.

1-jam-lebih-dekat

Supaya apa yang saya bagi tidak hanya bisa dibaca sahabat FIM Kece, maka saya tuliskan kembali di blog saya ya. Dan mengingat wawancara waktu itu sangat terbatas (literally…. 1 jam, itu pun dijawab dengan mengetik), maka ada beberapa hal yang saya tambahkan dan lengkapi kembali disini. Semoga bermanfaat.

 Kang Izin nanya biodata ya kang?

  1. Nama lengkap: Ryan Alfian Noor
  2. Nama panggilan: Ryan
  3. TTL: 10 Jan 89
  4. Angkatan Kuliah: 2011 (lulus)
  5. Asal Kampus: Teknik Perminyakan ITB
  6. Domisili: Arcamanik
  7. Riwayat aktivitas: Direktur BUMD (lihat lengkapnya disini)
  8. Alamat email: ryanalfiannoor@gmail.com
  9. url fb: */ryanalfiannoor
  10. instagram: @ryanalfiannoor
  11. Visi hidup: Good is the Enemy of Great
  12. Status: Menikah dengan 1 istri
  13. Hal yang paling berkesan di FIM KECE: kekeluargaannya, rame, kontribusinya, jaringannya, grup serba ada jawaban.
  14. Ekspektasi/Harapan pribadi di FIM KECE: bisa terus menjadi grup yang saling menjaga, membantu, dan mengembangkan anggotanya. Anggota FIM makin besar spektrum anggotanya, ada yang kuliah dan pasca kuliah, ada yang jomblo dan kuliah, ada yang di Bandung dan luar Bandung. Tetap jaga kekeluargaan, jgn offside dlm bercanda, dan bisa optimalkan potensi untuk sinergi dikehidupan masyarakat.
  15. Cerita pengalaman pribadi yang paling bermakna/ paling tidak pernah terlupakan selama hidup: Perjuangan untuk bisa kuliah, shifting career, dan perjalanan sampai bangku pelaminan

Kalau punya kesempatan dapat amanah jd Menteri ESDM, apa yang Kang Ryan lakukan untuk Indonesia yang lbh baik?

Sebenarnya ini adalah pertanyaan berat. Diamanahi posisi sekarang saja udah berat, apalagi menteri. Hehe. Klo dpt amanah jd menteri ESDM ya.. mungkin urutannya seperti ini:

  1. Perkuat fungsi leadership dan kapabilitas pejabat kementrian di tataran eselon 1 sampai eselon 3.
  2. Mencari talent-talent muda terbaik indonesia untuk men-support tugas kementerian.
  3. Memodernisasi fungsi birokrasi dan badan negara untuk pelayanan masyarakat dan swasta dengan teknologi.
  4. Mengoptimalisasi dan efisiensi fungsi BUMN untuk memaksimalkan potensi semua energi di Indonesia dan go internasional.
  5. Melibatkan dengan aktif seluruh stakeholder terkait (regulator, swasta, LSM, organisasi keprofesian, akademisi, dan lain-lain) dalam menentukan kebijakan energi Indonesia
  6. Memaksimalkan potensi EBTKE di Indonesia khususnya nuklir Indonesia.
  7. Memaksimalkan peran swasta untuk melakukan usaha-usaha pendukung dalam merealisasikan ketahanan energi Indonesia.
  8. Sinergisasi kelembagaan dan BUMD di daerah guna merealisasikan ketahanan energi daerah.

Kang, biar jd kece, sukses, bahagia kaya kang ryan ada tipsnya ga? Apa pelajaran hidup sejauh ini yang bener2 berkesan dan bikin kak ryan jd seperti skrg?

Pelajaran yang saya dapat hingga sekarang mungkin adalah ini: jangan pernah lupakan orang yang sudah baik sama kita.  Contoh paling dekat adalah Orang tua. Orang tua kita sudah baik sama kita, minimal buat mereka bangga sama kita. Bisa dgn materil dan bisa juga dengan prestasi yang bisa kita buat. Kita hidup hanya sekali, berbuatlah yang terbaik untuk orang yang sudah baik dengan kita.

Bnyk jg sahabat-sahabat disini yang sudah baik dan support saya, minimal balas kebaikan mereka dengan menjaga “kebaikan mereka” itu agar bisa dirasakan buat buat sahabat yang lainnya. Saling bantu dan jaga terus silaturahim.

Rakyat Negara kita pun juga sudah baik sama kita. Selama ini proses pendidikan, energi, listrik, kita banyak di subsidi sama rakyat. Seminimal-minimalnya kita bisa optimalkan peran kita kalau kita sudah lulus kuliah.

Gimana ceritanya sih kang kok di umur segini bisa memegang amanah Direktur BUMD? Apa emang lazim? Kronologinya gimana?

2011, saya bisa katakan, sudah punya posisi aman di salah satu perusahaan migas asing di Indonesia. Hehe. Tapi saya masih penasaran dan terus memikirkan passion saya di bidang energi. Saya terinspirasi mengapa zaman Arifin Panigoro dulu kok bisa masa mudanya membangun perusahaan migas yang bernama MEDCO. Padahal ini perusahaan padat modal. Modal duit ya, bukan modal nekat saja. Saya belum menemukan bagaimana rumusannya. Yang saya tahu, Pak Arifin Panigoro punya keberanian dalam mengambil kesempatan dan sudah memulai track recordnya sejak MUDA.

2013, saya dapat kesempatan diundang oleh Pak Yusran Aspar, Bupati Penajam Paser Utara (PPU), untuk mengutarakan ide-ide saya dalam pengelolaan lapangan migas yang ada disana. Dengan pengalaman yang saya punya, saya utarakan semua hal “kreatif” yang pernah saya lakukan selama ini untuk meningkatkan produksi suatu lapangan. Selesai acara itu, saya terkejut ketika pak Bupati langsung menawarkan amanah untuk memimpin divisi perusahaan daerah (perusda) migas yang ada disana. Saya cukup lama memikirkan kesempatan ini. Ada keraguan dan keberanian disatu waktu yang sama.  Pada akhirnya, dengan segenap keberanian melepas “kepastian pekerjaan” saya dan modal kenekatan saja, saya terima amanah untuk menjadi General Manager disana. Waktu itu ada banyak senior saya yang berpandangan miring tentang keputusan yang telah saya lakukan. Dan saya masih ingat, kebanyakan senior saya malah menyarankan kepada saya untuk berpikir ulang dan mendalami dulu terkait compensation and benefit (C&B) yang pasti akan terjun dibanding tetap ditempat sekarang. Bisa dibayangkan, saya melepaskan gaji puluhan juta rupiah, kesempatan karir diluar negeri, kesempatan mendapatkan program rumah, pelatihan, dan sebagainya. Dengan ucapan bismillah, saya tetap yakin untuk resign dari perusahaan saya. Alhamdulillah perlahan-lahan, produksi lapangan yang saya pimpin mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Allah memang sudah mempersiapkan rezeki terbaik untuk hamba-Nya, ternyata C&B yang saya dapatkan masih bisa sama dengan perusahaan sebelumnya. Bahkan lebih….

2015, saya dapat kesempatan untuk mengabdi di Jawa Barat hingga sekarang untuk mengelola potensi bisnis hulu migas disana oleh Pak Ahmad Heryawan. Pengalaman mengelola potensi migas di Jawa Barat belum bisa saya ceritakan banyak. Akan ada nanti saatnya ya.

Apakah lazim? Sy balik pertanyaannya apakah tidak lazim? Jangan-jangan kita saja yang belum terbiasa mendengar anak muda yang menjadi pemimpin. Era saat ini adalah era milenial, dimana yang muda yang dipercaya. Asal punya karya yang nyata tanpa banyak berkoar-koar.

Disini jg banyak yg udah jd founder dan direktur perusahaannya sendiri kan?

suka duka kang ryan sebelum hingga kini jadi dirut BUMD?

Sukanya adalah saya bisa turut berkontribusi meningkatkan kinerja perusahaan di PPU sana. selama berada di Benuo Taka, kita (saya dan seluruh tim disana) berhasil untuk:

  1. meningkatkan pendapatan bersih dan produksi gas 71% dalam dua tahun
  2. menurunkan biaya produksi sebesar 13%.
  3. meningkatkan merestrukturisasi harga gas hingga bisa meningkat 31%
  4. dan mencapai target diatas APBN sebesar 183%

Dukanya adalah kadang kita harus siap jadi korban media. Haha. Saya pernah di kritik oleh DPRD karena posisi saya lebih sering di Jakarta. Mengingat waktu itu ada banyak sekali peralihan kontrak lama ke kontrak baru, maka mengharuskan saya harus sering berkoordinasi dengan SKK Migas dan Dirjen ESDM. Namun ternyata isu yang berhembus berbeda dilapangan, rupanya saya dianggap malas berkantor.Coba search nama saya di google. Mungkin dihalaman 3 atau 4 ada muncul apa yg saya maksud.  Ini adalah ujian berat pertama bagi saya. Saya rupanya masih harus belajar me-maintain komunikasi dengan para stakeholder terkait.

Tapi saya percaya pada sebuah prinsip: kalau kita bekerja dengan baik, terapkan Good Corporate Governance (GCG), dan niatkan tulus untuk bela negara, insya Allah, pasti kita akan dimudahkan selama menjalani amanah. Toh kinerja kita dinilai melalui peningkatan produktivitas perusahaan bukan? Alhamdulillah setelah menunaikan tugas disana, silaturahim tetap dapat terjalin dengan baik dengan rekan-rekan yang ada disana.

Satu lagi dukanya, rambut saya kini lebih banyak ubannya. Hehe.

 Kang gimana kisah perjuangan untuk bisa kuliahnya?

Orang tua saya tidak bisa biayai kuliah saya secara penuh. Jadi waktu kuliah saya cari opsi biaya yang paling ringan. Sempat numpang tinggal sama teman. Pelan-pelan nyicil buat beli kasur, meja belajar, komputer, dan buku-buku kuliah. Alhamdulillah habis itu bisa dapat beasiswa Tanoto dan ppsdms. Jadi bisa fokus untuk kegiatan kuliah dan diluar. Hehe.

Pernah saat awal kuliah, Bapak saya meniatkan ke Bandung untuk menemani saya daftar ulang. Ada kejadian lucu saat Bapak saya mau pulang. Ternyata Bapak saya belum beli tiket pulang lagi ke Balikpapan. Walhasil, satu-satunya handphone Bapak saya akhirnya dijual di Pasar Glodok Jakarta. Uangnya dipakai untuk beli tiket di Bandara. Dan Bapak saya tidak pernah memberitahu saya sampai saat ini, jika saja adik saya tidak cerita sesampainya di Balikpapan.

Kang dulu deket sama orang tua ga kang? Sedeket apa kedekatan akang sama ortu? Soalnya kesuksesan akang pasti sangat tidak jauh dr peran ortu. Lalu bagaimana sih ortu akang ngididik sampe bs ky skrg.

Saya dekat sama Bapak Saya. Buat saya, peran Bapak punya kontribusi besar untuk hidup saya. Penjelasan ini agak panjang, dan mungkin suatu saat sy tuliskan. Hehe. Intinya, saya banyak belajar bagaimana Bapak mengajarkan hidup sederhana dan jangan pernah berhenti berusaha.

kang ryan, dulu di kampus ngerjain apa aja? Kabinet? himpunan? Apakah termasuk ngerjain dosen juga kah? Dan ilmu apa yang kepake banget dari kuliah sampe kerja

Waktu dikampus sempat untuk…..

Mau jadi kahim, tapi gak jadi nyalon.. karna dicalonkan sebagai salah satu calon kepala (cakep) Gamais.

Mau jadi Kepala Gamais, tapi gak jadi..
Karna majelis syuro mengamanahkannya ke Panji Prabowo, salah satu sahabat terbaik saya.

Mau jadi MWA perwakilan mahasiswa duet bareng Gesa Falugon, tapi g jadi juga karna satu dan lain hal.

Saya banyak GAK JADI nya waktu kuliah. Tapi walau gak jadi pemimpin organisasi, saya diajak oleh pemimpin organisasi tersebut untuk menjadi wakil mereka.

Bagaimana cara memanage keluarga sekarang kang Ryan? I mean dgn amanah sebesar itu kan pasti sibuk, bagaimana mengatur waktu bersama istri. Lalu bagaimana support istri terhadap amanah2 kang ryan?

  • 1 minggu pertama romantis
  • 1 minggu berikutnya langsung sering ditinggal kerja 😂
  • 6 bulan berikutnya mulai adaptasi pasang surut emosi tentang mengatur waktu bersama istri
  • 6 bulan berikutnya mulai bs adjust emosi untuk quality time bersama istri

Sampai sy ngetik tulisan ini… Sy masih sering meninggalkan istri, dan waktu paling optimal adalah weekend. Msh susah dibawa kemana-mana karna masih koas. Alhamdulillah istri bs “bertahan” pada situasi ini, dan akhirnya sedikit banyak tumpah perasaannya di blog tentang kuliah dan keluarga.  (kunjungi ya blognya 😀).

Td kata “bertahan” mungkin akan difahami maksudnya klo disini ada yg berpasangan sama dokter gigi.. haha. Atau bisa juga makna “bertahan” akan berasa pada pasangan LDR.

spoiler dong kang, kan udh keren banget nih megang bumd, rencana kedepan bakal nyalon jd bupati/ walkot/ gubernur/ presiden ga kang?

Masa bakti sy sampai 2018 ini sejalan dgn berakhirnya masa bakti Pak Aher. Sampai saat ini msh fokus buat mengoptimalkan amanah. Klo kata petuah gini: “Kalau kita fokus mengurusi hajat orang lain, insya Allah akan tiba saatnya orang lain yg akan mengurusi hajat kita”

Mau tau. Kalo pola hidup ka ryan, hal hal apa saja yang dibiasakan. Untuk bisa jadi pribadi yang siap dengan berbagai amanah dan kepercayaan yang datang

Buat saya ada empa hal:

  1. Mentor yang membimbing;
  2. Selalu dapat dipercaya dan menjaga komunikasi;
  3. Membentuk tim yang solid dan saling percaya;
  4. Menjadi orang yang paling siap berkorban sebelum tim.