1 Jam Lebih Dekat dengan FIM Bandung

Beberapa hari lalu, salah seorang sahabat FIM Bandung* (atau sering disebut dengan FIM Kece) mengontak saya untuk bisa diwawancarai via whatsapp group (WAG) dengan tajuk “1 Jam Lebih Bersama Ryan Alfian Noor”.

1-jam-lebih-dekat

Supaya apa yang saya bagi tidak hanya bisa dibaca sahabat FIM Kece, maka saya tuliskan kembali di blog saya ya. Dan mengingat wawancara waktu itu sangat terbatas (literally…. 1 jam, itu pun dijawab dengan mengetik), maka ada beberapa hal yang saya tambahkan dan lengkapi kembali disini. Semoga bermanfaat.

 Kang Izin nanya biodata ya kang?

  1. Nama lengkap: Ryan Alfian Noor
  2. Nama panggilan: Ryan
  3. TTL: 10 Jan 89
  4. Angkatan Kuliah: 2011 (lulus)
  5. Asal Kampus: Teknik Perminyakan ITB
  6. Domisili: Arcamanik
  7. Riwayat aktivitas: Direktur BUMD (lihat lengkapnya disini)
  8. Alamat email: ryanalfiannoor@gmail.com
  9. url fb: */ryanalfiannoor
  10. instagram: @ryanalfiannoor
  11. Visi hidup: Good is the Enemy of Great
  12. Status: Menikah dengan 1 istri
  13. Hal yang paling berkesan di FIM KECE: kekeluargaannya, rame, kontribusinya, jaringannya, grup serba ada jawaban.
  14. Ekspektasi/Harapan pribadi di FIM KECE: bisa terus menjadi grup yang saling menjaga, membantu, dan mengembangkan anggotanya. Anggota FIM makin besar spektrum anggotanya, ada yang kuliah dan pasca kuliah, ada yang jomblo dan kuliah, ada yang di Bandung dan luar Bandung. Tetap jaga kekeluargaan, jgn offside dlm bercanda, dan bisa optimalkan potensi untuk sinergi dikehidupan masyarakat.
  15. Cerita pengalaman pribadi yang paling bermakna/ paling tidak pernah terlupakan selama hidup: Perjuangan untuk bisa kuliah, shifting career, dan perjalanan sampai bangku pelaminan

Kalau punya kesempatan dapat amanah jd Menteri ESDM, apa yang Kang Ryan lakukan untuk Indonesia yang lbh baik?

Sebenarnya ini adalah pertanyaan berat. Diamanahi posisi sekarang saja udah berat, apalagi menteri. Hehe. Klo dpt amanah jd menteri ESDM ya.. mungkin urutannya seperti ini:

  1. Perkuat fungsi leadership dan kapabilitas pejabat kementrian di tataran eselon 1 sampai eselon 3.
  2. Mencari talent-talent muda terbaik indonesia untuk men-support tugas kementerian.
  3. Memodernisasi fungsi birokrasi dan badan negara untuk pelayanan masyarakat dan swasta dengan teknologi.
  4. Mengoptimalisasi dan efisiensi fungsi BUMN untuk memaksimalkan potensi semua energi di Indonesia dan go internasional.
  5. Melibatkan dengan aktif seluruh stakeholder terkait (regulator, swasta, LSM, organisasi keprofesian, akademisi, dan lain-lain) dalam menentukan kebijakan energi Indonesia
  6. Memaksimalkan potensi EBTKE di Indonesia khususnya nuklir Indonesia.
  7. Memaksimalkan peran swasta untuk melakukan usaha-usaha pendukung dalam merealisasikan ketahanan energi Indonesia.
  8. Sinergisasi kelembagaan dan BUMD di daerah guna merealisasikan ketahanan energi daerah.

Kang, biar jd kece, sukses, bahagia kaya kang ryan ada tipsnya ga? Apa pelajaran hidup sejauh ini yang bener2 berkesan dan bikin kak ryan jd seperti skrg?

Pelajaran yang saya dapat hingga sekarang mungkin adalah ini: jangan pernah lupakan orang yang sudah baik sama kita.  Contoh paling dekat adalah Orang tua. Orang tua kita sudah baik sama kita, minimal buat mereka bangga sama kita. Bisa dgn materil dan bisa juga dengan prestasi yang bisa kita buat. Kita hidup hanya sekali, berbuatlah yang terbaik untuk orang yang sudah baik dengan kita.

Bnyk jg sahabat-sahabat disini yang sudah baik dan support saya, minimal balas kebaikan mereka dengan menjaga “kebaikan mereka” itu agar bisa dirasakan buat buat sahabat yang lainnya. Saling bantu dan jaga terus silaturahim.

Rakyat Negara kita pun juga sudah baik sama kita. Selama ini proses pendidikan, energi, listrik, kita banyak di subsidi sama rakyat. Seminimal-minimalnya kita bisa optimalkan peran kita kalau kita sudah lulus kuliah.

Gimana ceritanya sih kang kok di umur segini bisa memegang amanah Direktur BUMD? Apa emang lazim? Kronologinya gimana?

2011, saya bisa katakan, sudah punya posisi aman di salah satu perusahaan migas asing di Indonesia. Hehe. Tapi saya masih penasaran dan terus memikirkan passion saya di bidang energi. Saya terinspirasi mengapa zaman Arifin Panigoro dulu kok bisa masa mudanya membangun perusahaan migas yang bernama MEDCO. Padahal ini perusahaan padat modal. Modal duit ya, bukan modal nekat saja. Saya belum menemukan bagaimana rumusannya. Yang saya tahu, Pak Arifin Panigoro punya keberanian dalam mengambil kesempatan dan sudah memulai track recordnya sejak MUDA.

2013, saya dapat kesempatan diundang oleh Pak Yusran Aspar, Bupati Penajam Paser Utara (PPU), untuk mengutarakan ide-ide saya dalam pengelolaan lapangan migas yang ada disana. Dengan pengalaman yang saya punya, saya utarakan semua hal “kreatif” yang pernah saya lakukan selama ini untuk meningkatkan produksi suatu lapangan. Selesai acara itu, saya terkejut ketika pak Bupati langsung menawarkan amanah untuk memimpin divisi perusahaan daerah (perusda) migas yang ada disana. Saya cukup lama memikirkan kesempatan ini. Ada keraguan dan keberanian disatu waktu yang sama.  Pada akhirnya, dengan segenap keberanian melepas “kepastian pekerjaan” saya dan modal kenekatan saja, saya terima amanah untuk menjadi General Manager disana. Waktu itu ada banyak senior saya yang berpandangan miring tentang keputusan yang telah saya lakukan. Dan saya masih ingat, kebanyakan senior saya malah menyarankan kepada saya untuk berpikir ulang dan mendalami dulu terkait compensation and benefit (C&B) yang pasti akan terjun dibanding tetap ditempat sekarang. Bisa dibayangkan, saya melepaskan gaji puluhan juta rupiah, kesempatan karir diluar negeri, kesempatan mendapatkan program rumah, pelatihan, dan sebagainya. Dengan ucapan bismillah, saya tetap yakin untuk resign dari perusahaan saya. Alhamdulillah perlahan-lahan, produksi lapangan yang saya pimpin mengalami peningkatan kinerja yang signifikan. Allah memang sudah mempersiapkan rezeki terbaik untuk hamba-Nya, ternyata C&B yang saya dapatkan masih bisa sama dengan perusahaan sebelumnya. Bahkan lebih….

2015, saya dapat kesempatan untuk mengabdi di Jawa Barat hingga sekarang untuk mengelola potensi bisnis hulu migas disana oleh Pak Ahmad Heryawan. Pengalaman mengelola potensi migas di Jawa Barat belum bisa saya ceritakan banyak. Akan ada nanti saatnya ya.

Apakah lazim? Sy balik pertanyaannya apakah tidak lazim? Jangan-jangan kita saja yang belum terbiasa mendengar anak muda yang menjadi pemimpin. Era saat ini adalah era milenial, dimana yang muda yang dipercaya. Asal punya karya yang nyata tanpa banyak berkoar-koar.

Disini jg banyak yg udah jd founder dan direktur perusahaannya sendiri kan?

suka duka kang ryan sebelum hingga kini jadi dirut BUMD?

Sukanya adalah saya bisa turut berkontribusi meningkatkan kinerja perusahaan di PPU sana. selama berada di Benuo Taka, kita (saya dan seluruh tim disana) berhasil untuk:

  1. meningkatkan pendapatan bersih dan produksi gas 71% dalam dua tahun
  2. menurunkan biaya produksi sebesar 13%.
  3. meningkatkan merestrukturisasi harga gas hingga bisa meningkat 31%
  4. dan mencapai target diatas APBN sebesar 183%

Dukanya adalah kadang kita harus siap jadi korban media. Haha. Saya pernah di kritik oleh DPRD karena posisi saya lebih sering di Jakarta. Mengingat waktu itu ada banyak sekali peralihan kontrak lama ke kontrak baru, maka mengharuskan saya harus sering berkoordinasi dengan SKK Migas dan Dirjen ESDM. Namun ternyata isu yang berhembus berbeda dilapangan, rupanya saya dianggap malas berkantor.Coba search nama saya di google. Mungkin dihalaman 3 atau 4 ada muncul apa yg saya maksud.  Ini adalah ujian berat pertama bagi saya. Saya rupanya masih harus belajar me-maintain komunikasi dengan para stakeholder terkait.

Tapi saya percaya pada sebuah prinsip: kalau kita bekerja dengan baik, terapkan Good Corporate Governance (GCG), dan niatkan tulus untuk bela negara, insya Allah, pasti kita akan dimudahkan selama menjalani amanah. Toh kinerja kita dinilai melalui peningkatan produktivitas perusahaan bukan? Alhamdulillah setelah menunaikan tugas disana, silaturahim tetap dapat terjalin dengan baik dengan rekan-rekan yang ada disana.

Satu lagi dukanya, rambut saya kini lebih banyak ubannya. Hehe.

 Kang gimana kisah perjuangan untuk bisa kuliahnya?

Orang tua saya tidak bisa biayai kuliah saya secara penuh. Jadi waktu kuliah saya cari opsi biaya yang paling ringan. Sempat numpang tinggal sama teman. Pelan-pelan nyicil buat beli kasur, meja belajar, komputer, dan buku-buku kuliah. Alhamdulillah habis itu bisa dapat beasiswa Tanoto dan ppsdms. Jadi bisa fokus untuk kegiatan kuliah dan diluar. Hehe.

Pernah saat awal kuliah, Bapak saya meniatkan ke Bandung untuk menemani saya daftar ulang. Ada kejadian lucu saat Bapak saya mau pulang. Ternyata Bapak saya belum beli tiket pulang lagi ke Balikpapan. Walhasil, satu-satunya handphone Bapak saya akhirnya dijual di Pasar Glodok Jakarta. Uangnya dipakai untuk beli tiket di Bandara. Dan Bapak saya tidak pernah memberitahu saya sampai saat ini, jika saja adik saya tidak cerita sesampainya di Balikpapan.

Kang dulu deket sama orang tua ga kang? Sedeket apa kedekatan akang sama ortu? Soalnya kesuksesan akang pasti sangat tidak jauh dr peran ortu. Lalu bagaimana sih ortu akang ngididik sampe bs ky skrg.

Saya dekat sama Bapak Saya. Buat saya, peran Bapak punya kontribusi besar untuk hidup saya. Penjelasan ini agak panjang, dan mungkin suatu saat sy tuliskan. Hehe. Intinya, saya banyak belajar bagaimana Bapak mengajarkan hidup sederhana dan jangan pernah berhenti berusaha.

kang ryan, dulu di kampus ngerjain apa aja? Kabinet? himpunan? Apakah termasuk ngerjain dosen juga kah? Dan ilmu apa yang kepake banget dari kuliah sampe kerja

Waktu dikampus sempat untuk…..

Mau jadi kahim, tapi gak jadi nyalon.. karna dicalonkan sebagai salah satu calon kepala (cakep) Gamais.

Mau jadi Kepala Gamais, tapi gak jadi..
Karna majelis syuro mengamanahkannya ke Panji Prabowo, salah satu sahabat terbaik saya.

Mau jadi MWA perwakilan mahasiswa duet bareng Gesa Falugon, tapi g jadi juga karna satu dan lain hal.

Saya banyak GAK JADI nya waktu kuliah. Tapi walau gak jadi pemimpin organisasi, saya diajak oleh pemimpin organisasi tersebut untuk menjadi wakil mereka.

Bagaimana cara memanage keluarga sekarang kang Ryan? I mean dgn amanah sebesar itu kan pasti sibuk, bagaimana mengatur waktu bersama istri. Lalu bagaimana support istri terhadap amanah2 kang ryan?

  • 1 minggu pertama romantis
  • 1 minggu berikutnya langsung sering ditinggal kerja 😂
  • 6 bulan berikutnya mulai adaptasi pasang surut emosi tentang mengatur waktu bersama istri
  • 6 bulan berikutnya mulai bs adjust emosi untuk quality time bersama istri

Sampai sy ngetik tulisan ini… Sy masih sering meninggalkan istri, dan waktu paling optimal adalah weekend. Msh susah dibawa kemana-mana karna masih koas. Alhamdulillah istri bs “bertahan” pada situasi ini, dan akhirnya sedikit banyak tumpah perasaannya di blog tentang kuliah dan keluarga.  (kunjungi ya blognya 😀).

Td kata “bertahan” mungkin akan difahami maksudnya klo disini ada yg berpasangan sama dokter gigi.. haha. Atau bisa juga makna “bertahan” akan berasa pada pasangan LDR.

spoiler dong kang, kan udh keren banget nih megang bumd, rencana kedepan bakal nyalon jd bupati/ walkot/ gubernur/ presiden ga kang?

Masa bakti sy sampai 2018 ini sejalan dgn berakhirnya masa bakti Pak Aher. Sampai saat ini msh fokus buat mengoptimalkan amanah. Klo kata petuah gini: “Kalau kita fokus mengurusi hajat orang lain, insya Allah akan tiba saatnya orang lain yg akan mengurusi hajat kita”

Mau tau. Kalo pola hidup ka ryan, hal hal apa saja yang dibiasakan. Untuk bisa jadi pribadi yang siap dengan berbagai amanah dan kepercayaan yang datang

Buat saya ada empa hal:

  1. Mentor yang membimbing;
  2. Selalu dapat dipercaya dan menjaga komunikasi;
  3. Membentuk tim yang solid dan saling percaya;
  4. Menjadi orang yang paling siap berkorban sebelum tim.

Pojok Cerita 1 – PI ONWJ

Bulan Januari ini, terdapat hal yang penting terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Tepat pada tanggal 18 Januari 2017 lalu, kontrak baru PI ONWJ resmi ditandatangani oleh pihak Pertamina dan SKK Migas. Tentunya ini menjadi satu langkah kedepan untuk menyambut pelaksanaan Participating Interest (PI) pada wilayah kerja (WK) Offshore Northwest Java (ONWJ).

jonan

Perjalanan mempersiapkan PI WK ONWJ bukanlah perkara muda. Ada berbagai kondisi dinamis yang kami alami sejak kami -khususnya saya- dilantik pada April 2015 lalu. Mulai dari dasar hukum yang belum ada diawal proses, pemegang saham harus pemerintah 100%, membagi porsi PI kepada setiap kabupaten kota secara adil, tidak boleh mengalihkan dan menjaminkan PI, dan hal lainnya. Dari sudut pandang daerah, hal ini tentu akan menjadi faktor pengaman dalam bisnis. Namun dalam sudut pandang seorang pebisnis, bisa dikatakan PI tidak diminati karena batasan-batasan tersebut.

Namun demikian, adanya Permen ESDM No. 37 Tahun 2016 telah mengubah segalanya. Segala modal yang dibiayakan akan ditalangi oleh kontraktor, dan TANPA BUNGA. Mau ditimbang dari sisi manapun, ini adalah rezeki nomplok buat daerah -dalam hal ini adalah JAWA BARAT-.

Bagaimanapun juga, proses PI ONWJ masih belum selesai. Masih ada proses-proses formal legal yang harus dilakukan sampai nanti akhirnya Jawa Barat mendapatkan PI-nya melalui BUMD Migas Hulu Jabar. Belum lagi aturan baru Gross Split yang akan diaplikasikan dalam kontrak baru ONWJ. Tentu hitungan-hitungannya akan berbeda lagi. Tapi Gubernur Jawa Barat sudah tegas mengatakan bahwa KAMI SIAP.

Jawa Barat Siap.jpeg

Semoga langkah kami dimudahkan. Demi Jawa Barat!

Dear, De

Tidak terasa, sudah 1 tahun 1 bulan kita menikah. Aku ingat hari pertama kita sebagai suami-istri. Aku memandangmu yang terkulai tidur, sembari bermunculan keraguan  dan kegelisahan didalam diri. Benarkah kamu yang akan menemaniku hingga tua nanti? Benarkah kamu seorang yang akan kucintai hingga akhir hayatku?

Aku coba berinteraksi dengan alam sekitar. Sesekali aku coba buka dan tutup gorden tebal di kamar, sambil kucoba susun ulang keyakinan yang acapkali samar. Aku coba pilah-pilah kembali antara harapan, realita, dan kemungkinan.

Beberapa saat kemudian, kamu sudah membuka mata dan tersenyum kepadaku. Dalam hati aku berkata, inilah yang membuatku luluh lantak padamu. Bibirmu yang tersenyum. Ada empat senyummu yang sangat berarti untukku. Senyuman pertama, adalah ketika pertama kali kita bertemu. Senyuman kedua, adalah saat kau tersipu disaat aku mengkhitbah dirimu. Senyuman ketiga, adalah tatkala kugenggam erat tanganmu setelah ikrar akad nikah kutuntaskan dengan sempurna. Dan senyuman yang terakhir adalah senyuman dimalam itu, meskipun kamu tidak menyadarinya. Ia hadir dalam nuansa magis dan puitis. Misterius. Lalu kamu mendekatkan diri padaku. Menyenderkan kepala di bahuku.

Aku luluh. Aku membelai rambutmu.

Hari itu, hari pertama kita sebagai suami-istri, tanpa kamu tahu keraguanku, kita habiskan waktu dengan berbagi cerita. Tentang orang-orang yang tak kita kenal tetapi terlihat begitu akrab menyalami kita. Tentang dokumentasi foto pernikahan kita yang begitu aneh. Tentang teman-temanmu yang terbawa perasaan ingin juga menikah sewaktu melihat kita di pelaminan. Dan tentang hal menyenangkan lainnya.

Namun….

Dibalik wajah ceriamu, apakah kamu juga gelisah dan ragu waktu itu? Sama sepertiku?

Hari demi hari telah kita jalani. Kita tumbuh menjadi suami istri yang mungkin menyimpan keraguan kita masing-masing. Kita menyimpannya dengan rapat tanpa pernah mengungkapkannya, barangkali karena malu atau ingin menundanya sampai waktu yang tidak pernah ditentukan. Kita bersikap seolah segalanya biasa saja dan baik-baik saja. Hingga momen itu terjadi…

Pertengkaran pertama.

Aku masih ingat ketika kamu menangis karena tersinggung oleh kata-kataku. Aku mengingatnya dengan jelas. Aku merekam semuanya dengan jelas. “Kamu nggak melibatkanku!” Katamu. “Kamu yang nggak minta!” Bentakku. Bagaimana kita bisa saling mengerti maksud kita masing-masing, jika memang ada yang kita sembunyikan?

Tiba-tiba segala hal tentang hubungan kita menjadi -sesaat- berubah.

Kamu ternyata tak selalu terlihat cantik, apalagi saat tertidur menggunakan pakaian formal sewaktu pulang dari kampus. Kamu ternyata tak menyukai dengkurku. Kamu ternyata merendahkan selera makananku. Kamu ternyata tidak tertawa pada lelucon-leluconku. Kita ternyata punya sudut pandang yang berbeda tentang banyak hal.

Kita belajar satu hal. Cinta bukan tentang kesamaan standar penilaian.

Tetapi, kemudian kita menemukan film yang sama-sama kita sukai. Film yang terkadang kita bahas dan kritik melebihi para kritikus film ternama didunia. Kita menemukan permainan-permainan untuk mengisi waktu perjalanan kita. Kita menemukan tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Kamu membuatkan mie goreng kesukaanku. Aku menemanimu belanja. Hingga kita kembali… tertidur.

Adalagi hari, dimana kita berada dalam perjalanan. Aku mengemudikan kendaraan dan kamu jadi navigatornya. Kita bermain sepanjang perjalanan, tetapi kita juga bertengkar di sepanjang perjalanan. Karena kamu tidak hafal nama jalan yang kita lalui. Karena kita berselisih untuk menyikapi polisi yang menilang kita. Karena kita bertengkar untuk memutuskan mau makan dimana. Karena aku menyetir dan kamu malah tertidur. Karena kita belum dewasa…

Kemudian keraguan itu muncul lagi. Apakah pernikahan ini keputusan yang benar? Apakah keputusan memilih dirimu adalah tepat? Mungkin diam-diam kamu juga pernah memikirkan dua pertanyaan yang sama.

Tetapi kita memilih untuk meneruskan perjalanan. Aku tetap memegang kemudi dan kamu jadi penunjuk arahnya. Perlahan aku mulai mengerti bahwa saat kamu tertidur dalam perjalanan, maka kutahu kamu pasti telah bangun lebih pagi dariku untuk membereskan rumah di hari itu . Lama-lama aku juga tahu saat aku bertanya “Mau makan di mana?” dan kamu jawab “Terserah” itu sama artinya dengan “Coba ke kedai makanan jepang kesukaanku.” Kita mulai saling menghargai pandangan masing-masing.

Kita belajar tentang hal lainnya. Cinta butuh proses untuk menjadi dewasa.

Kemudian kita membeli rumah baru. Kita belajar untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kita persiapkan perabotan-perabotan rumah bersama. Kemudian, kita menjadi sepasang insan yang kembali jatuh cinta lagi secara lebih sadar. Cinta tak sekedar memamerkan segala hal baik dan menafikan hal buruk didalam diri kita. Cinta adalah tentang berbagi semua hal.

Akhirnya, perlahan keraguanku telah sirna. Karena kegelisahan itu pergi seiring dengan perjalanan yang kita lalui. Satu tahun ini telah menumbuhkan kedewasaan dalam cinta kita. Namun, masih banyak hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun yang akan kita jalani. Persiapkan! Sambil kita menikmati perjalanannya dan terus memaafkan semua detil-detil tidak sempurna di sekeliling diri kita.

Dear, De…

Selamat ulang tahun pernikahan pertama, istriku. Terima kasih untuk cinta yang kamu berikan selama ini. 

IMG_9500

Dari suamimu,
Ry