Walking

jalan2When I grew up in Balikpapan, walking was my main mode of peregrination. Every day during weekday, I would walk to my school a mile away and back again. Firstly, My parents guide me to school till I can just walk by my self.  While on weekend I would walk to the my grandma’s home for family visit purpose or walk to residence of my friend to play video games and stretch my legs.

My favorite walks however, were during the praying time when the sound of Azaan constantly echoes alongside the road. I would find hilarity in walking to mosque, listening to the wonderful voice that call to Muslim prayer. At some point in the time, I can meet all my friends and the grown ups flock to pray well-run together.

A walk, whether single-handed or with mate, with no specific purpose, except just to enjoy the fresh air, is one of nature’s gift that we as human beings truly delight in. And yet, living in our polluted city and increasingly dependent on technology and machine as our mode of travel, walking is something that becomes more extraneous in our daily lives.

Unfortunately, as other than the obvious health benefits, walking, can keep us grounded, connected to nature and relish living in the moment. So next time, rather than spending machine as our transport mode to start the morning, why not take the air in the garden, mosque, or park nearby when it it’s still fresh. []

 

Catatan 15: Kesadaran dan Kontrol

ControlApapun posisi kita, baik seorang generalis maupun spesialis, sudah menjadi leader ataupun baru merintis karir, pun juga jurusan teknik atau jurusan marketing, tidak bisa melepaskan diri dari sebuah target didunia kerja atau usahanya. Target tersebut bisa diformulasikan dalam To Do List, Dream List, atau yang lebih formal lagi dengan sebutan Key Performance Indikator (KPI).

Berdasarkan literatur dan interaksi saya bersama kawan-kawan di perusahaan, ternyata “kontrol” merupakan faktor terpenting dalam mengejar target-target kita. Sejak kecil kita sudah memiliki naluri kontrol dalam segala aktivitas. Ketika belajar berdiri, kita mengontrol diri kita dengan berpegangan pada benda disekitar kita bukan berusaha memegang pada yang tidak bisa kita jangkau. Ketika belajar untuk ujian, kita mengontrol diri kita dengan berusaha belajar bersungguh-sungguh alih-alih mempengaruhi guru kita untuk mengetahui soal-soal apa saja yang akan keluar dalam ujian. Bahkan di dunia kerja, naluri kontrol pun tidak bisa kita lepaskan: bagaimana me-manage waktu kita antara bekerja dan keluarga, memperluas pengetahuan kita, hingga melebarkan networking kita.

Namun, semakin padatnya kegiatan kita, terkadang kontrol kita terhadap suatu hal menjadi berkurang. Jika kita pernah merasa pekerjaan yang menumpuk disuatu waktu; merasa ling-lung pada pekerjaan yang kita lakukan; atau bahkan kita kadang merasa sendiri dalam mengerjakan sesuatu; bisa jadi itu tanda-tanda sudah kehilangan kontrol pada diri kita. Untuk mengidentifikasi kontrol dalam diri kita, izinkan saya membagi maksud kalimat saya tadi ke dalam beberapa hal berikut:

  1. Kita sadar bahwa kita punya kontrol
    Pada kondisi ini, bisa dipastikan manajemen waktu kita bisa berjalan dengan lancar. Kita dapat mengerjakan prioritas pekerjaan kita, tidak amburadul. Kita mampu memisahkan mana yang harus kita kerjakan dan mana yang harus didelegasikan. Biasanya kondisi ini terjadi pada orang-orang yang telah memiliki jam terbang tinggi/ pengalaman dalam apa yang dia kerjakan. Pengalaman menguatkan naluri kontrol mereka dalam beraktivitas sehingga bisa berjalan dengan baik.
  2. Kita sadar bahwa kita tidak punya kontrol
    Biasanya kondisi ini terjadi banyak terjadi pada middle management dalam perusahaan. Bisa jadi pernah dalam suatu waktu, pekerjaan kita tiba-tiba menumpuk karena permintaan dari atasan atau stakeholder disekitar kita. Dan parahnya, hal itu tidak termasuk dalam pekerjaan harian yang telah menjadi KPI kita. Karena tumpukan pekerjaan  itu dan waktu tidak berbanding lurus maka berpotensi untuk terbengkalai. Untuk itu, penting sekali sebuah organisasi atau perusahaan membentuk suatu corporate culture dan rapat koordinasi yang dibutuhkan untuk dapat memeratakan pekerjaan yang dimiliki oleh masing-masing personal.
  3. kita tidak sadar bahwa kita punya kontrol
    Kondisi ini kemungkinan terjadi ketika kita memiliki posisi baru dalam satu aktivitas pekerjaan namun tidak berusaha cepat beradaptasi. Akibatnya, kita kembali “mengulang” kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah dikerjakan pada aktivitas sebelumnya. Kondisi ini akan menjadi berbahaya ketika terjadi pada seorang pemimpin. Pemimpin yang tidak sadar punya kontrol, maka akan banyak pekerjaan yang berpotensi melenceng dari targetnya.
  4. kita tidak sadar bahwa kita tidak punya kontrol
    Pada kondisi ini, bisa jadi kita masih bingung pada apa yang kita kerjakan. Biasanya hal ini terjadi karena kita belum menemukan kecocokan dan tidak mengerti dengan apa yang sedang kita kerjakan. Akibatnya, kita tidak mengetahui apakah satu pekerjaan harus dikerjakan sendiri ataukah didelegasikan pada orang lain. Apakah satu pekerjaan harus dikerjakan hari ini ataukah dilain hari.

Kondisi-kondisi diatas sifatnya dinamis. Bisa jadi “kesadaran” dan “kontrol” kita berubah-ubah karena perubahan pekerjaan kita, psikologis kita, ataupun faktor eksternal disekitar kita. Saya selalu berusaha mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kawan-kawan yang ada didalam perusahaan untuk selalu melakukan “kontrol ganda”: kontrol pada diri sendiri dan kontrol pada apa yang kita delegasikan. Dengan demikian, kita dapat mengurangi resiko-resiko keterlambatan dalam pencapaian target yang sudah disepakati bersama.

Kira-kira demikian pemikiran dari saya, apa yang saya sampaikan bisa jadi salah dan butuh koreksi dari orang yang lebih berpengalaman. Semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat. []

 

 

Hari Yang Baru

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegal tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Gradasi.

Tak terasa, dua tahun lebih sudah pernikahan kami berlangsung. Lika-liku suka, duka, senang, dan sedih terlewati. Memang tidak salah jika kita mengibaratkan pernikahan itu seperti mengarungi bahtera. Terkadang harus melewati ombak pasang dan surut. Kita harus pandai-pandai untuk mengatur kapan harus menggunakan layar, kapan harus mengumpulkan bekal kembali, dan kapan harus mengecek kondisi bahtera. Persis seperti itu.

cropped-img_2350.jpg

Buat saya, setiap hari pernikahan adalah “Hari Yang Baru”. Awalnya saya mengira pernikahan itu gampang. Semua bisa dibaca lewat buku dan pengalaman orang lain. Nyatanya tidak! hingga saat ini saya masih terus belajar untuk mengenal siapa diri saya dan siapa istri saya. Terkadang persepsi “benar” menurut saya, belum tentu “benar” bagi dirinya.  Pun sama dengan dirinya. Persepsi “bagus” menurut dirinya, belum tentu “bagus” menurut saya. Pada akhirnya, persepsi kami bisa sama melalui satu kunci: saling pengertian.

Pada akhirnya kedewasaanlah yang membuat bahtera rumah tangga menjadi kuat. Rasa cintalah yang membuat tiangnya semakin kokoh. Dan tak lupa, keimananlah yang membuat roda kemudinya terus berarah menuju ke surga. Hari ini ada momen yang mungkin tidak akan terlupakan buat kami. Kami melakukan hal yang telah kami siapkan sejak dulu kala.

Semoga selalu dilancarkan. []