Partisipasi Daerah Dalam Pengelolaan Migas: Antara Harapan dan Kenyataan

Dengan bergulirnya Permen ESDM No. 15 Tahun 2015 yang lalu, yaitu tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi yang Akan Berakhir Kontrak Kerja Samanya, maka ketentuan ini membawa angin segar bagi Pemerintah Daerah untuk dapat turut berpartisipasi menjadi mitra pemegang participating interest paling banyak 10% (sepuluh persen) pada wilayah kerja yang akan diperpanjang kontraknya.

Hal ini akan menjadi babak baru dalam pengelolaan migas di daerah masing-masing. Pasalnya, ketentuan keikutsertaan pemda dalam pengelolaan migas selama ini hanya ‘bercantol’ kepada PP No. 35 Tahun 2004 pada Pasal 34 yang menyatakan bahwa sejak disetujuinya rencana pengembangan lapangan/ Plan of Development (POD) yang pertama kali akan diproduksikan dari suatu wilayah kerja migas, Kontraktor wajib menawarkan participating interest 10% kepada BUMD. Pada peraturan tersebut, keikutsertaan pemda hanya diatur pada wilayah kerja eksplorasi pertama saja, dan tidak mengatur untuk wilayah kerja yang sudah memasuki fase perpanjangan.

Setidaknya terdapat empat keuntungan kepemilikan participating interest wilayah kerja migas perpanjangan bagi daerah.

Yang pertama adalah faktor keekonomian. Pada wilayah kerja perpanjangan, risiko investasi yang akan dijalankan pemda akan jauh lebih kecil dibandingkan wilayah kerja POD yang pertama disetujui. Pada wilayah kerja perpanjangan, produksi minyak dan gas tengah berlangsung dan infrastrukturnya sudah terbangun. Kedua keuntungan tadi, menjadikan keekonomian investasi lebih atraktif dan jauh lebih cepat mencapai BEP. Hal ini jauh berbeda dengan wilayah kerja eksplorasi yang masih memiliki risiko geologi (geological risk) yang tinggi dan investasi besar untuk membangun fasilitas produksinya.

Yang kedua adalah faktor pemanfaatan langsung hasil produksi untuk kepentingan daerah. Berdasarkan Petroleum Resources Management System yang disepakati oleh SPE, AAPG, WPC, dan SPEE dinyatakan bahwa pada sistem PSC, minyak dan gas yang terangkat ke permukaan (lifting) akan dibagi menjadi bagian pemerintah dan bagian kontraktor dalam bentuk entitlement. Jadi yang diterima oleh kontraktor bukanlah dalam bentuk uang cash, melainkan hasil produksi itu sendiri yang akan digunakan pengganti biaya pengembalian (cost recovery) dan pendapatan kontraktor (contractor revenue). Dengan memiliki PI, daerah secara otomatis akan mendapatkan juga bagian hasil produksinya langsung secara proporsional untuk diatur sendiri peruntukannya sesuai dengan kepentingan daerah.

Yang ketiga adalah faktor transfer pengetahuan. Dengan terlibat dalam pengelolaan PI di wilayah kerja migas, daerah melalui BUMD-nya dapat turut langsung mengetahui bagaimana proses bisnis migas berlangsung didaerahnya dan melakukan sinergisasi dengan operator wilayah kerja dengan melakukan terobosan-terobosan penyelesaian masalah (misalkan masalah sosial atau pembebasan lahan) yang bisa dilakukan dengan ‘khas pendekatan kedaerahan’. Selain itu, hal ini juga menjadi keuntungan tersendiri untuk daerah, jika nanti dimasa depan ingin menjadi operator langsung untuk mengelola wilayah kerja sendiri atau menjalin kerjasama KSO bersama Pertamina/KKS lainnya karena telah memiliki portofolio bisnis di bidang migas sebelumnya.

Yang terakhir adalah faktor transparansi. Hingga saat ini nilai lifting, cost recovery, dan asal-muasal dari perhitungan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas menjadi pertanyaan bagi daerah penghasil migas karena terbatasnya informasi yang diberikan. Dengan turut terlibat langsung dalam PI di wilayah kerja migas di areanya, maka daerah akan mendapatkan akses informasi yang lengkap karena daerah (melaluI BUMD-nya) telah menjadi bagian dari bisnis migas itu sendiri.

Kendati partisipasi daerah dalam pengelolaan migas memberikan harapan yang besar untuk dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD); menambah lapangan pekerjaan; dan mendorong kemajuan perekonomian daerah; pada realitanya daerah masih kesulitan untuk mengeksekusinya karena faktor pemodalan.

Dalam bisnis migas, telah kita ketahui bersama bahwa modal yang dibutuhkan sangatlah besar dan potensi risikonya tinggi. Akibatnya, bisa diprediksi banyak daerah yang enggan masuk kedalam sektor bisnis ini sekalipun pada wilayah kerja perpanjangan yang telah memiliki risiko lebih kecil dibandingkan wilayah kerja eksplorasi.

BUMD yang menjadi entitas bisnis bentukan pemda harus banyak memutar otak untuk dapat mengatasi kendala pemodalan ini. Kalaupun berharap menggunakan APBD sebagai sumber modal, perlu dipertimbangkan dari besaran maksimal yang bisa ditanggung setiap tahunnya dan kerentanan waktu cash call (permintaan dana) dari operator yang bisa berubah-ubah setiap waktu dan tidak bisa mengikuti waktu pengajuan dari APBD.

Perlu diingat juga, PERMEN ESDM No. 15 Tahun 2015 telah mengisyaratkan bahwa definisi BUMD yang ingin melakukan participating interest adalah badan usaha yang seluruh kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pemda. Dengan demikian, opsi untuk mendapatkan modal dari injeksi equity dari mitra juga telah ditutup. Artinya BUMD hanya bisa melakukan penambahan modal melalui skema pendanaan atau pembiayaan dari pihak lain. Skema ini pun masih memiliki syarat bahwa tidak boleh terjadi dilusi atau pengalihan PI yang dimiliki daerah kepada si pemberi pendanaan atau pembiayaan.

Pada akhirnya, kita memahami bahwa pemerintah kita saat ini sedang bergiat membenahi sektor migas menuju kedaulatan energi di negeri kita. Kedaulatan energi negeri tentu baru bisa tercapai jika kedaulatan energi daerah juga terlaksana. Partisipasi daerah dalam pengelolaan migas ini mengundang harapan besar di masa depan mengingat pada tahun 2017 sampai tahun 2021 ini ada banyak sekali wilayah kerja migas yang akan berakhir masa kontrak kerjasamanya.

Proses yang akan dijalani daerah di sektor migas dalam lima tahun ini akan mempengaruhi 20 tahun yang akan datang bagi kepentingan daerah itu sendiri. Saat ini, partisipasi daerah dalam pengelolaan migas berada pada dua sisi: Harapan dan Realita. Perlu ada upaya pemerintah pusat untuk dapat menjadikan ketentuan-ketentuan yang telah berlaku ini bisa berjalan pada tataran implementasi bukan hanya pada tataran kebijakan.

Oleh:
Ryan Alfian Noor

Strategi Pasca Kampus Ditengah Kelesuan Industri Migas

praying for oilfield“Harga Minyak Turun!” Mungkin isu inilah yang paling mewarnai -kalau tidak mau dikatakan mengguncang- jagat perminyakan di dunia saat ini. Berbagai efek domino mulai terjadi. Penurunan investasi pengeboran, merger perusahaan migas besar, pelucutan benefit perusahaan, atau yang paling parah adalah penggembosan jumlah karyawan.

Dalam dunia perkariran migas, saya rasa efek penurunan harga minyak ini akan memukul keras psikologi para lulusan baru, terlebih buat mahasiswa akhir yang akan memasuki fase baru didunia pasca kampus: Mencari Kerja. Bagaimana tidak? Perusahaan migas kini mulai mengencangkan ikat pinggang dengan efisiensi sana-sini, memperketat perekrutan karyawan baru, dan pemangkasan benefit tertentu yang mungkin pernah dirasakan oleh karyawan di middle up career level (karir pertengahan).

Tidak jarang juga saya menemukan pertanyaan di akun ask.fm saya yang berisi curhat calon lulusan baru menghadapi tantangan didunia migas saat ini. Memang saya tidak mudah memberikan jawaban yang memuaskan untuk para penanya. Tetapi the show must go on. Tiap generasi punya tantangannya. Ada beberapa strategi yang saya sarankan untu menghadapi situasi industri migas seperti saat ini.

  1. Tetap Tunjukan Prestasi Akademis Terbaik
    Acapkali ketika menghadapi situasi yang buruk, kebanyakan dari kita merasa bahwa situasi ini akan terjadi selamanya. Pemahaman seperti ini akan berlanjut dengan turunnya semangat kita untuk berprestasi dan bahkan menjalani aktivitas kuliah apa adanya. Hal ini akan membahayakan diri kita sendiri.
    Sebenarnya situasi harga minyak turun ini bersifat sementara. Memang kita tidak mengetahui kapan harga minyak akan berubah, tetapi banyak ekonom migas mengatakan harga minyak akan membaik. Dan apakah kita akan menyia-nyiakan waktu belajar kita padahal situasi ini akan berubah?
    Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak menunjukan prestasi akademik terbaik kita. Jangan kendorkan semangat untuk menjadi yang terbaik dikelas. Prestasi kita itu ibarat bekal karir kita didunia pasca kampus. Makin bagus prestasi kita, maka makin besar pula potensi karir cemerlang kita selepas lulus.
  2. Mengambil Kuliah Master
    Terbatasnya lowongan kerja migas saat ini, sebenarnya membuka peluang kita untuk mencoba -kalau tidak terpaksa- untuk mengambil kuliah Master. Beberapa kawan saya bahkan mengatakan, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengambil kuliah lagi sembari menunggu harga minyak kembali membaik.
    Sebenarnya, jika kita lihat orang-orang migas yang berkarir diluar negeri, kebanyakan bergelar master. Jika tidak percaya, cobalah lihat sendiri statistik di linkedin.com. Gelar master tidak hanya dibutuhkan seorang spesialis, tapi juga untuk orang-orang yang masuk ke level manajer.
    Saat ini banyak kampus didunia yang membuka beasiswa program studi tidak hanya terbatas pada teknik. Ada yang membuka program studi terkait dengan Ekonomi Migas, Bisnis Migas, bahkan dunia energi yang lebih umum. Ada banyak pilihan yang bisa kita ambil, untuk mempertajam keahlian kita.
  3. Mulai Berkarir di Perusahaan Migas “Lokal”
    Beberapa lulusan kampus ternama biasanya agak alergi untuk masuk kedalam perusahaan migas “lokal”. Maksud Lokal disini adalah perusahaan migas kecil-menengah, tidak dikenal namanya, dan bergaji kecil. Kebanyakan lulusan tersebut pasti membayangkan bisa masuk perusahaan migas yang bonafide termasuk beragam  fasilitasnya.
    Dalam situasi dunia migas saat ini, terkadang pilihan berkarir di Perusahaan Migas “Lokal” adalah opsi yang tidak buruk. Malahan, bisa jadi pilihan ini bukan pilihan yang bisa dipandang sebelah mata. Mengapa? Banyak perusahaan migas “lokal” yang tidak terpengaruh pada situasi global migas seperti saat ini. Jadi artinya, segala proses bisnisnya tetap berjalan lancar kendati harga migas terus turun. Tidak sedikit juga karyawan-karyawan disana juga mendapatkan benefit yang tidak kalah dengan benefit perusahaan migas besar.
    Diluar itu semua, sebenarnya berkarir di Perusahaan Migas “Lokal” juga memberi kesempatan kita untuk belajar berbagai macam hal yang tidak akan kita dapatkan diperusahaan besar. Kita bisa belajar dunia akuntansi migas, aset, HSE, SCM, SDM, dan dunia lainnya disamping bidang keahlian kita.
    Jika suatu saat kita pindah ke perusahaan yang lebih besar, maka saya yakin pengalaman tersebut akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan karir kita lebih cepat.
  4. Putar Haluan Karir
    Dari semua strategi yang saya berikan, mungkin ini yang paling ekstrim: Putar Haluan Karir. Buat yang tidak berani mencoba, mungkin jangan pernah melakukan hal ini. Tetapi buat orang yang berpikiran terbuka, mungkin hal ini bisa dicoba. Hehe.
    Jika kita melihat trend pekerjaan yang benefitnya setara dengan perminyakan, maka kita memutar haluan karir kita pada dunia konsultan, dunia tambang, atau dunia bank. Bahasan memutar haluan karir ini sendiri sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan passion diri kita. Buat saya, selama kita tetap senang dengan perubahan haluan karir kita, maka bisa dikatakan kita masih berada pada area passion kita. Tidak sedikit kawan-kawan saya yang sukses setelah memutar haluan karir mereka.
    Sebenarnya saya pun termasuk orang yang telah memutar haluan karir saya. Saya berusaha membangun perusahaan saya sendiri dan kembali kedaerah untuk membangun sektor energi daerah tersebut. Alhamdulillah, sampai saat ini saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya.
    Buat siapapun yang memutuskan memutar haluan karir, sebaiknya coba berkonsultasi dulu dengan beberapa kawan, orang tua, dan pasangan agar kita mendapatkan kesimpulan yang terbaik. Ada baiknya, saat memutar haluan karir kita juga memiliki seorang mentor. Mentor akan mengarahkan dan mendidik kita agar dapat terarah dengan baik dalam karir yang kita pilih.

 

Membangun Benua Saya, Benuo Taka

Waktu itu mungkin akan jadi momentum yang tidak akan saya lupakan. Saya berdiri dihadapan Bapak Yusran Aspar, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) dan Wakilnya untuk mempresentasikan ide-ide saya untuk mengembangkan lapangan migas disana. Mungkin momen presentasi itu bisa dikatakan proses fit and proper test secara tidak langsung untuk mencari kandidat pemimpin divisi usaha bidang migas dari BUMD daerah PPU. Saya masih ingat kata-kata Pak Yusran, “Kamu siap buat membangun daerah?”, tanpa ragu sedikitpun saya mengatakan “Insya Allah, saya siap Pak. Mohon dukungannya.”

Sejak dahulu saya punya cita-cita untuk punya kontribusi besar untuk negeri ini. Saya terinspirasi oleh kisah Erdogan sang Presiden Turki yang memulai kontribusi besarnya dari memimpin Istanbul. Lalu, kisah Ahmad Dinejad menjadi walikota Teheran dulu baru memimpin Iran. Atau cerita Vladimir Putin yang memulai karirnya sebagai Direktur Badan Intelejen Rusia sebelum menjadi Presiden Rusia. Dari inspirasi itu, akhirnya saya punya keyakinan bahwa prestasi besar adalah kumulasi dari prestasi-prestasi kecil yang konsisten. Untuk membangun negeri ini, kita harus berpikir besar dan memulainya dengan tindakan sekecil apapun. Inilah keputusan saya: membangun negeri ini dari daerah saya sendiri: Kalimantan Timur.

Dan babak baru kehidupan saya pun dimulai. Setelah saya resign dari salah satu perusahaan Multi National Company migas lama saya, cukup banyak kawan-kawan yang bertanya dan ada pula yang memandang sebelah mata keputusan dari saya. Rata-rata pertanyaannya seperti ini: kok bisa ya saya rela meninggalkan fasilitas kesehatan, fasilitas pembelian rumah, fasilitas bergengsi untuk bekerja di gedung yang tinggi, dan malah memilih sebuah perusahaan daerah yang notabene jauh dari fasilitas itu dan kental dengan ketidakprofesionalannya. Kok Bisa?

Sebenarnya tidak ada yang kurang dari perusahaan saya yang lama: Vico Indonesia. Tiga hal yang biasanya menjadi perhatian seseorang untuk menetap disebuah perusahaan: Lingkungan Kerja, Karir, dan Benefit, sudah saya dapatkan disana. Malahan saya benar-benar meras sangat bersyukur bisa kerja disana dengan berbagai pengalaman yang ada mulai dari field engineer, well intervention engineer, petroleum engineer, sampai facility enginer. Dan saya malah merekomendasikan pada para lulusan mula yang mau bekerja di industri migas memilih Vico Indonesia sebagai tempat kerja bagi mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan yang luas mengelola lapangan migas yang sudah mature dan tentu saja remunerasi yang tinggi ;). Namun kata-kata Steve Jobs terus mengaung ditelinga saya “Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition.”  Namun passion saya untuk membangun daerah dan merintis usaha sendiri tidak dapat saya elakkan lagi. Sejak tahun 2014 saya menjadi General Manager dari Perusda Benuo Taka (selanjutnya menjadi Direktur PT Benuo Taka Wailawi setelah spin off menjadi perseroan terbatas http://www.wailawi.com) bersama teman-teman lain disana.

Selama memimpin PT Benuo Taka Wailawi alhamdulillah ada banyak capaian yang belum pernah dicapai pada masa kepengurusan sebelumnya. Namun tidak dielakkan juga beberapa evaluasi saya dapatkan dari pemerintah daerah selaku pemegang saham maupun DPRD yang turut mengawasi kinerja perusahaan secara tidak langsung. Insya Allah perusahaan ini akan terus berbenah agar dapat mencapai tujuan utamanya tercapainya kemandirian energi daerah dan peningkatan pendapatan asli daerah. (cerita ini akan saya tuliskan pada kesempatan berikutnya).

Tak lupa pula saya ucapkan sebesar-besarnya pada Vico Indonesia beserta seluruh tim-tim yang telah bekerja sama dengan saya selama hampir 4 tahun kebelakang ini. Semoga Vico Indonesia bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Saya minta izin untuk membangun benua saya, Benuo Taka.